KABARIKA.ID, JAKARTA – Pupuk kandang menjadi salah satu pupuk organik yang banyak dimanfaatkan petani dan pekebun untuk meningkatkan kesuburan tanah. Selain mudah dibuat, pupuk ini juga ramah lingkungan karena berasal dari limbah peternakan dan bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada dasarnya, bahan utama pembuatan pupuk kandang adalah kotoran hewan yang telah mengalami proses penguraian atau fermentasi. Namun, agar kualitas pupuk lebih baik dan aman digunakan, diperlukan beberapa bahan
pendukung.

1. Kotoran Hewan

Bahan utama pupuk kandang adalah kotoran dari hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, ayam, bebek, atau kuda. Masing-masing jenis memiliki kandungan unsur hara yang berbeda.

Kotoran sapi: kaya bahan organik dan baik untuk memperbaiki struktur tanah.

Kotoran kambing atau domba: mengandung nitrogen dan kalium yang relatif tinggi.

Kotoran ayam: memiliki kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) yang lebih tinggi dibanding jenis lainnya, namun perlu difermentasi agar tidak terlalu panas bagi tanaman.

2. Bahan Alas atau Campuran Organik

Bahan organik seperti jerami, sekam padi, serbuk gergaji, daun kering, atau rumput sisa pakan sering dicampurkan dengan kotoran hewan. Campuran ini membantu menyeimbangkan kadar karbon dan nitrogen sehingga proses pengomposan berlangsung lebih optimal.

Selain itu, bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kandungan humus yang berguna untuk memperbaiki daya simpan air dan aerasi tanah.

3. Air

Air dibutuhkan untuk menjaga kelembapan selama proses fermentasi. Kondisi ideal kelembapan bahan berkisar 40–60 persen. Jika terlalu kering, mikroorganisme sulit berkembang, sedangkan jika terlalu basah dapat memicu pembusukan dan menimbulkan bau tidak sedap.

4. Aktivator atau Biofermentor

Untuk mempercepat proses penguraian, banyak petani menambahkan aktivator seperti EM4, MOL (Mikroorganisme Lokal), atau dekomposer organik lainnya. Aktivator ini mengandung bakteri dan jamur yang membantu mengubah bahan organik menjadi pupuk yang matang dalam waktu lebih singkat.

Biasanya, aktivator dicampur dengan air dan sedikit gula merah atau molase sebagai sumber energi bagi mikroorganisme sebelum disiramkan ke tumpukan bahan.

5. Gula Merah atau Molase
Gula merah cair atau molase sering digunakan sebagai bahan tambahan untuk mendukung pertumbuhan mikroba fermentasi. Kandungan karbohidrat di dalamnya menjadi makanan bagi bakteri pengurai sehingga proses pembuatan pupuk berjalan lebih efektif.

Proses Singkat Pembuatan

Semua bahan dicampur dan disusun dalam tumpukan atau dimasukkan ke dalam wadah kompos. Selanjutnya, bahan dijaga kelembapannya dan dibalik setiap beberapa hari agar sirkulasi udara tetap baik.

Dalam waktu sekitar 3–6 minggu, pupuk kandang yang matang biasanya ditandai dengan warna cokelat kehitaman, tekstur remah, dan tidak lagi mengeluarkan bau menyengat.

Dengan memanfaatkan kotoran ternak dan limbah organik di sekitar, pembuatan pupuk kandang tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi solusi pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (*)