KABARIKA.ID, JAKARTA — Sektor peternakan memainkan peran krusial dalam penyediaan protein hewani serta menopang perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Namun, produktivitas dan kesehatan hewan ternak masih menghadapi tantangan besar akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, parasit, maupun faktor lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyakit-penyakit ini tidak hanya mengancam kesehatan hewan dan menurunkan produktivitas, tetapi juga berdampak pada keamanan pangan, kesejahteraan hewan, dan potensi kerugian ekonomi yang signifikan.
Seiring dengan berkembangnya riset di bidang kedokteran hewan dan bioteknologi, muncul berbagai pendekatan baru yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit ternak. Selain itu, pemahaman terhadap penyakit infeksius bakteri yang merugikan secara ekonomi pada unggas menjadi fokus strategis dalam menjaga kestabilan produksi dan industri perunggasan nasional.
Sebagai bentuk komitmen terhadap isu ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Veteriner – Organisasi Riset Kesehatan (ORK), menggelar Webinar Series Research Centre for Veterinary Science bertema “Penyakit Pada Hewan Ternak: Riset dan Pengendaliannya”, pada Senin (30/6).
Dalam sambutannya, Harimurti Nuradji, Kepala Pusat Riset Veteriner yang mewakili Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN menegaskan bahwa riset di bidang kesehatan hewan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan nasional dan mendukung perekonomian, terutama dalam konteks penyediaan pangan yang aman dan berkelanjutan. Webinar ini, menurutnya, menjadi salah satu wujud nyata kontribusi BRIN dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang kesehatan hewan.
Ia menjelaskan bahwa penyakit pada hewan ternak tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, kesejahteraan hewan, dan keberlanjutan sektor peternakan. Oleh karena itu, pendekatan riset yang bersifat multidisipliner dan kolaboratif sangat diperlukan, mencakup bidang mikrobiologi, parasitologi, sosial, hingga analisis dampak ekonomi.
Hari juga menekankan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan, terutama di tengah meningkatnya tantangan akibat perubahan iklim dan globalisasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan sistem riset yang terintegrasi dan responsif, serta didukung oleh penguatan kapasitas laboratorium, peningkatan kompetensi SDM, dan sinergi lintas sektor baik pemerintah, akademisi, maupun industri.
“Pemanfaatan hasil riset ke dalam bentuk kebijakan implementatif hanya bisa dilakukan jika didukung oleh data ilmiah yang kuat,” ujarnya. Ia juga mengajak semua pihak untuk memperkuat ekosistem riset dan regenerasi peneliti muda, serta membangun kerja sama lintas disiplin dalam mendukung pengendalian penyakit hewan di Indonesia.
“Pusat Riset Veteriner mendorong hilirisasi hasil riset dan peningkatan kapasitas serta kerja sama dalam kegiatan riset inovasi dan juga keberlanjutan ilmu pengetahuan dalam jangka panjang. Selain itu, hal ini juga merupakan upaya kita dalam memperkuat jejaring riset dan kolaborasi dalam pengendalian penyakit hewan ternak di Indonesia,” ungkapnya.
Salah satu materi dalam webinar disampaikan oleh Eddy Sukmawinata, Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Veteriner BRIN. Dalam paparannya berjudul “Bioprospeksi Bakteri Potensial sebagai Antimikroba”, ia menyoroti resistensi antimikroba menjadi salah satu tantangan besar kesehatan global. BRIN melalui Pusat Riset Veteriner terus mendorong bioprospeksi mikroba lingkungan sebagai sumber senyawa bioaktif baru yang berpotensi menjadi alternatif antibiotik.
Penelitian ini menekankan pentingnya eksplorasi mikroba dari berbagai sumber, seperti tanah, laut, pangan fermentasi tradisional, hingga hewan, untuk memperoleh metabolit sekunder yang memiliki sifat antimikroba. Salah satu temuan menjanjikan berasal dari Lactobacillus plantarum yang ditemukan dalam dadih, olahan susu tradisional. Mikroba ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen serta menurunkan indeks obesitas pada hewan uji.
Potensi lainnya juga ditemukan dari isolat bakteri endofitik Bacillus amyloliquefaciens asal jahe liar Pulau Enggano yang efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Meski menjanjikan, proses bioprospeksi ini menghadapi tantangan seperti ketergantungan pada kondisi lingkungan dan risiko resistensi silang.
Melalui pendekatan inovatif dan dukungan riset berkelanjutan, BRIN berupaya menjadikan mikroba lingkungan sebagai sumber terapi baru yang lebih aman dan berkelanjutan untuk masa depan kesehatan global.
Paparan berikutnya disampaikan oleh Riza Zainuddin Ahmad, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Veteriner, ORK BRIN, dengan judul “Mengenal Kembali Jamur sebagai Kontrol Biologi Parasit Cacing pada Hewan”, yang menyoroti potensi jamur sebagai agen pengendali biologis terhadap parasit cacing pada hewan.
Jamur atau cendawan terdiri dari dua kelompok utama, yaitu kapang dan khamir, yang dapat bersifat mikroskopik maupun makroskopik. Kapang tersusun atas banyak sel dengan fungsi yang beragam, sedangkan khamir merupakan mikroorganisme bersel tunggal yang mampu menjalankan berbagai aktivitas secara mandiri.
Riza menjelaskan bahwa cacing nematoda, seperti Haemonchus contortus, Ostertagia ostertagi, Trichostrongylus sp., dan Cooperia sp., sering menjadi masalah pada ruminansia karena dapat menyebabkan diare, anemia, penurunan berat badan, hingga kematian. Sementara itu, cacing trematoda seperti Schistosoma (cacing darah) dan Fasciola hepatica serta F. gigantica (cacing hati), juga menjadi ancaman serius karena menyerang organ vital dan menimbulkan kerusakan.
Dalam konteks pengendalian biologis, jamur digunakan bukan untuk memusnahkan parasit sepenuhnya, melainkan menekan populasinya agar tetap dalam batas aman. Kapang nematofagus dan trematofagus menjadi agen potensial dalam pengendalian ini.
Riza menekankan pentingnya kolaborasi antara pendekatan biologis, pengobatan tradisional, dan manajemen kesehatan hewan dalam menciptakan sistem pengendalian yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat serta pemerintah.
Sementara itu, Wasito, Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Veteriner ORK BRIN, menyampaikan paparannya “Persepsi Fasciolosis pada hewan Qurban di Deli Serdang”. Ia mengungkap temuan infeksi Fasciola atau cacing hati pada hewan qurban yang disembelih di wilayah Deli Serdang dan sekitarnya. Fasciolosis merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menular ke manusia dan menyerang organ hati.
Studi dilakukan dalam dua tahap, yakni pada Juni 2023 dan 2025, mencakup pemeriksaan ante dan post mortem di beberapa kecamatan serta rumah potong hewan di Deli Serdang dan Medan. Hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi Fasciola dalam kategori ringan hingga berat, dengan prevalensi tinggi pada ternak milik masyarakat yang digembalakan di lahan pertanian atau perkebunan.
Sementara itu, infeksi Paramphistomum (cacing porang) ditemukan di babat, namun tidak menimbulkan kekhawatiran seperti halnya cacing hati. Sayangnya, pemahaman masyarakat dan panitia qurban terkait risiko zoonosis dari Fasciola masih rendah.
Peneliti menekankan pentingnya edukasi dan skrining kesehatan hewan secara rutin. Pendekatan melalui pengelolaan pertanian terpadu dan pendidikan keluarga juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini, terutama pada momen penyembelihan hewan qurban yang berpotensi menjadi sarana pembelajaran kesehatan masyarakat.
Menutup sesi webinar, Ima Fauziah, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Veteriner BRIN, menyoroti penyakit Infectious coryza (snot) yang disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan atas pada unggas seperti ayam petelur, pedaging, puyuh, hingga kalkun. Meskipun tingkat kematian rendah, tingkat penularannya tinggi dan menimbulkan kerugian ekonomi, seperti penurunan produksi telur, berat badan, serta peningkatan biaya pengobatan.
Dalam penelitiannya, Ima mengkaji 30 sampel ayam petelur dari empat kabupaten di Yogyakarta. Hasilnya, 24 isolat teridentifikasi positif Avibacterium paragallinarum melalui uji biokimia dan PCR HPG-2. Hemaglutinin (HA) diketahui menjadi salah satu faktor virulensi utama karena perannya dalam proses penempelan bakteri dan kemampuannya sebagai antigen pelindung.
Pengujian sensitivitas terhadap 12 jenis antibiotik menunjukkan sebagian besar isolat masih sensitif terhadap amoksisilin, ampisilin, dan siprofloksasin. Namun, resistensi tinggi ditemukan terhadap eritromisin, tetrasiklin, dan streptomisin.
Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penggunaan antibiotik yang tepat, disertai penerapan biosekuriti dan manajemen pemeliharaan unggas yang baik, untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran snot di industri perunggasan.
Melalui rangkaian webinar ini, BRIN terus mendorong penguatan riset dan jejaring kolaborasi dalam pengendalian penyakit hewan ternak. Upaya ini diharapkan dapat mendukung terciptanya sistem pangan nasional yang sehat, aman, dan berkelanjutan, serta memastikan bahwa setiap kebijakan dan tindakan pengendalian berbasis pada data ilmiah dan hasil penelitian. (*)
