KABARIKA.ID, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin tidak sekadar membangun dapur untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih dari itu, kampus ini mengubah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi simpul strategis yang mengintegrasikan riset, keahlian dosen, keterlibatan mahasiswa, hingga produk unggulan kampus dalam satu ekosistem, menjadikannya laboratorium hidup yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Sebagai langkah nyata mendukung program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengembangkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikenal sebagai Dapur MBG Unhas.

Berbeda dari konsep dapur pada umumnya, fasilitas ini dirancang sebagai pusat integrasi riset dan layanan gizi berbasis kampus.

Rektor UNHAS, Prof. Jamaluddin Jompa menegaskan, bahwa keberadaan SPPG tidak hanya untuk memproduksi makanan bergizi bagi sekolah-sekolah, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan sumber daya internal kampus.

Seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku yang berasal dari produk unggulan Unhas, hingga distribusi, dirancang melibatkan para ahli gizi, dosen, dan tenaga kependidikan.

“SPPG ini kita dorong agar seluruh prosesnya berbasis pada kekuatan internal Unhas, termasuk pelibatan para ahli gizi. Kita ingin memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan jaminan pemenuhan gizi bagi masyarakat,” ujar Prof. JJ, sapaan akrabnya, saat meninjau progres dan kesiapan dapur tersebut.

Pengembangan SPPG dilakukan melalui Yayasan Metavisi Akademika Nusantara (MAN). Awalnya, dapur ini direncanakan menempati eks kantin di area Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas.

Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan teknis, lokasinya dipindahkan ke area di samping Masjid Kampus UNHAS, sebuah titik strategis yang dinilai lebih representatif untuk mengakomodasi skala produksi dan pengembangan ke depan.

Lebih dari sekadar unit produksi, SPPG UNHAS dibangun dengan pendekatan hulu ke hilir. Kampus tidak hanya berperan sebagai penghasil pengetahuan melalui riset, tetapi juga menjadi lokus implementasi nyata.

Hasil riset para akademisi diharapkan bisa langsung diuji, dikembangkan, dan diaplikasikan dalam bentuk produk pangan bergizi yang menjangkau masyarakat luas.

“Ini adalah bagian dari kontribusi Unhas dalam mendukung program pemerintah, sekaligus memastikan bahwa keilmuan yang kita miliki benar-benar hadir untuk masyarakat. Kita ingin bergerak dari hulu ke hilir, dari kampus untuk kemajuan masyarakat,” lanjut Prof. JJ.

Yang membedakan SPPG UNHAS dari program MBG lainnya adalah visinya sebagai laboratorium hidup (living lab).

Dapur ini dirancang untuk menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga ahli.

Di dalamnya, aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat terintegrasi secara langsung dengan proses produksi. Mahasiswa gizi, teknologi pangan, hingga ekonomi kreatif dapat terlibat dalam setiap tahapan, mulai dari formulasi menu, uji kualitas, hingga manajemen distribusi.

“Kita ingin menjadikan SPPG ini berbasis riset, data, dan inovasi. Dengan begitu, dampaknya bisa berkelanjutan dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” urai Prof. JJ.

Dalam peninjauan tersebut, Rektor juga menekankan pentingnya percepatan operasional SPPG. Seiring dengan pematangan fasilitas dan sistem pendukung, dapur MBG berbasis perguruan tinggi ini ditargetkan segera beroperasi secara optimal.

UNHAS berharap SPPG tidak hanya menjadi model layanan gizi nasional, tetapi juga titik awal terciptanya ekosistem inovasi pangan berkelanjutan yang lahir dari kampus untuk kemajuan masyarakat. (*)