KABARIKA.ID, MAKASSAR-– Ada yang lucu pada acara Kuliah Umum Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, di Ruang Senat, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Senin, 19 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rektor Unhas Prof Jamaluddin yang didampingi Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Talenta, dan Kesejahteraan (WR III) Prof Farida Patittingi, dan Direktur Kemitraan Strategis Unhas, Abdullah Sanusi, SE MBA PhD, memberikan sambutan dengan pengantar Bahasa Inggris.
Begitu pun dengan Direktur Kemitraan Strategis Unhas, Abdullah Sanusi, yang bertindak sebagai moderator, juga memberikan pengantar dalam Bahasa Inggris.
Namun ketika Dubes Inggris dan Timor Leste, Dominic Jermey, tampil di podium untuk memberikan kuliah umum, para hadirin langsung tersenyum karena dia langsung berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
Setelah mengucapkan salam, Jermey mengatakan, “Selamat pagi menjelang siang. Apa kareba? Baji’-baji’ji?”
Ucapannya itu langsung mengundang tawa dan tepuk tangan dari para peserta kuliah umum yang sebagian besar adalah mahasiswa.
“Saya sudah dua hari di Makassar. Baik. Saya dengar bahwa semua di sini rajin dalam Bahasa Inggris. Benar? Cukup benar,” kata Jermey dan langsung tertawa.
Ia mengatakan, Makassar memiliki energi yang istimewa. Kota ini merupakan pusat perdagangan, titik pelantikan inovasi, sekaligus salah satu gerbang penting menuju timur Indonesia.
“Dan tentu saja, Makassar juga terkenal dengan kuliner yang luar biasa. Selama saya bertugas di Indonesia, saya punya ‘misi pribadi’ untuk selalu mencoba makanan khas di setiap daerah yang saya kunjungi,” ujar Dominic sambil tersenyum.
Ia kemudian menyebut beberapa jenis makanan khas Makassar.
“Dan di Makassar pilihan sangat banyak, coto, konro, pallubaca, pisang ijo. Es pisang ijo itu, muah..,” kata Jermey sambil mendekat jarinya ke bibirnya dan tetap tersenyum.
Lalu melanjutkan dengan mengatakan, ”Dan tentu saja, sambal! Saya baru belajar bahwa ‘diplomasi makanan’ membutuhkan keberanian, terutama ketika seseorang mengatakan sambalnya ‘tidak terlalu pedas’. Oh, begitu?”
Jermey tersenyum kemudian mengatakan, “Tapi tentu saja saya datang ke sini bukan hanya makanannya. Makassar dan Universitas Hasanuddin memiliki peran penting dalam masa depan Indonesia.”
Setelah membawakan kuliah umum dalam Bahasa Inggris, Jermey menutup dengan mengutip sebuah pantun.
“Izinkan saya menutup dengan sedikit berpantun. Ke Makassar makan pallubasa, tambah sambal pedasnya luar biasa, ewako Unhas, teruslah berkarya untuk Indonesia hijau dan sejahtera,” kata Jermey sambil tersenyum dan disambut senyum serta tepuk tangan dari hadirin. (asnawin)
