KABARIKA.ID, YERUSALEM — Mediator AS Jared Kushner dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pembicaraan pada hari Selasa (11/11/2025) di Yerusalem, mengenai fase kedua gencatan senjata di Gaza.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Washington mengintensifkan upayanya untuk memastikan gencatan senjata Gaza yang rapuh bertahan.
Sementara itu, PM Netanyahu mengatakan Israel akan menegakkan gencatan senjata di Gaza Lebanon dengan “tangan besi”.
Gencatan senjata di Gaza, yang telah berlaku selama sebulan, sebagian besar telah menghentikan perang yang meletus setelah serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Selama tahap pertama gencatan senjata yang sedang berlangsung, serangkaian pertukaran tahanan dan sandera terjadi selama beberapa minggu terakhir.
Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump yang membantu menengahi gencatan senjata di Gaza, bertemu dengan Netanyahu di Yerusalem sebagai bagian dari upaya AS untuk menstabilkan gencatan senjata dan meletakkan dasar bagi tahap selanjutnya.
Keduanya membahas beberapa aspek paling sensitif dari tahap kedua, kata juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, kepada para wartawan.
“Bersama-sama, keduanya membahas fase pertama, yang saat ini masih kami jalani, untuk membawa sandera kami yang tersisa, dan masa depan fase kedua dari rencana ini, yang mencakup pelucutan senjata Hamas, demiliterisasi Gaza, dan memastikan Hamas tidak akan pernah lagi berperan dalam masa depan Gaza,” kata Bedrosian.
“Fase kedua juga mencakup pembentukan pasukan stabilisasi internasional dan detailnya tentu saja sedang dibahas bersama,” lanjut Bedrosian.

Israel Langgar Gencatan Senjata
Hamas telah berulang kali menegaskan bahwa menyerahkan senjatanya adalah garis merah.
Israel dan Hamas terus saling menuduh melanggar gencatan senjata di Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pasukan Israel telah menewaskan setidaknya 242 warga Palestina di wilayah tersebut sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober.
Pada hari Senin, militer Israel mengatakan telah menewaskan dua militan yang mendekati apa yang disebut “Garis Kuning”, batas di mana pasukan Israel mempertahankan posisi mereka di Gaza.
Pembatasan media di Gaza dan kesulitan mengakses banyak wilayah membuat media tidak dapat memverifikasi secara independen detail yang diberikan oleh kementerian atau militer Israel.
“Siapa pun yang berusaha menyakiti kami, kami menyakiti mereka,” kata Netanyahu di parlemen Israel pada hari Senin.
“Kami bertekad untuk menegakkan dengan tangan besi perjanjian gencatan senjata jika ada dari mereka yang ingin menghancurkan kami, dan Anda dapat melihat apa yang terjadi setiap hari di Lebanon,” tambah Netanyahu.
Israel terus melancarkan serangan terhadap Lebanon, yang katanya menargetkan militan Hizbullah.
Israel menyetujui gencatan senjata untuk menghentikan perang dengan kelompok tersebut November lalu, tetapi telah sering mengebom Lebanon sejak saat itu.
Israel mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menewaskan 15 anggota Hizbullah bulan ini.
Pasukan Stabilisasi di Tangan Trump
Mesir, Qatar, dan Turki termasuk di antara calon peserta dalam pasukan stabilisasi internasional yang diusulkan untuk Gaza, tetapi Uni Emirat Arab telah mengindikasikan bahwa mereka tidak mungkin bergabung tanpa kerangka kerja operasional yang jelas.
“Dalam keadaan seperti itu, UEA kemungkinan besar tidak akan berpartisipasi dalam pasukan semacam itu,” ujar penasihat presiden Emirat, Anwar Gargash, kepada Forum Debat Strategis Abu Dhabi, pada Senin (10/11/2025).
Turkiye sangat ingin bergabung, tetapi Netanyahu telah berulang kali mengatakan Israel tidak akan mengizinkannya.
“Perdana menteri mengatakan… tidak akan ada pasukan Turki di lapangan,” kata Bedrosian.
Michael Milshtein, yang mengepalai program studi Palestina di Universitas Tel Aviv, mengatakan keputusan mengenai pasukan stabilisasi pada akhirnya akan berada di tangan Trump.
“Ada perbedaan pendapat antara opini Israel dan opini Amerika, tetapi pada akhirnya, satu-satunya hal yang penting adalah apa yang diinginkan Trump, bukan apa yang dipikirkan Netanyahu,” kata Milshtein.
Turkiye telah menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap perang di Gaza, dan pada hari Jumat (7/11/2025) mengeluarkan surat perintah penangkapan yang menuduh Netanyahu dan beberapa pejabat senior Israel melakukan genosida.
Pertukaran Sandera dan Tahanan
Sejak gencatan senjata dimulai, Hamas telah memulangkan 20 sandera yang masih hidup dan jenazah 24 tawanan, termasuk 21 warga Israel.
Empat jenazah sandera yang tewas dalam serangan Oktober 2023 masih berada di Gaza.
Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan hampir 2.000 tahanan dan memulangkan 315 jenazah tawanan Palestina.
Yang terbaru adalah jenazah 15 warga Palestina yang diserahkan Israel pada hari Senin (10/11/2025) setelah Hamas sehari sebelumnya memulangkan jenazah Letnan Hadar Goldin, yang tewas dalam perang Gaza 2014.
Goldin, yang tewas saat mencoba menghancurkan terowongan Hamas di dekat Rafah, telah hilang selama 11 tahun.
“Waktu telah berhenti,” kata saudara perempuannya, Ayelet Goldin, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Meskipun ada kemajuan dalam pemulangan sandera, warga Gaza tetap cemas tentang masa depan mereka.
“Kami masih merasa tidak aman. Penembakan terus berlanjut… Kami berusaha melindungi anak-anak kami dari trauma psikologis dan membantu mereka melupakan perang,” kata Salma Abu Shawish, 40 tahun, seorang warga kamp pengungsi Al-Bureij di Gaza tengah.
“Hidup di Gaza sulit. Kami masih kekurangan makanan, dan banyak keluarga masih kehilangan tempat tinggal. Kami hanya berharap mimpi buruk ini segera berakhir dan tidak pernah terulang lagi,” tandas Shawish. (rus)
