BANDAR LAMPUNG–Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Sesdit), Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si memaparkan program yang memungkinkan percepatan pencapaian swasembada pangan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Taufiq Ratule yang juga penanggungjawab Program Luas Tambah Tanam (LTT) dan swasembada Provinsi Lampung menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan BEM Politeknik Negeri Lampung, Kamis,16 Oktober 2025.
Persoalan pangan adalah masalah penting karena kekurangan pangan khususnya beras akan menyusahkan. Bahkan tidak bisa tidur.
“Kalau kelaparan kita akan kesulitan tidur, bisa menimbulkan persoalan sosial bahkan persoalan politik,” ungkapnya.
Itu sebanya, pangan ini harga mati. Pangan harus cukup. Kalau yang lain kuràng masih bisa diatasi atau ditunda. “Kita harus swasembada pangan, seperti keinginan Presiden Prabowo Subianto, swasembada sesingkat-singkatnya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Kementerian Pertanian, Kemenko Pangan, Gubernur dan berbagai stake holder telah bekerja secara bersama menjamin ketersediaan pangan.
Untuk itu Kementerian Pertanian melakukan program yang diberi nama Solusi Cepat, dengan memperbanyak pompanisasi, penggunaan benih unggul, optimalisasi lahan, cetak sawah dan penyederhanaan birokrasi distribusi pupuk,” kata Taufiq.
Ia memberi contoh pupuk yang volumenya bertambah dua kali lipat dari 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton, yang dulu dsitribunya lambat karena proses bertele-tele dan berbelit, sekarang penebusannya dipermudah dan bisa menggunakan KTP, yang penting tercatat dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
“Dulu pupuk selalu bermasalah. Setiap ke lapangan keluhan petani kurang pupuk, sulit menebus pupuk subsidi. Sekarang dipermudah, hanya tiga yakni Kementan, PT. Pupuk Indonesia lalu titik serah. Boleh Gapoktan, Poktan danpetani,” katanya.
Dari ratusan aturaan sekarang tinggal tiga kementan, PT pupuk lalu ke titik serah. Kelompok Tani, Gapoktan atau petani.
“Untuk swasembada pangan Kementan melakukan pengawalan sejak di hulu hingga di hilir, sehingga koordinasi dengan berbagai pihak menjadi mudah dalam satu komando,” katanya.
Taufiq menjelaskan bahwa swasembada pangan juga diperkuat dengan peningkatan indeks pertanaman (IP) dari satu kali jadi dua kali atau tiga kali panen pertahun.
“Kementan juga melakukan optimalisasi lahan, cetak sawah sekira 3 juta hektar, revitalisasi sistem irigasi, pelibatan petani milenial, brigade pangan, dan transformasi pertanian tradisional ke modern,” katanya.
Hasil dari semua terobosan yang dilakukan menunjukkan produksi beras nasional tahun 2025 melonjak signifikan dan mendekati proyeksi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA).
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62% dibanding periode yang sama 2024 (29,47) juta ton).
Data terbaru dari BPS ini semakin mendekatkan capaian produksi Indonesia dengan prediksi yang dikeluarkan baik oleh FAO maupun USDA.
USDA menyebutkan bahwa produksi beras Indonesia diperkirakan akan mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini. Sementara FAO memprediksi beras Indonesia akan mencapai 35,6 juta ton pada masa tanam 2025/2026.
Selain Taufik Ratule, aradumber lain dalam seminar nasional ini masing-masing Prof Dr Fitriani (Politeknik Neneri Lampung, S.P, M.E.P, Dr. Ir Sugeng Santoso, M.T, QRGP, CGRE dari Menko Pangan, Bani Ispriyanto, M.M dan Pemuda Tani.
Hadir dari Kementan, Kepala BRMP Lampung, Endro Gunawan, Suwardi Thahir (Tenaga Ahli), dan Adi Destriadi dari Bapeltan Lampung.
