KABARIKA.ID, ACEH – Menyusul kunjungan dan rapat terbatas Presiden Prabowo Subianto di lokasi bencana, terungkap fakta kritis, sekitar 1 juta pengungsi banjir dan longsor di Sumatra Utara, Barat, dan Aceh menghadapi ancaman wabah penyakit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara kebutuhan mendesak mencapai 300 dokter, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) bersiap memberangkatkan 80 dokter umum sebagai respons awal.

Kelangkaan air bersih, makanan bergizi, dan lingkungan yang tercemar pascabanjir memicu potensi wabah penyakit yang sangat besar.
Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Lanud Iskandar Muda, Aceh, pada Minggu (7/12/2025), Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan keadaan darurat di lapangan.
“Beberapa wilayah terdampak membutuhkan sekitar 300 orang dokter untuk masa pemulihan, hingga layanan kesehatan dasar beroperasi normal,” ujarnya.
Kendala akses jalan yang terputus juga membuat sejumlah wilayah masih terisolir dan belum mendapat bantuan.
Merespons kondisi kritis ini, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) menggelar aksi nyata. Organisasi profesi itu bersiap memberangkatkan sekitar 80 dokter umum anggotanya secara bertahap ke daerah bencana.
Ketua Bidang Litbang PDUI, dr. Halik Malik, MKM, yang juga relawan kesehata KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) yang baru kembali dari misi asesmen di Aceh, menyatakan kesiapan tersebut.
“Kami akan segera rapat pembentukan Satgas Dokter Umum Peduli. Dalam beberapa hari ke depan, kami akan melepas gelombang pertama dokter umum untuk bertolak ke daerah terdampak,” kata Halik dalam rilisnya, dikutip Rabu (10/12/2025).
Pengiriman tenaga medis ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif penanggulangan bencana, setelah PDUI turut serta dalam rapat bersama Presiden dan gubernur.
Aksi ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan mendesak sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam percepatan pemulihan, khususnya di sektor infrastruktur dan kesehatan.
Namun, langkah awal ini masih menghadapi tantangan besar. Jumlah dokter yang siap diterjunkan baru mencapai seperempat dari total kebutuhan 300 orang seperti yang disampaikan Gubernur Aceh, mengindikasikan perlunya dukungan dan kontribusi lebih banyak lagi dari berbagai lembaga dan organisasi kesehatan lainnya. (*)
