KABARIKA.ID, SENGKANG — Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional pertama yang digelar di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulsel, menjadi etalase dunia mengenai tradisi keilmuan Islam yang mengakar di pesantren-pesantren Indonesia dengan berbasis turats atau kitab kuning.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

MQK Internasional pertama 2025 diikuti oleh peserta dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dari tingkat perguruan tinggi (Ma’had Aly).

Jenis lomba (musabaqah) untuk peserta internasional dari tingkat Ma’had Aly terdiri dari empat bidang, yaitu:

– Bahtsul Kutub, dengan kitab turats rujukan: Fathul Wahhâb,
– Risalah ‘Ilmiyyah,
– Tarkib Digital, dengan kitab turats rujukan: Qurratul-‘Ayn karya Syekh Yusuf al-Makassari, dan
– Debat Qanun tentang hukum/konstitusi, kitab kuning, dan kepesantrenan.

Lomba ini menjadi panggung pembuktian tradisi keilmuan Islam di pesantren-pesantren Indonesia.

Para peserta dari mancanegara mengagumi sekaligus mengaku terpesona dengan kekayaan khazanah kitab turats yang terus dikaji, terjaga, dan terpelihara di bumi Indonesia.

Sejumlah peserta asing mengaku kagum dengan penyelenggaraan kegiatan MQK Internasional ini karena menjadi pengalaman berharga bagi mereka dalam memahami konsep-konsep dasar Islam yang digali dari kitab turats.

Mu Ham Mach, peserta asal Vietnam yang mengikuti lomba Tafsir, mengaku kalau pengalamannya mengikuti MQK Internasional yang pertama ini sebagai sebuah kesempatan yang sangat berharga baginya.

“Kami belajar banyak dari tradisi pesantren Indonesia. Penguasaan kitab turats yang sangat mendalam ini benar-benar membuka wawasan kami yang tidak punya tradisi pesantren seperti di Indonesia,” ujar Mach, Sabtu (4/10/2025) setelah turun dari panggung lomba di kampus IV Ma’had Aly As’adiyah, jalan Andi Unru, Sengkang.

Peserta MQK Internasional dari Timor Leste yang mengikuti lomba Tafsir dan Fiqih. Dari kiri ke kanan: Julianto, Rafi Rahmansyah, dan Akbar Jihad, ditemui setelah mengikuti lomba di arena MQK Internasional Ma’had Aly, Sabtu (4/10/2025) di kampus IV Ma’had Aly As’adiyah, jalan Andi Unru, Sengkang. (Foto: M. Ruslan/kabarika)

Peserta dari Timor Leste juga mengaku punya pengalaman berharga dalam mengikuti MQK Internasional ini.

Rafi Rahmansyah yang mengikuti lomba Fiqih mengaku keikutsertaannya dalam lomba MQK Internasional ini adalah sebuah pengalaman yang mahal.

“Jujur saya masih baru di bidang fiqih apalagi di musabaqah qira’atil kutub. Jadi ini menjadi pengalaman berharga juga kalau besok lusa ada lagi MQK, sudah tahu model dan sistemnya kayak gini. Bagi saya ini pengalaman yang mahal dan cukup berharga dalam mempelari kitab turats yang masih sedikit di Islamic Center kami,” ujar Rahmansyah.

Penilaian senada dikemukakan oleh Sen Lamiyas, peserta dari Kamboja. Ia menilai tradisi kajian kitab kuning yang terus berkembang dan terpelihara di kalangan pesantren Indonesia, merupakan warisan agung yang patut ditiru oleh komunitas maupun lembaga pendidikan Islam di negara lain, khususnya di Asia Tenggara.

“Kami berharap tradisi seperti ini bisa juga tumbuh di negara kami. Kitab turats adalah warisan pengetahuan klasik dan peradaban Islam yang sangat berharga untuk terus dikaji dan dipelajari,” ungkap Lamiyas.

Peserta asal Brunei Darussalam, Mohamed Khairie, mengatakan bahwa MQK Internasional yang pertama ini memberikan inspirasi dan semangat baru dalam mengkaji keilmuan Islam yang bersumber dari kitab turats.

“Kami juga ingin lebih meningkatkan semangat dalam mengkaji dan mempelajari kitab turats di negara kami. Bahkan di masa mendatang, kegiatan ini bisa digelar lintas negara,” kata Khairie.

Kesan yang ditangkap dan pengalaman yang dirasakan oleh para peserta asing, sudah sangat sesuai dengan tema yang diangkat oleh MQK Internasional yang pertama ini, yakni “Dari Pesantren untuk Dunia”.

Lewat kegiatan MQK Internasional ini juga, pesantren Indonesia membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukan hanya menjaga warisan klasik keilmuan Islam, melainkan juga meneguhkan perannya sebagai poros keilmuan yang selalu relevan dengan tantangan zaman.

Bahkan pesantren membuktikan dirinya kepada dunia bahwa mereka mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat dinamis, terutama di era digital saat ini tanpa kehilangan ciri khasnya.

Rasanya tidak berlebihan jika dikatan bahwa MQK Internasional yang pertama ini menjadi etalase dunia tradisi keilmuan Islam di pesantren Indonesia yang berbasis turats yang memancarkan pesona dalam peradaban Islam di Indonesia.

Di antara pada peserta mancanegara, kafilah dari Timor Leste menjadi peserta yang sangat menginspirasi di arena MQK Internasional pertama ini.

Bagaimana tidak, Timor Leste yang pernah menjadi sebuah provinsi di Indoensia dan kini sebuah negara baru, penduduk Muslimnya hanya 0,44 persen dari jumlah penduduknya, masih bisa mengirimkan peserta untuk mengikuti lomba fiqih dan tafsir.

Penduduk Timor Leste saat ini, menurut Akbar yang merupakan salah satu peserta negara itu, sebanyak 900 ribu jiwa. Itu berarti penduduk Muslim Timor Leste hanya berkisar 3.960 jiwa.

Bandingkan dengan Singapura yang penduduk Muslimnya sekitar 15 persen dari jumlah penduduknya sebanyak 6,37 juta, atau sekitar 900 ribu orang, hanya mengirim peserta peninjau (observer) ke MQK Internasional ini. (rus)