KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk masa jabatan 2026–2030 dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses pemilihan digelar melalui rapat paripurna Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas yang berlangsung di Kampus Unhas Jakarta, Jalan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.
Sebanyak 17 anggota MWA yang memiliki hak suara akan menentukan figur yang akan memimpin salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan Indonesia Timur tersebut.
Berbeda dengan mekanisme debat terbuka, tahapan akhir pemilihan rektor kali ini berlangsung ringkas.
Tiga calon rektor masing-masing hanya diberi waktu lima menit untuk memaparkan kertas kerja, visi kepemimpinan, serta program unggulan di hadapan MWA sebelum pemungutan suara dilakukan.
Salah satu kandidat, Prof Jamaluddin Jompa, menilai durasi singkat tersebut justru menjadi ruang refleksi yang menentukan.
Sebagai rektor petahana, ia akan menekankan capaian kepemimpinan sebelumnya serta agenda keberlanjutan yang akan dijalankan ke depan.
Dalam proses penjaringan di tingkat senat akademik pada November lalu, Jamaluddin memperoleh dukungan mayoritas dengan 74 suara.
Sementara dua kandidat lainnya, Prof Budu dan Prof Sukardi Weda, masing-masing meraih 18 suara dan satu suara.
Meski demikian, Jamaluddin menegaskan bahwa hasil penjaringan senat tidak menjadi faktor penentu dalam pemilihan di tingkat MWA. Ketiga calon memiliki posisi yang setara.
“Saya tidak menargetkan jumlah suara tertentu. Saya menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme yang berjalan secara demokratis dan profesional,” ujar Jamaluddin, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, waktu lima menit di hadapan MWA akan dimanfaatkan untuk memaparkan capaian strategis selama masa kepemimpinannya sekaligus menawarkan terobosan guna mempercepat pencapaian indikator kinerja utama yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Bagi Jamaluddin, pemilihan rektor merupakan proses rutin institusional. Siapa pun yang terpilih, kata dia, harus saling mendukung demi menjaga soliditas kampus.
“Unhas harus tetap utuh, kuat, bermartabat, dan tidak terpecah,” tegasnya.
Momentum lima menit tersebut juga menjadi ajang pembuktian bagi Prof Sukardi Weda. Guru besar Universitas Negeri Makassar ini mencuri perhatian sejak awal proses seleksi.
Meski hanya mengantongi satu suara di tingkat senat akademik, ia berhasil melaju ke tiga besar calon rektor Unhas dan bersaing dengan dua figur lainnya.
