KABARIKA.ID, MAKASSAR – Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026-2030 diwarnai dua kejutan besar. Perolehan suara telak Rektor petahana, Prof. Jamaluddin Jompa, dan lolosnya seorang “kuda hitam”, Prof. Sukardi Weda dari Universitas Negeri Makassar (UNM), yang hanya satu suara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemenangan dominan Prof Jamaluddin Jompa, yang meraih 80% suara Senat Akademik, kini menghadapi babak baru yang justru penuh ketidakpastian, di mana kekuatan suara terpusat pada satu orang Menteri Pendidikan.

Pemungutan suara tertutup oleh Senat Akademik Unhas pada Senin (3/11) menghasilkan tiga nama yang maju ke tahap selanjutnya. Dari enam bakal calon, hanya tiga yang berhasil meraih suara dari 93 senator.

Hasilnya adalah kemenangan mutlak untuk Prof. Jamaluddin Jompa dengan 74 suara. Posisi kedua ditempati rival lamanya, Prof. Budu, dengan 18 suara.

Kejutan datang dari Prof. Sukardi Weda yang melenggang ke babak berikutnya meski hanya mengantongi satu suara. Tiga calon lainnya gagal memperoleh suara sama sekali.

Menyikapi kemenangan telaknya, Prof. JJ mengaku bersyukur dan terkejut. “Ini di luar dugaan saya, karena saya begitu sibuk menjadi Rektor, tapi senator rupanya telah menentukan sikap,” ujarnya.

Ia menyadari ini bukan akhir perjalanan, tetapi menganggapnya sebagai aspirasi kuat keluarga besar Unhas.

Sementara itu, Prof. Budu, ketika ditanya strategi menghadapi Majelis Wali Amanat (MWA), memilih untuk bersikap pasrah. “Kita serahkan semua pada proses. Tentu, Menteri pasti punya sebuah mekanisme,” ujarnya. Sikap ini kontras dengan keyakinan Prof. Jompa dan pendekatan rasional Prof. Sukardi.

Lolosnya Prof. Sukardi Weda dengan satu suara menjadi pembicaraan hangat. Calon dari luar Unhas ini menyatakan keyakinannya pada pemilih rasional di tahap selanjutnya.

Ia langsung menyasar masalah harian warga kampus dengan visi konkretnya, pembangunan jalan layang untuk mengatasi kemacetan di Pintu 1 dan Pintu 2 Unhas. “Itu kan masuk akal. Itu rasional,” tegasnya.

Uniknya, Prof. Sukardi mengaku tidak pernah melakukan lobbying kepada para senator dan hanya mengandalkan kekuatan visi-misinya.

Pertarungan sesungguhnya kini berpindah ke MWA yang akan berlangsung pada Januari 2026. Di babak ini, peta kekuatan berubah drastis. Suara tidak lagi terdistribusi di 93 senator, melainkan hanya pada 17 anggota MWA.

Yang paling menentukan, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Mendikti ristek) memegang 9 suara atau setara dengan 35% dari total kekuatan suara. Ini berarti dukungan Menteri akan menjadi faktor penentu yang hampir mutlak. (*)