KABARIKA.ID, JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) mempercepat rencana modernisasi pabrik-pabrik pupuk tua sebagai strategi utama meningkatkan efisiensi produksi nasional. Program revitalisasi ini sejalan dengan dorongan pemerintah agar industri pupuk mampu menekan pemborosan energi dan beroperasi setara standar global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menjelaskan bahwa perusahaan tengah menyiapkan tujuh proyek besar hingga 2029, termasuk pembaruan pabrik usang dan pengembangan fasilitas hilirisasi. Fokus utamanya adalah menurunkan rasio konsumsi energi agar mendekati standar dunia, yakni sekitar 24 MMBTU per ton.

“Kami ingin memastikan penggunaan energi di seluruh lini Pupuk Indonesia Group efisien dan kompetitif secara global,” ujar Yehezkiel di Karawang, Selasa (11/11/2025).

Saat ini, dua proyek revitalisasi besar sedang berjalan: revamping pabrik tertua Pupuk Kaltim dan pembangunan Pusri IIIB yang menggantikan Pusri III dan IV. Proyek Pusri IIIB yang dimulai pada Desember 2023 ditargetkan rampung dalam 40 bulan dan beroperasi penuh pada 2027.
Selain revitalisasi, Pupuk Indonesia juga memulai proyek hilirisasi seperti pembangunan pabrik soda ash di Pupuk Kaltim untuk memperkuat industri turunan kimia dalam negeri.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengungkapkan bahwa total investasi revitalisasi mencapai Rp116 triliun. Dana tersebut digunakan untuk mengganti pabrik-pabrik lama yang sudah beroperasi sejak 1950–1980-an, termasuk Pusri, Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Iskandar Muda.

Menurut Rahmad, modernisasi diperlukan untuk menghemat energi, menekan emisi, dan memastikan subsidi pupuk lebih tepat guna. Selain revitalisasi, perusahaan juga menyiapkan pembangunan pabrik baru di Fakfak, Papua Barat, guna memperkuat pasokan nasional. (*)