KABARIKA.ID, MAKASSAR — Kabar baik bagi para pencinta kopi. Selama beberapa dekade, kafein telah dianggap sebagai penyebab masalah jantung, tetapi benarkah demikian?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebuah uji coba baru menunjukkan bahwa secangkir kopi harian Anda mungkin baik untuk jantung Anda.
Para peneliti menemukan bahwa minum kopi setiap hari mengurangi risiko fibrilasi atrium, gangguan irama jantung yang umum. Temuan ini menantang anjuran sebelumnya untuk menghindari kafein.
Studi ini menunjukkan bahwa kopi tidak hanya aman, tetapi juga berpotensi melindungi kesehatan jantung.
Pernahkah Anda merasa sedikit bersalah saat meraih cangkir kopi kedua? Nah, ini kabar baik untuk Anda: kopi bisa bermanfaat bagi Anda.
Selama beberapa dekade, kafein dianggap sebagai penyebab masalah jantung, tetapi hal itu mungkin akan segera berakhir.
Para ilmuwan kini mendorong orang-orang untuk mengonsumsi kafein, karena sebenarnya baik untuk jantung.
Dalam uji klinis pertama di dunia, para peneliti menemukan bahwa secangkir kopi berkafein setiap hari dapat melindungi jantung.
Uji klinis yang dipimpin oleh para peneliti dari UC San Francisco dan University of Adelaide ini menemukan bahwa minum kopi setiap hari mengurangi risiko fibrilasi atrium (A-Fib).
Temuan studi ini telah dipublikasikan di jurnal JAMA Network.

Secangkir Kopi Setiap Hari Menjauhkan Risiko A-Fib
Dalam perkembangan yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa minum kopi dapat melindungi dari A-Fib.
Gangguan irama jantung yang umum ini menyebabkan detak jantung cepat dan tidak teratur, serta dapat menyebabkan stroke dan gagal jantung.
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi lonjakan kasus A-Fib, seiring dengan meningkatnya angka obesitas dan populasi yang menua.
Lebih dari 10 juta orang dewasa di AS telah didiagnosis menderita A-Fib. Kondisi jantung ini diperkirakan memengaruhi hingga satu dari tiga orang, sehingga temuan baru ini menjadi krusial.
Hingga saat ini, dokter telah menyarankan orang dengan masalah jantung seperti A-Fib untuk menghindari kafein, karena khawatir dapat memicu gejala.
Namun, uji coba ini menyimpulkan bahwa minum secangkir kopi berkafein sehari mengurangi A-Fib sebesar 39%.
Apa Kata Para Ahli?
“Kopi meningkatkan aktivitas fisik, yang diketahui dapat mengurangi A-Fib. Kafein juga bersifat diuretik, yang berpotensi menurunkan tekanan darah, dan pada gilirannya, mengurangi risiko Fibrilasi Atrium. Beberapa bahan lain dalam kopi juga memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat memberikan efek positif,” kata penulis senior Gregory M. Marcus, MD, MAS.
Marcus memegang gelar Profesor Endowed dalam Penelitian Fibrilasi Atrium dan merupakan ahli elektrofisiologi di UCSF Health.

Studi ini diberi nama DECAF (Does Eliminating Coffee Avoid Fibrillation) – Apakah Menghilangkan Kopi Menghindari Fibrilasi?
Menariknya, ini adalah uji klinis acak pertama yang menyelidiki hubungan antara kopi berkafein dan Fibrilasi Atrium.
Deskripsi Studi
Untuk memahami efek kopi pada penderita A-Fib, para peneliti mendaftarkan 200 pasien peminum kopi dengan A-Fib, atau kondisi terkait yang disebut flutter atrium, beserta riwayat A-Fib.
Para peserta ini menjalani kardioversi elektrik, yang memberikan kejutan listrik tunggal untuk mengembalikan ritme jantung ke normal.
Para peneliti secara acak menugaskan mereka untuk mengonsumsi setidaknya satu cangkir kopi berkafein atau satu shot espresso setiap hari, atau untuk tidak mengonsumsi kopi dan produk lain yang mengandung kafein selama enam bulan.
Mereka menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi kopi memiliki risiko 39% lebih rendah untuk mengalami episode A-Fib berulang. Terdapat juga efek antiinflamasi tambahan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa minum kopi juga dapat mengurangi risiko A-Fib hanya dengan mengurangi konsumsi minuman tidak sehat.
“Hasilnya sungguh mencengangkan. Dokter selalu menyarankan pasien dengan A-Fib yang bermasalah untuk meminimalkan asupan kopi mereka, tetapi uji coba ini menunjukkan bahwa kopi tidak hanya aman tetapi juga cenderung bersifat protektif,” kata penulis pertama Christopher X. Wong, PhD, dari UCSF dan University of Adelaide serta Royal Adelaide Hospital. (rus)
