KABARIKA.ID, MAKASSAR – Persaingan memperebutkan kursi Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) periode 2026-2030 semakin memanas dengan dinamika sejarah yang menguat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu kandidat yang paling banyak menyita perhatian adalah Prof. Dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed, Direktur Sekolah Pascasarjana UNHAS.
Pilrek kali ini menjadi ajang “tarung” kedua baginya melawan Rektor petahana, Prof. Jamaluddin Jompa, setelah pada pemilihan sebelumnya ia harus kalah tipis di babak tiga besar meski sempat unggul dalam dukungan Senat Akademik.
Pada Pilrek periode sebelumnya, Prof. Budu dikenal sebagai kandidat kuat yang berhasil meraih dukungan signifikan di tingkat Senat Akademik.
Namun, dalam proses akhir penentuan oleh Majelis Wali Amanat (MWA), posisinya tergeser dan harus puas berada di luar tiga besar. Kekalahan tipis ini membuat rivalitasnya dengan Prof. Jamaluddin Jompa semakin menarik untuk diikuti pada Pilrek 2026-2030 ini.
Banyak pengamat internal kampus yang mempertanyakan apakah Prof. Budu dapat mempertahankan momentum dan belajar dari kegagalan sebelumnya, ataukah sejarah akan terulang.
Sebagai kandidat yang telah matang memahami dinamika kampus, Prof. Budu datang dengan visi yang terstruktur dalam lima pilar utama:
1. UNHAS Berkarakter: Fokus pada pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing internasional.
2. UNHAS Berdampak: Program penguatan fungsi universitas untuk dampak sosial yang nyata.
3. UNHAS Mengglobal: Komitmen mengembangkan UNHAS sebagai global university.
4. UNHAS Berwirausaha: Inovasi pengembangan sociopreneurship university yang mendorong jiwa kewirausahaan sosial.
5. UNHAS Menata: Penataan tata kelola organisasi dan kampus modern yang ramah lingkungan.
Visi ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan aspek akademik, sosial, entrepreneurship, dan tata kelola dalam satu paket lengkap.
Pilrek Unhas 2026-2030 ini diwarnai persaingan ketat tidak hanya antara Prof. Budu dan petahana. Kandidat lain seperti Dr. Marhaen Hardjo dari FK Unhas dan kandidat kuat lainnya juga telah memaparkan visi misi mereka.
Namun, rivalitas lama antara Prof. Budu dan Prof. Jamaluddin Jompa tetap menjadi sorotan utama, terutama mengingat sejarah pilrek sebelumnya yang berlangsung sengit dan berakhir dengan selisih tipis.
Pertarungan ini akan kembali ditentukan melalui dua tahap krusial. Pertama, pemungutan suara di Senat Akademik yang akan memilih tiga nama dari enam kandidat.
Kedua, tahap penentuan akhir oleh MWA. Bagi Prof. Budu, tantangannya adalah tidak hanya memenangkan dukungan Senat Akademik seperti sebelumnya, tetapi juga meyakinkan MWA untuk membawanya menjadi rektor terpilih.
Semua pihak kini menunggu momen penetapan tiga kandidat terbaik pada Senin (3/11/2025) mendatang. Apakah Prof. Budu akan membalaskan kekalahannya? Ataukah petahana akan kembali memenangkan pertarungan, hanya waktu yang akan menjawab. (*)
