KABARIKA.ID, MAKASSAR — Komite Nobel Norwegia telah mengumumkan pada hari Jumat (9/10/2026) untuk menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2026 kepada Navanethem “Navi” Pillay atas upayanya dalam memajukan perdamaian dan hukum internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, Navi Pillay menjabat sebagai hakim di Mahkamah Internasional (ICJ) dalam kasus di mana Myanmar dituduh melakukan genosida.

Menanggapi keputusan Komite Nobel tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel mengecam keras penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Navi Pillay, terutama karena Pillay yang saat memimpin Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki, menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

“Memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Pillay bukanlah bentuk pengakuan terhadap keadilan. Ini adalah penyalahgunaan penghargaan secara mengerikan untuk melegitimasi kebencian dan prasangka anti-Israel,” ,” tulis Kemlu dalam kritik tajam di platform X.

Menurut Kemlu Israel, penghargaan Nobel itu memberikan imbalan atas kebohongan terbesar abad ke-21.

Komisi PBB yang dipimpin oleh Pillay saat itu, telah mengeluarkan laporan setebal 72 halaman pada September 2025 yang menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan empat tindakan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Pertama, saat Israel melancarkan perang dahsyat di Gaza menyusul serangan yang dipimpin Hamas terhadap komunitas-komunitas di dekat wilayah kantong Palestina tersebut, serta pembunuhan warga Palestina di Gaza,

Kedua, serangan dahsyat ke Gaza menyebabkan cedera fisik dan mental yang serius bagi warga Palestina,

Ketiga, Israel dengan sengaja memaksakan kondisi kehidupan yang dirancang untuk memusnahkan kelompok tersebut secara fisik, baik seluruhnya maupun sebagian, dan

Keempat, menerapkan langkah-langkah yang bertujuan mencegah kelahiran dalam kelompok tersebut.

Laporan tersebut juga menuduh PM Benjamin Netanyahu dan pejabat tinggi Israel lainnya melakukan hasutan untuk melakukan genosida.

Israel selalu menolak keras tuduhan terjadinya genosida akibat perang di Gaza.

Presiden Ramaphosa Puji Keberhasilan Pillay Meraih Nobel Perdamaian

Sementara itu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyampaikan ucapan selamat kepada Navi Pillay atas keberhasilannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026, berkat kiprahnya di bidang perdamaian, keadilan, dan hukum internasional.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyambut baik penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Navi Pillay, yang merupakan warga negara Afrika Selatan. (Foto: CNN)

Dalam sebuah unggahan di X, Ramaphosa menyatakan: “Penetapan Hakim Pillay sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian memungkinkan kita untuk merayakan kontribusi progresif yang telah ia berikan dalam memperkuat perdamaian, menjunjung tinggi martabat manusia, serta menghadirkan harapan bagi Afrika Selatan dan masyarakat dunia. Ia telah mengabdi bagi kemanusiaan dengan memegang teguh prinsip serta keyakinan bahwa dunia bisa dan seharusnya menjadi tempat yang lebih baik.”

Pillay mengawali kariernya sebagai pengacara anti-apartheid sebelum menjadi hakim dan kemudian menjabat sebagai presiden Pengadilan Pidana Internasional untuk Rwanda.

Ia juga pernah bertugas di Mahkamah Pidana Internasional serta menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Ramaphosa mengatakan bahwa penghargaan ini menempatkan Pillay sejajar dengan para penerima Nobel Perdamaian asal Afrika Selatan lainnya, termasuk Nelson Mandela, Desmond Tutu, dan Albert Luthuli.

“Penghargaan yang dianugerahkan kepadanya ini mengingatkan kita untuk membangun masyarakat di mana setiap individu, apa pun kondisinya, dapat mengembangkan kemampuan mereka dan berkontribusi secara penuh bagi bangsa kita maupun dunia,” kata Presiden Ramaphosa. (rus)