KABARIKA.ID, SENGKANG — Salah satu segmen acara selama perhelatan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah “Fajr Inspiration”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan “Fajr Inspiration” atau Inspirasi Fajar diisi dengan ceramah oleh ulama dan tokoh-tokoh Islam setiap hari setelah salat Subuh, di Masjid Agung Ummul Qura, Kota Sengkang, selama MQK berlangsung, dari 2-6 Oktober 2025.
Salah seorang ulama yang tampil memberi pencerahan pada Subuh terakhir perhelatan MQK Intedrnasional, adalah Ketua Dewan Hakim MQK Internasional 2025, Said Agil Husin Al-Munawar yang juga mantan Menteri Agama (Menag) (2001-2004).
Dalam ceramahnya di depan ratusan jamaah Masjid Agung Ummul Qura, Said Agil mengatakan bahwa perhelatan MQK Internasional yang diselenggarakan di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, menjadi momentum penting untuk terus memperkuat tradisi literasi Islam di kalangan pesantren pada khususnya, dan di kalangan umat Islam pada umumnya.
Oleh karena itu, ia mengajak para santri untuk terus memupuk semangat menghidupkan tradisi literasi Islam.
Said Aqil mengingatkan, semangat menulis dan membaca karya ulama terdahulu merupakan fondasi penting bagi kemajuan peradaban Islam.
“Para ulama dahulu tidak hanya mengajarkan ilmu secara lisan, tetapi juga menuliskannya dengan tekun. Karena itulah, khazanah keilmuan Islam tetap lestari hingga sekarang,” ujar Said Agil saat mengisi sesi Fajr Inspiration di Masjid Ummul Quro Sengkang, Senin (6/10/2025).

Ia menjelaskan, tradisi keilmuan tersebut tampak dari melimpahnya karya para ulama klasik.
Sebuah kitab yang hanya satu jilid, sambung Said Agil, seringkali berkembang menjadi beragam syarah dan komentar hingga berjilid-jilid.
“Dalam ilmu hadis, terdiri dari berbagai bentuk karya, mulai dari shahih, sunan, musnad, hingga mustadrak, semua lahir dari tangan-tangan ulama yang tekun menulis,” ujar Said Aqil.
Mantan Menag itu mengatakan, kitab turats merupakan warisan intelektual yang sangat berharga.
Oleh karena itu, pelaksanaan MQKI di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, menurutnya menjadi momentum penting untuk terus menghidupkan kesadaran menjaga dan mempelajari warisan tersebut.
“MQKI bukan sekadar lomba membaca kitab kuning, tetapi juga merupakan upaya merawat tradisi literasi ulama agar terus hidup di tengah umat,” tandas Said Agil.
MQK Internasional diikuti peserta dari 10 negara Asia Tenggara, mempertandingkan empat bidang, yakni:
1. Bahtsul Kutub, dengan mengacu pada kitab Fathul Wahhâb,
2. Risalah ‘Ilmiyyah mempertandingkan karya makalah peserta dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia,
3. Tarkib Digital, dengan merujuk pada kitab turat Qurratul-‘Ayn karya Syekh Yusuf al-Makassari, dan
3. Debat Qanun, yang mebahas tema seputar hukum/konstitusi yang terkait dengan dunia pendidikan, kitab kuning, dan kepesantrenan. (rus)
