KABARIKA.ID, SENGKANG — Perlombaan membaca Al-Quran dengan metode mujawwad yang lebih populer dengan MTQ alias Musabaqah Tilawatil Qur’an, sudah sangat sering dilaksanakan baik di tingkat nasional maupun internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun untuk Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) atau perlombaan membaca Kitab Kuning (Turats), baik tingkat nasional maupun internasional, Indonesia adalah negara pertama yang menyelenggarakannya.

“Belum pernah ada. Ini untuk pertama kalinya Indonesia yang menyelenggarakan Musabaqah Qira’atil Kutub. Dan ini semoga hajatan yang akan datang bisa kita rumuskan ada nanti suatu waktu negara Asia Tenggara bisa menjadi tuan rumah,” kata Dr. H. Basnang Said, S.Ag, M.Ag, ketua panitia MQKI yang juga Direktur Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag kepada kabarika.id, Rabu (1/10/2025) di kampus III Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.

Basnang menambahkan, melalui MQK Internasional yang pertama ini, harapannya Indonesia melalui Kemenag akan menyampaikan kepada dunia bahwa ada praktik Islam di Indonesia yang kemudian dikuatkan oleh pesantren.

“Pesantren adalah cara menanamkan pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Itulah yang kemudian kita akan kampanyekan ke seluruh dunia, yang memang hari ini duni penuh dengan konflik. Sementara di Indonesia ada pesantren sebagai peredam konflik,” jelas Basnang.

Dr. H. Basnang Said, S.Ag, M.Ag, ketua panitia MQKI yang juga Direktur Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag. (Foto: M. Ruslan/kabarika)

Manfaat Pelaksanaan MQKI

Ia menambahkan, penyelenggaraan MQK Internasional yang pertama ini di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, memiliki manfaat tersendiri.

Pertama, akan mengangkat nama Sulawesi Selatan sebagai provinsi yang telah melahirkan pondok pesantren yang cukup tua dan telah berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

Kedua, memperkenalkan As’adiyah sebagai pesantren tertua yang memiliki alumni yang cukup berhasil, baik di tingkat nasional maupun di mancanegara.

Ketiga, cara Indonesia berdiplomasi ala pesantren.

Mengenai pelaksanaan MQK Internasional berikutnya, Direktur Pesantren itu mengatakan bahwa untuk kegiatan selanjutnya MQK Internasional akan dilaksanakan sekali dalam tiga tahun.

“Insya Allah semoga tahun 2028 kembali kita akan melaksanakan MQKI. Di dalamnya sudah tergabung MQK Nasional,” ujar Basnang.

Penilaian Dilakukan Secara Objektif

Kepada para peserta MQK Nasional dan Internasional yang akan menunjukkan seluruh kemampuannya dalam memahamai Kitab Kuning selam lomba berlangsung, Basnang menegaskan bahwa segala jenis lomba akan dilaksanakan penilaian secara objektif.

Bahwa siapaun nanti yang juara, berarti itulah yang terbaik menurut dewan hakim, sehingga tidak ada permainan karena penilaian dilakukan secara objektif.

“Termasuk kemudian tidak mesti tuan rumah menuntut saya harus juara I karena semua penilaian akan dilakukan secara objektif oleh dewan hakim yang sangat objektif. Dewan hakimnya adalah mantan Menteri Agama, bapak Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA,” tutur Basnang.

MQK Internasional I dan MQK Nasional ke-8 akan dibuka oleh Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar, pada Kamis (02/10/2025) di Kampus III Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulsel.

MQK Nasional diikuti 1.360 orang santri yang terbagi ke dalam 34 kafilah dari 34 provinsi di Indonesia.

Sedangkan MQK Internasional diikuti 10 negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia sebagai tuan rumah, dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang.

Selain itu, ada pula negara lain yang mengirimkan peninjau (observer), yaitu Kazakhstan, Mesir, Myanmar, dan Quwait. Jumlah peninjau berjumlah 20 orang.

MQK Internasional I yang akan berlangsung dari 2-6 Oktober 2025 ini, mengusung tema, “Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats”. (rus)