KABARIKA.ID, MAKASSAR – Riuh tepuk tangan menggema di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Kampus UNHAS Tamalanrea, Selasa (15/7/2025) pagi. Dari ribuan wajah bahagia yang mengenakan toga, satu sosok tampil mencuri perhatian, Agum Trianto Gunawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan senyum hangat dan langkah penuh keyakinan, ia melangkah ke panggung wisuda, membawa serta kisah perjuangan yang tak biasa. Agum bukan hanya lulusan Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.

Tapi, ia adalah simbol harapan, bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Menyandang disabilitas daksa sejak kecelakaan pada 2008, Agum justru menjadikan tantangan itu sebagai bahan bakar untuk terus maju.

Hasilnya, ia lulus dengan IPK 3,98 dan predikat Cum Laude, hanya dalam waktu 1 tahun 9 bulan. “Saya tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti. Justru ini yang membuat saya semangat,” ujar Agum usai prosesi wisuda.

Semangat itu tidak datang begitu saja. Agum memulai perjalanannya sebagai penerima beasiswa LPDP pada 2023. Ia aktif mencari informasi tentang dukungan bagi mahasiswa disabilitas. Ketika mengetahui bahwa Unhas memiliki layanan disabilitas, hatinya mantap. Di sinilah ia untuk pertama kalinya bertemu dan berjejaring dengan sesama mahasiswa difabel.

“Rasanya menyenangkan, karena saya tidak sendiri. Ada komunitas yang saling mendukung. Saya bersyukur bisa kuliah di kampus yang punya perhatian besar terhadap teman-teman disabilitas,” tuturnya.

Selama kuliah, Agum tidak hanya belajar. Ia juga aktif meneliti, dan berhasil mempertahankan tesis berjudul “Pengaruh Budaya Organisasi dan Knowledge Sharing Terhadap Kinerja Relawan Melalui Motivasi Relawan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin.”

Baginya, belajar bukan hanya tentang lulus dan gelar. Ini soal keberanian memulai, melangkah, dan memberi dampak. Ia berharap, kisahnya bisa menjadi motivasi bagi banyak orang, khususnya teman-teman difabel, agar terus percaya bahwa mereka juga mampu.

“Jangan takut bermimpi. Ada jalur afirmasi di UNHAS, dan itu nyata. Kita bisa, asal tidak menyerah,” tambah Agum dengan penuh keyakinan.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., tak menyembunyikan rasa bangganya. Di depan ribuan peserta wisuda, ia menyebut nama Agum sebagai contoh bahwa inklusi bukan sekadar slogan.

“Kisah Agum adalah inspirasi. Semangat belajar dan kontribusi positif bisa datang dari siapa saja. Unhas adalah enabling environment bagi semua potensi. No one left behind,” tegas Prof. JJ.

Komitmen Unhas terhadap pendidikan inklusif bukan isapan jempol. Melalui layanan disabilitas, jalur afirmasi, dan dukungan beasiswa, kampus merah ini membuka lebar pintu bagi semua kalangan, tanpa kecuali.

Agum kini telah lulus. Namun misinya belum selesai. Ia ingin kembali ke masyarakat, menjadi penggerak, dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar. (*)