KABARIKA.ID, MAKASSAR – Penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, dilakukan dengan pemantauan hilal di Sulawesi Selatan di Observatorium Universitas Hasanuddin Makassar, Selasa (17/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan pengamatan ru’yatul hilal yang dilakukan di 96 titik seluruh Indonesia, termasuk satu titik di Sulsel, posisi bulan baru (hilal) saat matahari terbenam, sore ini, dilaporkan masih berada di bawah kriteria visibilitas yang disepakati.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan Ali Yafid, dalam keterangannya usai pemantauan di Universitas Muhammadiyah Makassar, mengungkapkan data dari BMKG.

“Pada saat terbenam matahari jam 18.23 WITA, posisi tinggi bulan berada di minus satu derajat. Sementara kriteria imkan ru’yat yang umum digunakan mensyaratkan tinggi bulan minimal 3,0 derajat. Demikian pula dengan sudut elongasi yang tercatat 6,4 derajat, juga belum memenuhi syarat,” jelasnya.

Data yang sama juga diperkuat oleh hasil perhitungan Badan Hisab Ru’yat Sulawesi Selatan yang menunjukkan posisi bulan berada di minus satu derajat pada jam 18.24 WITA.

Meskipun secara ilmiah kondisi ini menyulitkan untuk dilakukannya ru’yat, Tim Hisab Ru’yat Wilayah tetap menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada Pemerintah Pusat melalui sidang isbat yang akan digelar malam ini.

“Kalau dari hasil perhitungan Badan Hisab Ru’yat Sulsel, kami sudah bisa menyimpulkan bahwa 1 Ramadan kemungkinan besar jatuh pada tanggal 19 Februari. Namun, untuk kepastiannya, kita serahkan dan ikuti hasil sidang isbat pemerintah pusat nanti malam,” ujarnya.

Pemantauan hilal merupakan kolaborasi peserta dari berbagai unsur hadir, termasuk perwakilan Ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), akademisi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Islam Makassar (UIM), serta UIN Alauddin.

“Kita sangat bersyukur dengan kolaborasi ini. Muhammadiyah pun dengan perhitungannya sendiri mengonfirmasi posisi bulan yang sama, yakni minus satu derajat. Ini bukan soal di mana tempatnya, tapi kualitas pengamatan bersama yang kita utamakan,” tambahnya.

Menghadapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadan yang kerap terjadi, Kemenag Sulsel mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan saling menghormati.

“Yang terpenting, jika nanti ada perbedaan, sampaikan kepada masyarakat dengan alasannya. Yang berpuasa tanggal 18 karena yakin dengan perhitungan ormasnya, silakan. Yang menunggu dan akan berpuasa tanggal 19 berdasarkan keputusan pemerintah, itu juga kewajiban kita untuk mengikutinya. Dengan saling memahami, perbedaan ini akan terasa adem dan tidak memecah belah umat,” pesannya. (*)