KABARIKA.ID, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan kesiapan menjaga ketersediaan pupuk nasional di tengah tekanan rantai pasok global yang kian meningkat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menopang stabilitas pasokan dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Utama Rahmad Pribadi menyampaikan bahwa kondisi geopolitik global, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, turut berdampak pada distribusi pupuk internasional.
Situasi ini, menurutnya, membuat upaya peningkatan produksi menjadi semakin penting.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki daya tahan yang relatif kuat berkat kapasitas produksi pupuk yang mencapai 14,8 juta ton per tahun, dengan kontribusi urea sebesar 9,4 juta ton.
Dukungan sumber daya dalam negeri menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas pasokan.
Memasuki usia ke-14, Pupuk Indonesia terus melakukan transformasi menyeluruh, mulai dari pembenahan sistem subsidi, perbaikan tata kelola distribusi, hingga penguatan struktur keuangan perusahaan.
Perubahan skema subsidi dari pendekatan biaya (cost plus) menjadi berbasis pasar atau market-based mechanism (MtM), ditambah dengan sistem pembayaran subsidi di muka, dinilai memberikan ruang fleksibilitas keuangan yang lebih besar bagi perusahaan.
Menurut Rahmad, langkah tersebut memungkinkan perusahaan menjaga kesinambungan pasokan bahan baku sekaligus mempercepat program revitalisasi industri pupuk nasional.
Dalam rencana jangka menengah, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan serta revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan guna meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.
Transformasi yang dijalankan juga mulai menunjukkan hasil di sektor pertanian.
Penyaluran pupuk bersubsidi berhasil dilakukan tepat waktu sejak awal tahun selama dua tahun berturut-turut.
Selain itu, pemerintah juga menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20 persen pada 2025.
Dampaknya, penyerapan pupuk subsidi pada kuartal I 2026 meningkat signifikan sebesar 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rahmad menegaskan, berbagai langkah transformasi ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat kinerja korporasi, tetapi juga memastikan peran strategis perusahaan dalam menjaga ketahanan pangan nasional tetap optimal. (*)
