KABARIKA.ID, MAKASSAR — Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur resmi mengoperasikan kembali Ammonia Pabrik-2 di Bontang, Kalimantan Timur, usai menjalani proses revamping.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat keberlanjutan industri pupuk nasional.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa Ammonia Pabrik-2 merupakan fasilitas produksi tertua milik Pupuk Kaltim yang mulai beroperasi sejak 29 Oktober 1984. Setelah lebih dari empat dekade beroperasi, pabrik tersebut kini memasuki babak baru melalui proses peremajaan yang diresmikan pada 29 Januari 2026.
“Revamping ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kinerja operasional, tetapi juga memiliki nilai sejarah penting bagi perjalanan industri pupuk nasional,” ujar Rahmad saat peresmian di kawasan Pupuk Kaltim, Kamis (29/1/2026).
Ia menambahkan, Ammonia Pabrik-2 menjadi saksi dua momentum besar ketahanan pangan nasional. Saat pertama kali dioperasikan, Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan, dan saat revitalisasi dilakukan, pemerintah kembali mengumumkan capaian serupa.
Melalui modernisasi teknologi, pabrik ini kini mampu beroperasi lebih efisien, ramah lingkungan, dan kompetitif. Rahmad menyebut, hasil revamping memungkinkan penghematan biaya operasional hingga Rp200 miliar per tahun, serta menurunkan emisi karbon sekitar 110 ribu ton CO₂ per tahun.
“Selain lebih hijau, proyek ini juga memberikan dampak ekonomi lokal karena dikerjakan kontraktor dalam negeri dan melibatkan 79 tenaga kerja lokal,” jelasnya.
Target Revitalisasi Industri Pupuk
Dalam kesempatan tersebut, Rahmad menegaskan komitmen Pupuk Indonesia untuk merevitalisasi industri pupuk nasional melalui program modernisasi dan pembangunan tujuh fasilitas strategis dalam lima tahun ke depan.
Beberapa proyek yang masuk dalam agenda tersebut antara lain revitalisasi Pusri 3B yang ditargetkan beroperasi pada 2026, pembangunan pabrik NPK Nitrat di Petrokimia Gresik pada 2027, hingga pengembangan Kawasan Industri Pupuk Fakfak yang direncanakan beroperasi pada 2030.
“Revamping Ammonia Pabrik-2 merupakan bagian dari tujuh komitmen utama yang telah disepakati dengan pemerintah. Ke depan, akan ada pabrik yang diresmikan sekaligus proyek baru yang mulai dibangun,” kata Rahmad.
Sebagai informasi, Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kaltim memiliki kapasitas produksi 595 ribu ton amonia per tahun dan 570 ribu ton urea per tahun. Proses peremajaan mencakup pembaruan teknologi pada shift converter, ammonia converter, dan sistem pemisahan CO₂, serta penerapan otomatisasi berbasis Distributed Control System (DCS) untuk meningkatkan keandalan operasi.
Peresmian proyek ini turut dihadiri sejumlah pejabat nasional dan daerah, antara lain Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, bersama jajaran pemangku kepentingan lainnya. (*)
