KABARIKA.ID, NEW YORK — Para pejabat Inggris mengatakan mereka mengkhawatirkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan membiarkan Israel mencaplok wilayah Tepi Barat, sebagai balasan atas pengakuan Inggris, Australia, Prancis, dan negara-negara lain atas Palestina di forum PBB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun kekhwatiran para pejabat Inggris itu tidak terbukti. Presiden Trump mengatakan ia tidak akan mengizinkan Israel mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Pernyataan Trump itu sebagai penolakan atas seruan dari beberapa politisi sayap kanan Israel yang ingin memperluas kedaulatan atas wilayah tersebut yang dapat dipandang menghalangi pembentukan negara Palestina.

“Saya tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat. Tidak, saya tidak akan mengizinkannya. Itu tidak akan terjadi. Sudah cukup. Sekarang saatnya untuk berhenti,” ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, AS.

Pernyataan Presiden Trump tersebut dapat disaksikan di video ini.

Presiden Trump menyampaikan pernyataan tersebut saat PM Israel Benjamin Netanyahu tiba di New York, pada hari Jumat (26/09/2025) untuk menyampaikan pidato di Sesi Debat Majelis Umum PBB.

Muncul spekulasi spekulasi luas di dalam negeri Israel dan tempat lain mengenai bagaimana PM Netanyahu akan membalas pengakuan Negara Palestina oleh Inggris, Australia, Prancis, Kanada, dan Portugal.

Para pejabat di Yerusalem yakin bahwa apa pun yang dilakukan PM Netanyahu akan disetujui terlebih dahulu oleh Presiden Trump.

“Pilihannya mencakup pencaplokan penuh Tepi Barat, atau sebagian kecil seperti sebidang wilayah di sepanjang perbatasan dengan Yordania, atau penutupan konsulat Inggris, Prancis, dan negara-negara lain di Yerusalem Timur,” kata analis.

Awal pekan ini, para pejabat Inggris mengatakan mereka khawatir Presiden Trump akan mengakui kendali Israel atas permukiman ilegal di Tepi Barat sebagai balasan atas tindakan Inggris dan negara-negara lain yang mengakui negara Palestina.

Lobi Negara Arab dan Eropa

Para pemimpin Arab dan Eropa terlibat dalam operasi lobi intensif untuk memastikan dia tidak melanjutkan pengakuan permukiman Tepi Barat.

PM Netanyahu telah menghadapi tekanan signifikan dari faksi-faksi sayap kanan yang merupakan bagian dari koalisi yang berkuasa untuk mencaplok Tepi Barat, yang memicu kekhawatiran di antara para pemimpin Arab, beberapa di antaranya bertemu dengan Trump, pada hari Selasa (23/09/2025) di sela-sela Sidang Umum PBB.

Negara-negara Arab dan Muslim memperingatkan Trump tentang konsekuensi serius dari aneksasi Tepi Barat, sebuah pesan yang sangat dipahami oleh Presiden Trump, menurut Menlu Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud.

Perkembangan Wilayah Tepi Barat

Permukiman Israel telah berkembang pesat sejak Israel merebut Tepi Barat dari Yordania dalam perang tahun 1967 dan kemudian memberlakukan pendudukan militer.

Permukiman tersebut membentang jauh ke dalam wilayah tersebut dengan sistem jalan dan infrastruktur lainnya di bawah kendali Israel, yang semakin mengiris wilayah tersebut.

Tembok tinggi yang memisahkan Yerusalem dari Tepi Barat yang menyebabkan warga Palestina yang ada di sana tidak punya akses ke Yerusalem. (Foto: theguardian)

Rencana permukiman Israel yang dikecam luas, yang dikenal sebagai proyek E1, yang secara efektif akan membagi dua Tepi Barat yang diduduki dan memisahkannya dari Yerusalem Timur, menerima persetujuan akhir pada Agustus silam.

Proyek ini akan melintasi wilayah yang diperjuangkan Palestina untuk sebuah negara.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, seorang ultra-nasionalis, mengatakan pada saat itu bahwa negara Palestina sedang dihapus dari meja perundingan.

Sekitar 700.000 pemukim Israel tinggal di antara 2,7 juta warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang dianeksasi Israel dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar negara di dunia.

Sebagian besar masyarakat internasional menganggap permukiman Israel di Tepi Barat ilegal menurut hukum internasional.

Israel membantah hal ini, dengan mengutip hubungan historis dan alkitabiah dengan wilayah tersebut, dan mengatakan bahwa permukiman tersebut memberikan kedalaman dan keamanan strategis.

Kesepakatan Mengenai Gaza Dapat Segera Tercapai

Sementara para pemimpin internasional berkumpul di PBB di New York, AS, mempresentasikan rencana perdamaian Timur Tengah yang terdiri dari 21 poin dalam upaya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir dua tahun di Gaza.

Presiden Trump, yang tetap menjadi sekutu terdekat Israel di panggung dunia, mengaku telah berbicara dengan perwakilan dari negara-negara Timur Tengah dan PM Netanyahu, pada hari Kamis (25/09/2025) dan mengatakan bahwa ada kesepakatan mengenai Gaza dapat segera tercapai.

“Kami ingin para sandera kembali, kami ingin jenazah mereka kembali, dan kami ingin perdamaian di wilayah itu. Jadi, kami telah melakukan beberapa pembicaraan yang sangat baik,” ujar Trump.

Israel telah menuai kecaman global atas perangnya di Gaza, yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023.

Konflik tersebut telah menyebabkan kerusakan besar infrastruktur dan menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, yang sebagian besar warga sipil yang terdiri dari perempuan dan anak-anak.

Sebuah lembaga pemantau kelaparan yang didukung PBB mengatakan sebagian wilayah tersebut menderita kelaparan. (rus)