KABARIKA.ID, BULUKUMBA — Tidak sekadar menanam pohon, aksi penghijauan di destinasi primadona Sulawesi Selatan, Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, dirancang untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan teduh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebanyak 3.000 bibit tanaman, mulai dari pohon buah seperti rambutan dan jambu kristal hingga tabebuya yang dijuluki Sakura Indonesia, ditanam dalam sebuah aksi sosial yang juga menjadi ajang reuni akbar alumni pertanian.

Inisiatif ini bertujuan menjadikan Bira tidak hanya indah secara panorama pantai, tetapi juga sebagai destinasi agrowisata yang lebih hijau, sejuk, dan berkelanjutan.

Upaya konkret untuk melestarikan dan meningkatkan kualitas Tanjung Bira sebagai ikon pariwisata Sulawesi Selatan kembali dilakukan. Kali ini, Teman Kuliah Pertanian (TKP) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Minggu (14/12/2025).

Aksi sosial yang mengusung tema penghijauan dan konservasi ini tidak biasa. Selain menanam pohon pelindung seperti tabebuya, kegiatan ini juga menyertakan beragam bibit buah multiguna. Rinciannya adalah 1.000 pohon rambutan, 1.000 jambu kristal, dan 500 jeruk nipis.

Sebanyak 500 pohon tabebuya (sering disebut Sakura Indonesia) ditanam untuk mempercantik lanskap dan menambah daya tarik visual.

Ilham Arief Sirajuddin (IAS), pembina TKP Universitas Hasanuddin (UNHAS), sekaligus Ketua Ikatan Alumni Pertanian UNHAS, menjelaskan motivasi di balik aksi ini.

“Bira adalah destinasi wisata yang sangat luar biasa. Namun, dari sudut pandang kami yang konsen di bidang pertanian, masih ada yang kurang, yakni penghijauannya. Kami ingin berkontribusi agar Bira ke depan semakin hijau, sejuk, dan maju,” jelas IAS di sela kegiatan.

Ia menegaskan, kehadiran pohon-pohon buah ini diharapkan tidak hanya menyediakan keteduhan, tetapi juga dapat menjadi nilai tambah bagi wisatawan dan masyarakat sekitar di masa datang.

Karena Tanjung Bira di Bulukumba secara konsisten disebut sebagai destinasi utama dan primadona pariwisata Sulawesi Selatan. Keindahan pantai pasir putihnya yang bersih, air lautnya yang jernih, pemandangan matahari terbenam yang memukau, serta aktivitas menarik seperti snorkeling, diving, dan melihat pembuatan kapal Pinisi tradisional.

Daya tariknya yang kuat menjadikannya sebagai ikon pariwisata Sulsel yang mampu menarik wisatawan domestik dan mancanegara serta menjadi pendorong ekonomi lokal.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat dan alumni, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba Andi Herfida Muchtar (yang juga anggota TKP), Kadis DLHK Emil Yusri, serta Sekretaris Disparpora Andi Rukmini.

Herfida mengungkapkan, selain sebagai bentuk kepedulian lingkungan, acara ini juga menjadi momen reuni yang mengharukan bagi para alumni.

“Bagi saya, kedatangan Pak IAS dan teman-teman TKP ini adalah reuni. Luar biasa, TKP keren dan Pak IAS hebat,” ujar istri Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf (Andi Utta) itu.

Ahmad Syukri, ketua panitia kegiatan, memberikan penjelasan lebih detail mengenai jenis tanaman. “Tidak hanya tanaman pelindung dan buah-buahan (MPTS/Multi Purpose Tree Species), tapi juga ada tanaman farmakologi seperti daun salam. Jadi, kegiatan kami rutin dan komprehensif,” paparnya.

Menurutnya, program seperti ini adalah bentuk konsistensi mereka dalam konservasi dan ketahanan pangan. Ini juga bisa diadopsi dan diperluas, mendukung kebijakan hijau pemerintah daerah,”

“Kami ingin memberi sumbangsih sekaligus menjadi motivator dan model untuk daerah-daerah lain. Tahun lalu di Malino (Gowa), rencananya tahun depan di Jeneponto,” jelasnya mengenai program reguler TKP-IKA Pertanian ini. (*)