Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
“Sukacitamu adalah kesedihanmu yang dilepas topengnya. Dan sumur yang sama tempat tawamu memancar, dahulu kerap terisi oleh air matamu.” — Kahlil Gibran, The Prophet (1923)
Pernahkah malam menemukan seseorang dalam diam, ketika kata-kata habis dan yang tersisa hanyalah keheningan di ujung doa?
Sal Priadi menangkap momen itu dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan dalam lagunya, “Ada Titik-Titik di Ujung Doa”. Lagu yang dirilis pada 30 April 2024 sebagai bagian album Markers and Such Pens Flashdisks ini bukan sekadar deretan nada.
Ia adalah cermin batin, percakapan sunyi antara manusia dengan dirinya sendiri, dan akhirnya, dengan Sang Pencipta.
Pada akhir Januari 2026, Sal sendiri menjelaskan bahwa lagu ini menjadi ruang untuk menumpahkan perasaan kepada mereka yang pernah berbuat salah namun tak pernah meminta maaf, sebuah pengakuan yang membuat jutaan pendengar merasa terwakili lukanya.
Ketika ia menyanyikan tentang doa keselamatan penutup malam yang diisi sebuah nama, kemudian dihias berjuta warna, bunga, dan kupu-kupu, kita menyaksikan kepolosan manusia dalam mencintai sekaligus dalam mengampuni.
Tetapi bagian paling memukau justru hadir ketika ia mengaku hatinya pernah dihancurkan menjadi berkeping-keping, lalu hari ini ia mencoba merakitnya kembali, meski kalau diamati bentuknya agak aneh. Di situlah letak keagungannya.
Sal tidak menjanjikan pemulihan yang sempurna. Ia hanya menawarkan keberanian untuk merakit ulang, menerima bahwa hasilnya tidak akan pernah sama, dan tetap melanjutkan hidup.
Sebuah renungan tentang memaafkan, menerima, dan mengikhlaskan yang terasa begitu dekat dengan realitas banyak orang.
Tanda titik-titik dalam judul itu sengaja dibiarkan menggantung. Ia melambangkan jeda, keheningan, sekaligus kepasrahan manusia ketika menghadapi ketidakpastian hidup. Inilah yang membuat lagu tersebut diputar lebih dari 33 juta kali di kanal pemutar musik dan digunakan dalam ratusan ribu konten reflektif di media sosial.
Manusia, di mana pun ia berada, ternyata menyimpan luka yang sama: harapan yang belum lengkap, doa yang belum sepenuhnya terjawab, dan kerinduan untuk diampuni sekaligus mengampuni.
Saya melihat lagu ini bukan hanya karya seni, melainkan diagnosis halus atas kondisi batin sebuah generasi. Dan ketika titik-titik itu kita perbesar, kita akan menemukan wajah Indonesia hari ini: sebuah bangsa yang sedang berjuang merakit kembali hatinya di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Mari kita jujur pada kenyataan. Data dari Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional menunjukkan bahwa sekitar 5,5 persen remaja usia 10 hingga 17 tahun mengalami gangguan jiwa, dan yang lebih memilukan, hanya sebagian sangat kecil dari mereka yang benar-benar mengakses bantuan profesional.
Lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun tercatat mengalami gangguan mental, dengan jutaan di antaranya bergulat dengan depresi yang sering disembunyikan dalam senyap. Tekanan akademik, kondisi ekonomi keluarga, hingga banjir informasi dari layar gawai menjadi pemicu yang terus menggerus ketahanan batin generasi muda kita.
Mereka adalah anak-anak yang setiap malam, barangkali, juga menyimpan titik-titik di ujung doanya.
Di balik luka batin itu, terbentang pula lanskap ekonomi yang menuntut perhatian. Di sinilah letak ironi sekaligus harapannya. Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan, capaian triwulan pertama tertinggi dalam belasan tahun terakhir.
Angka ini bahkan melampaui sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Tiongkok pada periode yang sama. Produk Domestik Bruto kita menyentuh Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku, ditopang terutama oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh perekonomian. Sebuah kabar yang patut disyukuri di tengah dunia yang sedang gelisah.
Namun layaknya hati yang dirakit ulang dalam lagu Sal, bentuk pertumbuhan kita pun, kalau diamati, agak aneh. Capaian gemilang itu sebagian besar lahir dari momentum musiman Ramadan dan tradisi mudik Idulfitri, sesuatu yang secara alami tidak berkelanjutan sepanjang tahun.
Di sisi lain, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada periode yang sama mencatat defisit sekitar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB, dipicu oleh percepatan belanja negara yang melonjak jauh melampaui pertumbuhan pendapatan. Pertumbuhan ada, tetapi tekanan fiskal pun mulai terasa.
Pertumbuhan ada, tetapi daya beli sebagian rakyat masih rapuh. Sama seperti seseorang yang tersenyum di hadapan banyak orang sambil menyimpan keping hati yang belum sepenuhnya utuh.
Inilah tantangan kita ke depan. Dunia masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, gejolak harga energi, serta volatilitas pasar keuangan global yang dapat sewaktu-waktu menekan nilai tukar dan harga kebutuhan pokok.
Pertumbuhan yang bersandar pada konsumsi musiman dan belanja pemerintah perlu diubah menjadi pertumbuhan yang berakar pada produktivitas sejati dan lapangan kerja yang layak. Sementara di tingkat manusia, beban ekonomi keluarga terbukti menjadi salah satu pemicu kerapuhan jiwa generasi muda.
Dua persoalan ini, ekonomi dan kesehatan jiwa, sesungguhnya satu napas. Bangsa yang batinnya rapuh sulit menjadi bangsa yang produktif. Bangsa yang ekonominya timpang akan terus memproduksi luka batin baru.
Lalu, apa solusi yang bisa kita rawat bersama?
Pertama, pertumbuhan ekonomi harus diarahkan agar lebih merata dan menjangkau daerah yang selama ini kurang tersentuh, bukan hanya berputar di pusat-pusat kota besar.
Penguatan industri pengolahan, yang menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar pada kuartal pertama 2026, perlu terus didorong agar tercipta lapangan kerja yang menyerap tenaga muda.
Kedua, reformasi tata kelola fiskal yang sudah menunjukkan arah benar, termasuk optimalisasi penerimaan pajak yang tumbuh sehat melalui sistem administrasi baru, harus dijaga konsistensinya agar ruang fiskal untuk program sosial tetap lestari.
Ketiga, dan ini sering terlupakan, investasi pada kesehatan jiwa harus diperlakukan sebagai investasi ekonomi, bukan sekadar belanja kesehatan. Memperluas layanan konseling di sekolah, kantor, dan komunitas, serta menormalkan percakapan tentang luka batin, adalah cara kita memperkuat modal manusia yang menjadi mesin sejati pertumbuhan jangka panjang.
Solusi yang paling mendasar justru paling sederhana, sebagaimana diajarkan lagu itu sendiri: keberanian untuk merakit ulang.
Sebuah bangsa, sama seperti seorang individu, tidak akan pernah kembali ke bentuk semula setelah diguncang krisis. Tetapi ia bisa memilih untuk menerima, berdamai, dan membangun bentuk baru yang barangkali tampak aneh namun jauh lebih kuat karena ditempa kesadaran.
Kita perlu pemerintah yang konsisten, masyarakat yang saling menopang, dan setiap pribadi yang berani memaafkan keadaan tanpa berhenti berikhtiar.
Pada akhirnya, titik-titik di ujung doa itu bukanlah tanda kekalahan. Ia adalah ruang yang sengaja dibiarkan terbuka, tempat harapan masih bisa tumbuh dan nama-nama yang kita cintai, termasuk nama tanah air ini, terus kita sebut dengan penuh keyakinan.
Selama masih ada yang berani berdoa dan bekerja, selama masih ada yang berani merakit ulang hatinya yang berkeping, maka selalu ada alasan untuk percaya bahwa pagi akan datang.
Indonesia sedang mengisi titik-titiknya sendiri, perlahan, dengan keringat, air mata, dan harapan yang belum selesai.
“Harapan adalah hal bersayap yang bertengger di dalam jiwa, dan menyanyikan lagu tanpa kata-kata, dan tak pernah berhenti sama sekali.” — Emily Dickinson, “Hope” is the thing with feathers
