KABARIKA.ID, MAKASSAR – Menggandeng Aliansi Kebangsaan dan Akar Foundation, Universitas Hasanuddin, menggelar acara “Dialog Kebangsaan” sebagai wadah inspiratif bagi generasi muda untuk mengekspresikan semangat nasionalisme.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini berlangsung di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, pada Sabtu (24/5/2025), dipandu oleh Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, penggagas Festival Kebangsaan yang telah dilaksanakan sejak tahun 2023.
Dalam pengantarnya, Al-Zastrouw menekankan peran kampus dalam mengaktifkan nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.
Sebagai narasumber, hadir sejumlah figur publik muda, antara lain Once Mekel, Alffy Rev, Shanna Shannon, dan Raisa Anggiani. Mereka berbagi pandangan mengenai pentingnya orisinalitas, kreativitas, serta kontribusi anak muda dalam membentuk karakter bangsa.
Musisi senior Once Mekel membuka sesi dengan refleksi atas perjalanan karier musiknya. “Yang paling penting dalam belajar musik adalah menikmatinya. Sejak kecil, saya sudah bermimpi tampil di panggung,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tantangan di era digital, di mana kemudahan produksi tidak boleh mengurangi kedalaman karya. “Teknologi memang memudahkan, tapi jangan sampai kita kehilangan identitas. Harus tetap ada perspektif yang otentik,” kata Once.
Kreator visual dan produser musik, Alffy Rev, menekankan pentingnya konsistensi dan visi besar dalam berkarya. “Kita harus tahu misi besar kita. Semangat kebangsaan bisa hadir dalam bentuk karya yang menginspirasi. Semua unsur audio, visual, dan narasi harus bersatu dan memiliki makna,” jelasnya.
Shanna Shannon, penyanyi muda yang juga aktif dalam kegiatan sosial, menyampaikan bahwa nilai kebangsaan dapat tumbuh dari pengalaman sederhana. “Saya bangga bisa menjadi bagian dari karya kebangsaan. Rasa cinta pada tanah air bisa tumbuh dari hal kecil, seperti berbagi waktu bersama keluarga untuk kegiatan sosial,” tuturnya.
Sementara itu, Raisa Anggiani menekankan pentingnya ruang aman dan terbuka bagi generasi muda untuk berekspresi. “Dialog seperti ini penting karena memberi ruang untuk saling mendengar dan memahami. Kita bisa mulai dari menerima diri, jujur pada potensi, dan berani mengeksekusi ide,” ujarnya. Menurutnya, semangat kebangsaan adalah keberanian untuk memperjuangkan visi dan nilai yang diyakini.
Dialog Kebangsaan di UNHAS menjadi momentum penting untuk merawat semangat persatuan melalui ekspresi kreatif generasi muda. Sebagai tuan rumah, UNHAS berharap kegiatan ini dapat memicu lahirnya gerakan kebudayaan baru yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan identitas Indonesia. (*)
