KABARIKA.ID, PALESTINA — Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Israel untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan mendesak kepada 15.000 warga sipil di Jalur Gaza.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menteri Luar Negeri (Menlu) UEA, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan berbicara melalui telepon dengan Menlu Israel, Gideon Sa’ar, untuk mengoordinasikan pengiriman bantuan makanan darurat dan pasokan penting lainnya.
Demikian dilansir kantor berita resmi UEA, WAM, Rabu (21/05/2025).
“Bantuan ini akan memenuhi kebutuhan pangan sekitar 15.000 warga sipil di Jalur Gaza pada tahap awal,” demikian pernyataan WAM.
Paket bantuan akan mencakup dukungan operasional bagi pengusaha roti dan kebutuhan anak-anak, dengan komitmen untuk terus mengalirkan bantuan serupa secara berkelanjutan.
Menteri UEA itu menekankan pentingnya memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan, medis, dan logistik secara segera, berkelanjutan, aman, dan tanpa hambatan bagi saudara-saudara kita di Gaza.
Kedua menteri juga membahas upaya untuk mengembalikan gencatan senjata serta pembebasan para sandera.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel mengenai kesepakatan tersebut.
87 Truk Bantuan Masuk ke Gaza
Kantor Media Pemerintah Palestina, Rabu (21/05/2025) mengumumkan, sebanyak 87 truk bantuan akhirnya berhasil masuk ke Jalur Gaza. Ini menandai pengiriman pertama dalam 81 hari, setelah Israel menutup seluruh perlintasan perbatasan.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah, Ismail Al-Thawabteh, mengatakan bahwa hhingga saat ini sebanyak 87 truk yang membawa berbagai jenis bantuan telah masuk ke Jalur Gaza.
Menurut Al-Thawabteh bantuan tersebut dialokasikan untuk sejumlah organisasi internasional dan lokal sebagai bagian dari upaya penyaluran kepada masyarakat Palestina, guna memenuhi sebagian dari kebutuhan kemanusiaan mendesak mereka.
Pada Senin lalu, Kantor Media Pemerintah Palestina mengumumkan bahwa Jalur Gaza membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari, termasuk bantuan medis, pangan, dan 50 truk bahan bakar, untuk menyelamatkan nyawa di tengah kelaparan yang semakin parah akibat penutupan perbatasan oleh Israel selama lebih dari dua bulan.
Sejak 2 Maret lalu, Israel memberlakukan blokade ketat terhadap Gaza, menutup akses masuk bantuan kemanusiaan dan mendorong wilayah tersebut ke jurang kelaparan yang telah merenggut banyak nyawa.
Sejak Oktober 2023, sebanyak 53.600 warga Palestina gugur, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. (*/mr)
