KABARIKA.ID-JAKARTA, Meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, kini mulai memberikan dampak nyata terhadap dunia usaha, termasuk sektor konstruksi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Isu ini menjadi fokus utama dalam kegiatan Nindya Oriented Briefing and Eager Learning (NOBEL) yang digelar oleh PT Nindya Karya pada Kamis (16/04) di Aula Serbaguna Lantai 9 Gedung Nindya. Mengusung tema “Dinamika Geopolitik Global & Transformasi Strategi Bisnis Konstruksi Nasional”, acara tersebut dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh seluruh karyawan, baik secara langsung maupun daring.

Dalam sambutan pembukaannya, Direktur Utama PT Nindya Karya, Firmansyah, menekankan bahwa dunia usaha saat ini menghadapi perubahan yang sangat cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, kemampuan dalam membaca arah perubahan menjadi kunci dalam memenangkan persaingan.

Ia menyampaikan bahwa forum ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai dampak dinamika global terhadap industri konstruksi, sekaligus memperkuat perspektif strategis dalam menghadapi tekanan biaya, risiko operasional, serta tantangan pelaksanaan proyek. Ia juga berharap diskusi tersebut mampu menghasilkan gagasan yang tajam, relevan, dan aplikatif.

Pada sesi pertama, DR Rima Prima Artha menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. Salah satu faktor utama adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur penting yang selama ini dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia. Bahkan, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut sempat menurun drastis hingga hampir terhenti, sehingga menimbulkan tekanan besar pada rantai pasok global.

Dampak langsung dari kondisi tersebut terlihat dari lonjakan harga minyak Brent yang mencapai USD 108 per barel, dengan potensi meningkat hingga USD 150 per barel jika konflik terus berlanjut. Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp16.983 per dolar AS, sementara biaya pembiayaan sektor konstruksi ikut meningkat akibat kenaikan yield obligasi negara.

Tekanan ini turut memengaruhi prospek ekonomi global. IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen, sementara inflasi global meningkat menjadi 4,4 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik telah menghambat proses pemulihan ekonomi global dan meningkatkan risiko perlambatan hingga potensi resesi.

Bagi industri konstruksi, dampaknya terasa signifikan melalui kenaikan harga material utama. Aspal mengalami lonjakan tertinggi hingga 36 persen, disusul kenaikan harga solar lebih dari 12 persen serta peningkatan harga besi beton. Kenaikan ini tidak hanya menekan margin keuntungan, tetapi juga meningkatkan risiko dalam pelaksanaan proyek yang sedang berjalan.

Selain itu, biaya logistik juga meningkat akibat naiknya tarif pengiriman dan premi asuransi risiko perang. Biaya pengangkutan impor Indonesia bahkan diperkirakan melonjak antara 50 hingga 100 persen, yang semakin memperberat tekanan terhadap perekonomian.

Dalam konteks nasional, kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika harga minyak mencapai USD 100 per barel, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan turun hingga sekitar 4,88 persen, disertai peningkatan inflasi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa dampak konflik global tidak hanya bersifat eksternal, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri.

Menanggapi tantangan tersebut, Firmansyah pada sesi kedua menjelaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain mengamankan pasokan material, meningkatkan efisiensi operasional, serta menyesuaikan kontrak proyek agar tetap relevan dengan kondisi pasar.

Selain itu, mitigasi risiko dilakukan melalui pengelolaan keuangan yang lebih hati-hati, penggunaan instrumen lindung nilai terhadap fluktuasi mata uang, serta renegosiasi skema pembiayaan. Perusahaan juga terus mendorong inovasi melalui digitalisasi proses konstruksi dan memperkuat kerja sama dengan mitra lokal guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan rantai pasok.

Di tengah tekanan yang ada, peluang tetap terbuka bagi industri konstruksi, terutama melalui percepatan proyek energi terbarukan dan peningkatan efisiensi sebagai keunggulan baru. Namun, tantangan seperti kenaikan harga material, ketidakpastian proyek baru, serta potensi penyesuaian anggaran pemerintah tetap perlu diantisipasi secara serius.

Firmansyah juga menegaskan bahwa ketahanan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Sikap adaptif, produktif, kolaboratif, dan berintegritas menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika global yang terus berkembang.

Melalui forum NOBEL, PT Nindya Karya menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga menjadikan situasi ini sebagai peluang untuk tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan.