KABARIKA.ID, JAKARTA — Sekolah rakyat diminta tidak melupakan mengajarkan kearifan lokal. Anak-anak yang menempuh pendidikan di sekolah ini perlu dibekali bukan hanya pengetahuan formal, tetapi juga kemampuan vokasional sesuai dengan kondisi wilayah tempat mereka tinggal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang dirusak. Kalimat itu adalah kalimat sakral. Peribahasa Sunda yang berasal dari Suku Baduy tersebut bermakna gunung tidak boleh dihancurkan dan lembah tidak boleh dirusak.

Pesan luhur ini mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam dan keselarasan hidup manusia dengan lingkungan sekitar.

Filosofi tersebut juga mencakup prinsip menjaga keseimbangan serta melestarikan adat istiadat yang sudah diwariskan turun-temurun.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina mengatakan muatan nilai-nilai kearifan lokal harus masuk dalam kurikulum Sekolah Rakyat. Hal tersebut ditujukan agar pendidikan yang diberikan tidak seragam pada satu daerah dengan daerah lain.

“Maka dengan kearifan lokal yang disampaikan oleh Pak Hasbi, harus ada perbedaan dengan kabupaten/kota dan provinsi lainnya. Saya titip saja kepada Pak Hasbi, ini tidak dimiliki oleh provinsi lain. Cuman ada di Lebak,” katanya dikutip pada Jumat (12/9/2025).

Ia menambahkan, penerapan muatan lokal harus dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang selama ini dijaga masyarakat Lebak, khususnya masyarakat adat Baduy.

Upaya ini juga membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah dan Kementerian Sosial.

“Tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sudah dipertahankan oleh masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebak, dan tentu Pak Bupati maupun pemprov Banten harus juga melakukan upaya kolaborasi dengan Kementerian Sosial meng-adopt muatan lokal tadi dalam kurikulum yang akan ditetapkan di sekolah rakyat nanti,” ujarnya. (*)