KABARIKA.ID, MAKASSAR – Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI melakukan kunjungan kerja ke Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk mendorong percepatan implementasi kampus inklusif, Selasa (3/2/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Rektorat UNHAS ini membahas strategi penguatan ekosistem inklusif di perguruan tinggi, termasuk dukungan teknologi, pelatihan dosen, serta perluasan layanan di seluruh fakultas.
Ishak Salim, Ketua Pusdis Unhas, menegaskan bahwa pendekatan yang diusung tidak hanya bersifat asistif, tetapi juga memberdayakan.
“Pusdis dirancang sebagai ruang aman bagi mahasiswa difabel untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan self-advocacy. Sebagian staf kami adalah mahasiswa yang bertindak sebagai pendamping sekaligus mitra, termasuk Juru Bahasa Isyarat tersertifikasi,” jelas Ishak.
Ia menambahkan, Pusdis aktif menyusun modul dan panduan pembelajaran inklusif dengan melibatkan langsung mahasiswa difabel, sehingga proses belajar mengajar dapat lebih adaptif dan partisipatif.
Komisioner KND, Eka Prastama Widiyanta, mengapresiasi langkah UNHAS sebagai salah satu perguruan tinggi pelopor kampus inklusif di Indonesia Timur.
“Kami ingin mendalami praktik baik yang telah diterapkan, sekaligus mendorong inovasi teknologi pendukung seperti fasilitas akses dan sarana pembelajaran mandiri. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga memudahkan dosen dalam mengelola kelas inklusif,” ujarnya.
Rektor UNHAS, Prof. Jamaluddin Jompa, menekankan bahwa keberadaan Pusdis merupakan komitmen universitas dalam mewujudkan layanan pendidikan yang profesional dan berkeadilan.
“Pusdis telah berjalan tiga tahun, namun pengembangan layanan dan fasilitas, terutama di fakultas dengan gedung bertingkat, masih perlu dukungan berkelanjutan. Ke depan, kami akan memperkuat kolaborasi lintas fakultas, termasuk dengan Fakultas Teknik, untuk menciptakan teknologi pendukung yang terintegrasi,” tegas Rektor.
Kunjungan ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya kampus yang benar-benar inklusif, tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga budaya akademik yang memfasilitasi potensi penuh setiap mahasiswa. (*)
