KABARIKA.ID, BRASILIA — Bayi kembar perempuan berusia dua tahun tujuh bulan yang lahir dengan kepala menyatu (craniopagus), akhirnya meninggal dunia beberapa menit setelah menjalani operasi pemisahan dalam rangkaian lima operasi yang sangat berat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 50 orang dokter ahli dan tim medis pendukung tak mampu menyelamatkan nyawa dari kedua bayi kembar tersebut, melalui operasi yang berlangsung 15 jam pada 15 Agustus silam.
Heloísa dan Helena harus menjalani lima operasi yang berat setelah lahir dengan kepala yang menyatu. Keduanya berbagi jaringan otak dan pembuluh darah.
Kondisi kesehatan mereka telah dipantau secara cermat selama hampir dua tahun oleh Hospital das Clínicas di Ribeirão Preto, Brasil.
Selama setahun terakhir, mereka telah berhasil menyelesaikan empat tahap operasi sebelum pemisahan akhir.
Lebih dari 50 staf medis dan pendukung terlibat dalam operasi tersebut, bekerja tanpa lelah untuk memisahkan kepala kedua bayi perempuan itu.
Hanya beberapa menit setelah kedua anak itu dipisahkan pada akhir operasi kelima sekaligus yang terakhir, kondisi mereka memburuk dengan cepat.
Tim medis menyatakan bahwa bayi kembar tersebut mengalami ketidakstabilan hemodinamik, kondisi di mana aliran darah ke organ vital tidak memadai, yang dapat menyebabkan kegagalan berbagai organ dan kematian.

Selama proses operasi berlangsung, salah satu anak mengalami tekanan darah rendah, sementara yang lainnya mengalami tekanan darah tinggi.
Selain itu, kedua anak tersebut juga secara tragis mengalami serangan jantung. Helena mengalami pada pukul 23:12 dan Heloísa pada pukul 23:26 waktu setempat.
Para dokter berupaya keras melakukan resusitasi selama 25 menit, namun tak lama kemudian mereka dinyatakan meninggal dunia; Helena pada pukul 23:37 dan Heloísa pada pukul 23:51 waktu setempat.
Ayah mereka, Amarildo Batista da Silva, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dokter dan staf rumah sakit atas upaya yang telah dilakukan, meskipun hasil dari upaya maksimal tim dokter menimbulkan kesedihan baginya, karena kehilangan kedua anaknya.
Jayme Farina Júnior, seorang dokter bedah plastik dalam tim medis tersebut, mengatakan bahwa kondisi fisik kedua anak itu sangat rapuh.
“Mereka berkali-kali menderita pneumonia, menjalani trakeostomi, memerlukan gastrostomi untuk asupan makanan, serta mengalami berbagai kondisi kesehatan lain yang turut melemahkan tubuh mereka. Namun, pada saat operasi pemisahan terakhir dilakukan, tubuh mereka tidak mampu menahan ketidakstabilan kondisi tersebut, yang kemudian berujung pada henti jantung,” papar Farina Júnior.
Tiga operasi awal yang dijalani si kembar mengharuskan dokter memisahkan sekitar 75% jaringan otak dan pembuluh darah yang menyatu di antara keduanya.
Pada operasi keempat tim dokter melakukan pemasangan alat peregang jaringan (tissue expander) untuk menambah ketersediaan kulit yang nantinya digunakan dokter untuk menutup tengkorak saat pemisahan tahap akhir.
Amarildo mengatakan bahwa ia tidak memandang kematian mereka sebagai sebuah kekalahan bagi tim medis.
“Setiap anak yang meninggal adalah sebuah kekalahan, sedangkan setiap anak yang berhasil diselamatkan adalah sebuah kemenangan. Saya yakin Anda semua memiliki jauh lebih banyak kemenangan dibandingkan kekalahan, jadi kejadian ini tidak lantas menjadi sebuah kekalahan,” ujar Amarildo.
Kedua anak perempuan tersebut merupakan pasangan kembar craniopagus (yang menyatu pada bagian kepala) ketiga yang ditangani di Hospital das Clínicas. (rus)
