KABARIKA.ID, MAKASSAR, — Universitas Hasanuddin (UNHAS) menjadi saksi bagaimana sebuah ide kecil dapat bertransformasi menjadi solusi besar. Di tengah tantangan perubahan iklim global, kolaborasi Indonesia-Inggris melalui Low Carbon Development Initiative Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) membuktikan bahwa limbah organik bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan peluang ekonomi yang menjanjikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, dalam kunjungannya ke UNHAS, menyaksikan langsung bagaimana riset dan inovasi di kampus tersebut mengolah sampah organik menjadi sumber daya bernilai tambah.
Didampingi Rektor UNHAS Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, Jermey menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi juga agenda pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Melalui LCDI Innovation and Technology Fund, UNHAS sedang mengembangkan pendekatan pengelolaan sampah organik dan ekonomi sirkular. Ini bukan sekadar proyek lingkungan. Ini adalah contoh bagaimana riset, inovasi, pemerintah daerah, kampus, komunitas dan mitra pembangunan dapat bekerja bersama untuk menjawab tantangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujar Jermey dalam kuliah umumnya di hadapan sivitas akademika Unhas, Senin (19/10/2026).
_*Inovasi Maggot dan Ayam Alope*_
Di balik proyek ambisius ini, Fakultas Peternakan UNHAS memainkan peran kunci. Mereka mengembangkan teknologi maggot dan budidaya Ayam Alope, ayam khas Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik terpadu.
Sampah yang biasanya dibuang kini diubah menjadi pakan bernilai gizi tinggi, mengurangi biaya peternakan, sekaligus menciptakan produk ekonomi baru.
Rektor UNHAS, Prof. Jamaluddin Jompa, menekankan bahwa misi universitas adalah menghasilkan riset yang solutif. “Bagi UNHAS, misinya adalah bagaimana mengembangkan riset untuk mendapatkan solusi-solusi. Hari ini kita mengkompensasi sampah itu menjadi sumber daya yang sangat bermanfaat,” tegasnya.
Prof. JJ menambahkan bahwa program ini tidak hanya berhenti di lingkup kampus. “Low carbon development ini bukan hanya karena ingin sadar perubahan iklim, tapi program ini kita kongresikan menjadi sesuatu yang bermanfaat langsung. Bukan hanya kepada lingkungan, tapi juga ekonomi, sosial, masyarakat. Ini program integrasi yang luar biasa. Walaupun mulai dari kecil, tapi ini akan diadopsi di beberapa daerah. Sudah banyak yang antri,” ungkapnya.
Ia pun menyoroti peran Ayam Alope sebagai simbol ekonomi lokal berbasis sumber daya lokal. “Kami berharap Ayam Alope ini menjadi simbol lanjutan ekonomi lokal. Produksi maggot, kompos, cacing, semuanya bernilai ekonomi. Ayam Alope juga bisa lebih murah biaya pemeliharaannya karena pakai pakan yang lebih murah, tapi tetap berkualitas,” jelasnya.
Saat ini, proyek tersebut telah mencapai sekitar 60 persen dan ditargetkan beroperasi penuh pada Februari mendatang. Dubes Jermey pun berjanji akan kembali untuk meresmikannya.
_*Kemitraan Strategis untuk Net Zero*_
Jermey menegaskan komitmen Inggris mendukung Indonesia menuju net zero emission pada tahun 2060, sementara Inggris menargetkan 2050. Menurutnya, kolaborasi rendah karbon adalah bagian utama dari kemitraan strategis kedua negara.
“Apa yang kita lakukan adalah melalui kemitraan strategis Indonesia-Inggris. Kolaborasi karbon rendah adalah bagian utama, yaitu mendukung perlindungan hutan, mendukung aktivis hutan, mendukung inisiatif karbon rendah seperti inisiatif ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama kebijakan antarnegara untuk menurunkan emisi. “Kita bekerja untuk menurunkan emisi karbon dan menjadi net zero 2060 untuk Indonesia, 2050 untuk UK, atau lebih awal. Kita melihat dampak perubahan iklim pada cuaca di Indonesia dan UK, dan kita harus mengatasi itu bersama,” tegasnya.
_*Lebih dari Sekadar Diplomasi*_
Kunjungan Jermey ke Sulawesi Selatan juga menyoroti aspek manusiawi dari kemitraan ini. Ia bertemu dengan para perempuan dan anak muda yang mendapatkan pelatihan digital melalui program Skills for Inclusive Digital Participation (SIDP), serta para perempuan penjaga konservasi lokal di Maros yang didukung melalui program SETAPAK.
“Mereka melindungi lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi komunitas mereka,” ujar Jermey.
Ia juga menjelajahi lukisan gua bersejarah dan stalagmit di Leang-leang yang telah menginspirasi penelitian dan pameran seni yang didukung British Council, melibatkan seniman Inggris.
“Semakin eratnya kemitraan strategis Indonesia dan Inggris. Saya harap kunjungan ini dapat memperdalam kerja sama dengan Sulawesi Selatan untuk mendorong pertumbuhan hijau, inklusi digital, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya. (*)
