KABARIKA.ID, MAGELANG-– Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa menegaskan pentingnya intelijen pertanian dan hilirisasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik dan perubahan iklim. Kemampuan membaca risiko global, memperkuat produksi dalam negeri, serta meningkatkan nilai tambah komoditas dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan swasembada pangan Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut disampaikan Wamentan Saleh saat menjadi narasumber dalam 3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science (ICANFS) di Universitas Tidar, Magelang, Kamis (29/10/2026).
“Kalau dengar intelijen jangan langsung konotasinya militer. Kita perlu yang namanya intelijen pertanian,” ujar Wamentan Saleh.
Ia menjelaskan, intelijen pertanian diperlukan untuk membaca perkembangan situasi dan mengantisipasi dampaknya terhadap produksi serta distribusi pangan. Konflik geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global menjadi tantangan yang harus dihadapi melalui penguatan produksi, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta penguatan kelembagaan.
Wamentan Saleh menjelaskan strategi pemerintah mempertahankan swasembada pangan di tengah ketidakpastian geopolitik yang ditanyakan oleh mahasiswa Program Studi Agriculture, Fawazil Mahfudzuni. Menurut Wamentan Saleh menekankan pentingnya meningkatkan kualitas produksi, memastikan lahan pertanian tetap produktif, dan memperkuat sarana produksi agar Indonesia tidak semakin rentan terhadap gangguan pasokan global.
Ia juga menyoroti perlunya tata kelola distribusi dan impor yang baik agar pasokan pangan tidak dipermainkan oleh pihak tertentu. Menurutnya, penguatan produksi domestik harus berjalan beriringan dengan pengawasan perdagangan dan pengembangan industri pengolahan.
Wamentan Saleh juga menjelaskan tentang diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras, pertanyaan dari Fadila, mahasiswa Aquaculture. Wamentan Saleh menjelaskan bahwa pengembangan sorgum, porang, dan sumber pangan alternatif lainnya perlu terus didorong, meskipun perubahan pola konsumsi membutuhkan inovasi dan pendekatan yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat.
“Memang sudah ada upaya mengganti beras dengan sorgum, porang, dan macam-macam itu,” katanya.
Wamentan Saleh mengajak mahasiswa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan inovasi pangan. Ia juga mendorong Universitas Tidar menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penelitian dan pengembangan kedelai serta bawang putih, dengan memanfaatkan potensi agroklimat Magelang dan sekitarnya.
Selain penguatan produksi, Wamentan Saleh menegaskan hilirisasi penting agar komoditas pertanian Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing di pasar global. Ia mencontohkan kopi yang dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi melalui pengolahan, pengemasan, dan pengembangan merek.
“Hilirisasi ini penting agar petani ke depan semakin sejahtera,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup diukur dari angka produksi dan pendapatan, tetapi juga harus tercermin dalam kesejahteraan petani, termasuk akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Menutup pemaparannya, Wamentan Saleh menekankan tiga kunci keberlanjutan sistem pertanian dan pangan, yaitu ketersediaan sumber daya, tata kelola dan regulasi yang baik, serta penciptaan nilai tambah bagi masyarakat. Ia mengajak mahasiswa menjadi generasi yang inovatif, berintegritas, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan pertanian nasional.
“Jangan melihat di hilirnya saja, tetapi perkuat di hulunya,” pungkasnya.
Melalui penguatan intelijen pertanian, peningkatan produksi, diversifikasi pangan, dan hilirisasi, Kementerian Pertanian terus mendorong pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan generasi muda diharapkan mampu melahirkan inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. (*)
