KABARIKA.ID, MAKASSAR — Masalah kematian ibu (AKI) akibat persalinan maupun kematian bayi (AKB) baru lahir, masih menjadi persoalan serius di Indonesia hingga saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Guna meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, khususnya bidan yang bersentuhan langsung dengan penanganan ibu hamil hingga proses kelahiran bayi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wajo menggelar kegiatan bertajuk “Diseminasi Skrining Layak Hamil dan Deteksi Faktor Risiko Maternal dan Neonatal bagi Tenaga Kesehatan untuk Menurunkan AKI dan AKB”.
Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Kepala Dinkes Kabupaten Wajo, Dr. drg Hj. Armin AR, M.Kes, Rabu (17/09/2025) di hotel Novotel Makassar.

Dalam sambutannya, Kadinkes Hj Armin menaruh harapan besar melalui kegiatan pelatihan ini, maka angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Wajo dapat di diturunkan, bahkan kalau perlu zero.
Harapan Hj. Armin itu sangat beralasan, sebab selama tahun 2025 telah ditemukan tiga kasus kematian ibu akibat persalinan.
Padahal selama dua tahun berturut-turut, yakni 2023-2024, sebagai Kadinkes Kabupaten Wajo, angka kematian ibu nol alis zero.
Kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu (20/09/2025) ini diikuti 32 orang peserta, terdiri dari bidan koordinator dan dokter umum dari 23 Puskesmas seluruh Kabupaten Wajo. Selain itu, juga hadir perwakilan bidan dari RSUD Lamaddukelleng, RSUD Siwa, RS Hikmah Citra Medika, dan RS Prima Husada Kabupaten Wajo.
Pada hari pertama, materi dibawakan oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sulsel, Mardiana Ahmad.
Dalam materi presentasinya berjudul “The Role of Midwife in Conducting Pregnancy Eligibility Screening and Detecting Risk Factors in Mothers and Babies” (Peran Bidan Dalam Melakukan Skrining Kelayakan Kehamilan dan Mendeteksi Faktor Risiko Pada Ibu dan Bayi), Mardiana mengatakan bahwa saat ini terjadi pergeseran paradigma, yakni dari responsif menjadi proaktif.
Ia menambahkan bahwa secara tradisional, fokus utama layanan kebidanan adalah pada perawatan prenatal dan persalinan.
Namun, lanjut Mardiana, pendekatan modern bergeser ke arah yang lebih holistik dan preventif.
“Bidan kini dituntut untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum kehamilan terjadi dan di awal masa kehamilan,” ujar Mardiana.
Dengan demikian bidan berperan melakukan skrining pra-konsepsi serta mendeteksi faktor risiko pada ibu bayi.
Skrining layak hamil adalah serangkaian kegiatan untuk menemukan adanya faktor risiko dan masalah kesehatan pada calon pengantin (Catin) dan pasangan usia subur (PUS) dengan aplikasi kescantin.
Pelaksanaan skrining layak hamil dengan aplikasi kescantin dapat dilkakukan secara mandiri oleh calon pengantin/PUS atau dengan bantuan petugas kesehatan.
Mardiana menegaskan bahwa peningkatan peran bidan merupakan pilar utama kesehatan ibu dan anak.
Mardiana mengingatkan bahwa setiap Catin penting melakukan skrining layak hamil atau perencanaan kehamilan, sehingga dapat menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat sereta selamat, dan memperoleh bayi yang sehat.
Hal itu penting, karena 70 persen Catin akan hamil dalam tahun pertama setelah pernikahan.
Pembawa materi lainnya adalah dr Muhammad Ikhsan, Sp.A(K) dari RS Wahidin Sudirohusodo Makassar, dengan materi “Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Baru Lahir”.

Juga tampil sebagai pembawa materi Dr dr. Elizabet C. Jusuf, M.Kes, MH, Sp.OG(K) yang menyajikan materi, “Tata Laksana Gizi pada Calon Pengantin untuk Persiapan Kehamilan”.
Tambahan Pengetahuan yang Keterampilan
Seluruh materi yang disajikan selama pelatihan ini menjadi tambahan pengetahuan dan dirasakan sangat bermanfaat bagi para bidan dalam menjalankan tugas mulia sebagai penolong persalinan yang berarti penyelamat nyawa ibu dan bayi.
Menurut Bd. Hj. Nikmawati, S.ST, M.Kes utusan dari Puskesmas Sappa, Kecamatan Belawa, semua mtaeri yang disajikan dalam pelatihan ini menambah pengetahuan dan kemampuan, sehingga lebih menambah keterampilan untuk melakukan skrining.

“Lebih bisa lagi meningkatkan keterampilan untuk menskrining calon pengantin dan Pasangan Usia Subur untuk menentukan layak hamil atau tidak,” ujar Nikmawati.
Ketika ditanya tentang apa yang ia akan lakukan terhadap staf di Puskesma Sappa setelah mengikuti pelatihan ini, khususnya kepada para bidan, Hj. Nikmawati menyebut dua hal.
Pertama, menyosialisasikan materi yang didapat dari pelatihan kepada seluruh staf Puskesmas Sappa, Kecamatan Belawa.
Kedua, melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektor tentang pentingnya deteksi dini kelainan pada calon pengantin atau PUS sebelum hamil, terutama faktor gizi, penyakit yang menyertai, dan pola makan.
Penyebab AKI dan AKB di Indonesia
AKI di Indonesia menurut sensus penduduk 2020 adalah 189 per 100.000 kelahiran hidup, dan AKB pada 2023 tercatat sebesar 17 per 1.000 kelahiran hidup.
Penyebab utama AKI adalah perdarahan (28%), preeklampsia/eklampsia (24%), dan infeksi (11%).
Sedangkan AKB banyak disebabkan oleh bayi lahir mati (BBLR) dan prematuritas (39,2%), asfiksia (30,4%), kelainan kongenital (7,1%), serta infeksi (1,0%). (rus)
