KABARIKA.ID, MAKASSAR — Layar gawai seringkali tampak tidak berbahaya bagi bayi. Warna-warna cerah dan gambar yang bergerak dapat memberi beberapa menit ketenangan bagi bayi, juga dapat membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih mudah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi banyak orang tua, atau kaum ibu dan keluarga, penggunaan layar gawai sejak dini terasa normal dan biasa-biasa saja. Bahkan mereka menganggap ampuh untuk menghentikan bayi rewel.

Namun anggapan orang tua itu ternyata mengandung bahaya jangka panjang yang tidak terlihat bagi bayi.

Penelitian jangka panjang terbaru yang mengaitkan paparan layar gawai pada dua tahun pertama kehidupan dengan perubahan jangka panjang dalam perkembangan otak, turut membentuk seberapa cepat anak berpikir dan seberapa rentan mereka terhadap kecemasan di tahun-tahun berikutnya.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ai Peng Tan dari Universitas Nasional Singapura ini mengikuti perkembangan anak-anak sejak bayi hingga remaja melalui kohort Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes.

Mereka menggunakan pemindaian otak, tes berpikir, dan survei kesehatan mental, para peneliti menelusuri bagaimana kebiasaan penggunaan layar gawai di usia dini dapat memengaruhi jaringan otak dari waktu ke waktu.

Penggunaan Layar di Usia Dini Membentuk Otak Bayi

Pertumbuhan otak berlangsung paling cepat selama dua tahun pertama kehidupan. Volume otak meningkat tajam, dan jaringan yang mengontrol penglihatan, perhatian, dan berpikir mulai terorganisasi.

Pengalaman selama masa bayi membentuk bagaimana area otak terhubung dan berkomunikasi. Paparan layar gawai pada bayi bergantung pada pilihan orang dewasa.

Oleh karena itu, masa kanak-kanak awal menawarkan jendela yang ampuh untuk mendapatkan bimbingan. Paparan layar setelah masa bayi tidak menunjukkan efek serupa. Masa kanak-kanak awal merupakan tahap yang sangat sensitif.

Perubahan pada Jaringan Otak

Para peneliti mengikuti 168 anak dan mengumpulkan hasil pemindaian otak pada usia 4,5, 6, dan 7,5 tahun. Alih-alih mengambil satu foto saja, tim tersebut melacak bagaimana jaringan otak berubah selama beberapa tahun.

Fokus tetap pada integrasi jaringan, yang berarti seberapa baik berbagai area otak bekerja sama.

Paparan layar gawai yang lebih tinggi sebelum usia dua tahun dikaitkan dengan perubahan yang lebih cepat pada jaringan yang mengelola penglihatan dan kontrol kognitif.

Masukan visual dari layar gawai datang dengan cepat dan intens. Stimulasi seperti itu dapat mendorong sistem visual untuk matang terlalu cepat.

Terlalu Banyak, Terlalu Cepat

Perkembangan otak biasanya mengikuti jalur bertahap. Jaringan menjadi terspesialisasi selangkah demi selangkah sambil membangun hubungan yang kuat dengan wilayah lain. Spesialisasi yang cepat dapat mengganggu keseimbangan ini.

“Pematangan yang dipercepat terjadi ketika jaringan otak tertentu berkembang terlalu cepat, seringkali sebagai respons terhadap kesulitan atau rangsangan lain,” kata Dr. Huang Pei, penulis pertama studi tersebut.

Selama perkembangan normal, kata Pei, jaringan otak secara bertahap menjadi lebih terspesialisasi dari waktu ke waktu.

“Namun, pada anak-anak dengan paparan layar gawai yang tinggi, jaringan yang mengontrol penglihatan dan kognisi terspesialisasi lebih cepat, sebelum mereka mengembangkan koneksi efisien yang dibutuhkan untuk berpikir kompleks. Ini dapat membatasi fleksibilitas dan ketahanan, membuat anak kurang mampu beradaptasi di kemudian hari,” papar Pei.

Beban sensorik yang berlebihan di usia dini dapat mempersempit aliran informasi di otak. Sistem visual mungkin mendominasi sementara jaringan lain tertinggal.

Pengambilan Keputusan Menjembatani Perubahan Otak

Pengambilan keputusan bergantung pada masukan sensorik, kecepatan berpikir, dan sinyal emosional yang bekerja bersama.

Para peneliti menguji pengambilan keputusan pada usia 8,5 tahun menggunakan tugas yang mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan anak-anak sebelum membuat pilihan.

Anak-anak dengan perkembangan jaringan otak yang berubah membutuhkan lebih banyak waktu untuk memutuskan. Waktu pengambilan keputusan yang lebih lama tidak berarti pilihan yang lebih baik.

Sebaliknya, respons yang lebih lambat menunjukkan kesulitan memproses informasi visual secara efisien.

Teori otak membantu menjelaskan pola ini. Pengambilan keputusan bergantung pada pencapaian ambang batas sinyal mental.

Masukan sensorik membantu membangun sinyal tersebut. Ketika pemrosesan sensorik berkembang tidak merata, mencapai ambang batas tersebut membutuhkan waktu lebih lama, dari pengambilan keputusan yang lebih lambat hingga kecemasan

Gejala kecemasan muncul lebih lambat, sekitar usia 13 tahun. Anak-anak yang menunjukkan pengambilan keputusan yang lebih lambat melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

Wilayah otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan tumpang tindih dengan wilayah yang terlibat dalam kecemasan. Gangguan pada jaringan bersama dapat memengaruhi pemikiran dan pengaturan emosi.

Para peneliti menemukan rantai yang jelas. Paparan layar gawai sejak dini dikaitkan dengan pematangan jaringan otak yang lebih cepat. Pematangan yang lebih cepat dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang lebih lambat. Pengambilan keputusan yang lebih lambat dikaitkan dengan kecemasan yang lebih tinggi.

Hubungan langsung antara paparan layar gawai sejak dini dan kecemasan tidak muncul tanpa perubahan otak dan pengambilan keputusan di antaranya.

Waktu Layar dan Kelebihan Beban Sensorik

Pemrosesan sensorik memainkan peran sentral dalam jalur ini. Layar gawai memberikan masukan visual yang kuat, tetapi menawarkan umpan balik fisik, sosial, atau emosional yang terbatas.

Seiring waktu, ketidakseimbangan sensorik dapat memengaruhi cara otak menangani ketidakpastian dan stres.

Gangguan kecemasan seringkali melibatkan sensitivitas sensorik. Kesulitan menyaring penglihatan dan suara dapat meningkatkan kekhawatiran dan ketegangan emosional.

Perubahan awal pada jaringan visual dan kognitif dapat meningkatkan kerentanan selama masa remaja.

Hasil penelitian selengkapnya dapat diakses di sini.

Membaca, Mendukung Perkembangan Otak

Sebuah studi terkait dari kelompok penelitian yang sama menunjukkan efek perlindungan dari kegiatan membaca bersama antara orang tua dan anak.

Membaca menawarkan perhatian bersama, paparan bahasa, dan koneksi emosional. Interaksi semacam itu mendukung perkembangan otak yang seimbang.

Membaca melibatkan jeda, pertanyaan, ekspresi wajah, dan kehangatan. Layar gawai tidak memiliki fitur-fitur ini.

Membaca secara teratur membantu melemahkan hubungan antara paparan layar dini dan perubahan otak di kemudian hari.

“Penelitian ini memberi kita penjelasan biologis mengapa membatasi waktu penggunaan layar gawai dalam dua tahun pertama sangat penting. Ini juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua, aktivitas orang tua dan anak, seperti membaca bersama, dapat membuat perbedaan nyata,” kata Dr. Tan.

Pengalaman di awal kehidupan membentuk jalur otak yang bertahan selama bertahun-tahun. Mengurangi paparan layar gawai selama masa bayi dan meningkatkan interaksi manusia secara langsung, mendukung pola pikir yang lebih sehat dan kesejahteraan emosional.

Pilihan-pilihan kecil di awal kehidupan dapat memengaruhi kesehatan mental hingga masa remaja.