KABARIKA.ID, WASHINGTON — Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Washington untuk menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump guna melakukan pembicaraan terkait dengan perkembangan di Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua pemimpin tersebut telah bertemu sebanyak tujuh kali dalam hampir 13 bulan terakhir.
Presiden Trump menegaskan kepada PM Netanyahu di Gedung Putih, pada hari Rabu (11/02/2026) bahwa pembicaraan dengan Iran harus dilanjutkan. Trump menolak desakan Netanyahu untuk sikap yang lebih keras terhadap Teheran.
“Tidak ada kesepakatan pasti yang tercapai selain saya bersikeras agar negosiasi dengan Iran dilanjutkan, untuk melihat apakah kesepakatan dapat terwujud atau tidak,” tulis Trump di akun media sosialnya setelah pertemuan selama tiga jam dengan PM Netanyahu.
“Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi prioritas. Jika tidak, kita hanya perlu melihat apa hasilnya,” sambung Trump.
Netanyahu bergegas ke Washington untuk pertemuan ketujuh kalinya dengan Trump sejak pemimpin AS itu kembali berkuasa, sebagai upaya mendorong agar program rudal balistik Republik Islam Iran dimasukkan dalam kesepakatan apa pun.
Kantor PM Netanyahu mengatakan bahwa selama pembicaraan dengan Trump, PM Israel itu mendesakkan kebutuhan keamanan negaranya sehubungan dengan negosiasi tentang Iran.
Trump telah mengisyaratkan tindakan militer AS terhadap Iran setelah penindakan brutal Teheran terhadap para demonstran, tetapi pada saat yang sama Washington dan Teheran memulai kembali pembicaraan pekan lalu di Oman.
Perundingan telah ditangguhkan setelah serangan AS terhadap situs-situs atom Iran selama perang 12 hari Israel dengan Iran, pada Juli 2025 lalu.

Apa yang Diinginkan Netanyahu?
Pertemuan kedua pemimpin di Gedung Putih diadakan secara tertutup, dengan Netanyahu masuk melalui pintu samping tanpa menerima pengawal kehormatan tradisional.
Trump dan Netanyahu terlihat berjabat tangan dalam sebuah foto yang dirilis oleh kantor PM Israel.
Netanyahu mengatakan saat berangkat ke Washington bahwa pembicaraannya terutama akan membahas negosiasi Iran, sambil menambahkan bahwa mereka juga akan membahas Gaza dan isu-isu regional lainnya.
“Saya akan menyampaikan kepada Presiden Trump pandangan kami mengenai prinsip-prinsip untuk negosiasi,” katanya dalam sebuah pernyataan melalui video.
Kekhawatiran Israel mencapai puncaknya selama perang yang belum pernah terjadi sebelumnya tahun lalu, di mana Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan proyektil lainnya ke wilayah Israel, menyerang baik daerah militer maupun sipil.
Apa Pendapat Trump?
Sambil meningkatkan harapan akan kesepakatan nuklir, Trump juga meningkatkan ancaman kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran.
Ia memperingatkan dalam sebuah wawancara dengan media berita Axios pada hari Selasa (10/02/2026) bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan kelompok serang kapal induk kedua ke wilayah tersebut.
“Kita akan membuat kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti sebelumnya. Kita memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul,” kata Trump saat itu.
Apa Komentar Iran?
Sejauh ini, Iran telah menolak untuk memperluas pembicaraannya dengan AS di luar masalah program nuklirnya, meskipun Washington juga menginginkan program rudal balistik Teheran dan dukungannya terhadap kelompok militan regional, juga turut dibahas.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan pada hari Rabu (11/02/2026) bahwa Teheran tidak akan menyerah pada tuntutan yang berlebihan terkait program nuklirnya.
Namun ia bersikeras bahwa negaranya tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir.
Dewan Perdamaian dan Tepi Barat
Kunjungan Netanyahu ke Washington juga membicarakan isu-isu lain, meliputi masalah Gaza hingga Tepi Barat.
Netanyahu secara resmi bergabung sebagai anggota Dewan Perdamaian bentukan Trump selama pertemuan pada Rabu pagi, dengan Menlu AS Marco Rubio, sebagaimana pernyataan kantor PM Israel.
Dewan Perdamian ini awalnya dimaksudkan untuk mengawasi gencatan senjata Gaza, tetapi Presiden Trump sekarang memposisikannya sebagai saingan potensial bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pertemuan kedua pemimpin itu juga terjadi di tengah meningkatnya kemarahan internasional atas tindakan Israel untuk memperketat kendali atas Tepi Barat yang diduduki, dengan mengizinkan para pemukim untuk membeli tanah langsung dari pemilik Palestina. (arabnews/rus)
