KABARIKA.ID, NEW YORK — Baru-baru ini Meta meluncurkan asisten AI yang telah lama dinanti-nantikan, yang mampu mengirim email, menjual mobil, dan memesan perjalanan secara otonom atas nama pengguna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik itu, terdapat kekhawatiran internal mengenai potensi kesalahan pengelolaan akses teknologi tersebut terhadap data pribadi yang sensitif.

Agen Muse milik perusahaan, yang secara internal dikenal sebagai Hatch, merupakan elemen kunci dari rencana CEO Mark Zuckerberg untuk menghadirkan “super-kecerdasan pribadi” bagi miliaran orang yang menggunakan layanan Meta setiap harinya.

Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya terbaru pemilik Facebook dan Instagram ini untuk mendiversifikasi sumber pendapatan di luar iklan, serta membangun bisnis yang layak dari investasi besar-besaran perusahaan pada cip AI dan infrastruktur lainnya, yang diprediksi akan melampaui angka $130 miliar tahun ini.

Produk ini awalnya hanya akan tersedia di AS melalui aplikasi khusus Muse atau layanan pesan WhatsApp milik Meta, menurut informasi yang disampaikan perusahaan dalam pengumumannya.

Meta menyatakan rencananya untuk menambahkan agen tersebut ke dalam jajaran produk kacamata pintarnya dalam waktu dekat, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Menurut juru bicara Meta, versi dasar agen ini akan tersedia secara gratis, sementara Meta akan menawarkan paket berlangganan dengan harga $20 per bulan dan $100 per bulan untuk penggunaan yang lebih intensif.

Pengguna dapat memilih untuk tidak mengizinkan interaksi mereka digunakan guna melatih model AI Meta, dan perusahaan berencana meluncurkan versi terenkripsi dari Muse pada akhir tahun ini.

Meningkatkan Aspek Keamanan

“Dikembangkan berdasarkan agen AI sumber terbuka (open-source) OpenClaw, Muse dirancang untuk mengakses aplikasi pengguna di berbagai kategori, seperti email, kalender, pembayaran, kesehatan, belanja, dan rumah pintar (smart home),” ungkap Meta.

Pengguna dapat memilih aplikasi mana yang terhubung dengan Muse dan dapat mencabut akses tersebut kapan saja.

Setiap agen Muse beroperasi pada mesin virtualnya sendiri, sebuah emulasi komputer pribadi berbasis cloud, yang memungkinkannya untuk terus memproses permintaan di latar belakang bahkan saat pengguna tidak sedang menggunakannya secara aktif.

Sinkronisasi dengan aplikasi yang memuat data asli pengguna tidak hanya meningkatkan potensi kegunaan agen tersebut, tetapi juga secara signifikan meningkatkan risiko terkait keamanan, baik bagi pengguna yang telah memercayakan informasi mereka maupun bagi pihak lain yang mungkin terdampak jika agen tersebut berperilaku tidak semestinya.

Vishal Shah, Wakil Presiden Produk AI di Meta, mengatakan bahwa perusahaan sempat menunda peluncuran produk ini pada bulan April demi meningkatkan keamanannya.

Menurut Shah, upaya tambahan tersebut memungkinkan mereka untuk “melampaui ambang batas” dan “mencapai standar minimum yang diperlukan agar produk ini dapat dihadirkan kepada masyarakat”.

“Mustahil untuk menjamin bahwa kesalahan tidak akan pernah terjadi, namun setiap bagian dari arsitekturnya telah dirancang untuk menjadikannya seaman dan seprivat mungkin,” ujar Shah.

Salah satu langkah perlindungan yang diterapkan Meta pada sistem Muse adalah penggunaan agen terpisah yang memantau tindakan yang direncanakan.

Dalam situasi tertentu, agen ini akan meminta Muse untuk mendapatkan izin pengguna sebelum menjalankan tindakan tersebut.

Hasil Pengujian Internal yang Beragam

Namun, pada pekan ini karyawan Meta yang menguji alat tersebut melaporkan hasil yang beragam, sebagaimana terungkap dalam unggahan internal perusahaan.

Seseorang menulis bahwa produk tersebut sangat berguna dalam mengatur logistik liburan, hingga Muse dianggap sebagai “peserta ketiga” dalam perjalanan bulan madu selama tiga minggu di Indonesia baru-baru ini.

Pihak lain menyoroti celah keamanan serius. Misalnya, ada agen yang mengakali batasan sistem sehingga menampilkan foto-foto pribadi iCloud pengguna setelah diminta mengidentifikasi mainan yang terlihat dalam foto pesta ulang tahun anak.

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengunggah kabar bahwa ia terus-menerus keluar dari sistem (logged out) dan harus masuk kembali, terkadang beberapa kali dalam rentang waktu hanya beberapa menit.

Dalam unggahan lain, seorang karyawan yang menugaskan Muse untuk memantau ketersediaan tiket dan barang lain yang cepat habis terjual melaporkan adanya “banyak kegagalan fungsi yang membuatnya tidak dapat diandalkan.”

Orang tersebut menyebutkan bahwa produk itu berhenti memperbarui halaman setelah sekitar 15 menit, mengabaikan kesalahan lain tanpa notifikasi, dan terkadang menghentikan pemantauan “tanpa alasan yang jelas.”

Meta tidak menanggapi permintaan komentar terkait insiden-insiden spesifik yang dijelaskan dalam unggahan internal tersebut.

Peluncuran ini terjadi di tengah terungkapnya fakta bahwa agen AI dari berbagai laboratorium terkemuka, termasuk OpenAI, Anthropic, dan Meta, telah menimbulkan masalah yang tidak disengaja akibat tindakan melanggar aturan serta perilaku tak terduga lainnya.

Di internal Meta, insiden teknis dan keamanan besar telah melonjak 40 persen dibandingkan tahun lalu akibat lonjakan penulisan kode berbasis AI dan masalah terkait agen.

Sedangkan waktu yang dihabiskan staf untuk menangani insiden-insiden tersebut meningkat sebesar 70 persen. (rus)