MENIMBANG KAPITALISASI EKONOMI BERBASIS RIBA

Tinjauan Memotret Fenomena Maraknya Pinjaman Online

Opini352 Dilihat

Oleh : Zahir Juana Ridwan

Pustakawan spesialis geografi,
Sastrawan dan pemerhati psiko-sosial

Alumni ADM fisip Angk.95 Unhas

Melihat perkembangan dan perubahan zaman yang kian cepat ini maka arah pikiran kita seakan disunguhkan dengan kecanggihan dalam segala bentuknya, kemewahan dalam formulasi yang serba prima, kecepatan layanan yang tak pernah terbayangkan, serta segenap kebutuhan hidup yang berlimpah. Namun, pada sisi lainnya kita tengah dipertontonkan oleh gaya kehidupan manusia yang serba individualistik, kehilangan rasa persaudaraan nan harmoni. Kehebatan penemuan ternyata tidak seiring selaras dengan bahagianya hati manusia. Segala kecanggihan teknologi yang terhidang bahkan lebih banyak membuat manusia hidup menyimpang.

Pada alaf baru ini, perubahan memasuki tahapan yang memang dimensinya cukup cepat. Akselerasinya nyaris bagaikan hitungan deret ukur, sementara pada ihwal lainnya berbagai bentuk penghianatan, pembunuhan, tindakan kriminal dengan varian yang beragam telah tersaji di depan mata kita sebagai manusia abad modern.

Dari fenomena tersebut maka beberapa telaah dan pertanyaan telah muncul bahwa apakah kemajuan teknologi dan peningkatan ekonomi serta sumber daya yang ada mampu menyajikan adab-adab ekonomi serta psiko-sosial yang lebih gemilang dan adil? Ternyata membaca peradaban tidaklah sesederhana hitungan angka-angka yang diolah, karena kuantifikasi kejayaan dan kemakmuran tidak selalu selaras dengan kemakmuran secara kualitatif dan substantif yang ukurannya bisa mencakup kebahagiaan sejati.

Pengantar di atas sesungguhnya hendak memberikan penekanan kepada semua pembaca bahwa kemajuan suatu peradaban itu punya variabel yang luas dan beragam. Dalam konteks penulisan artikel (opini) ini maka saya hendak berkata bahwa pertumbuhan ekonomi itu tidak senyatanya bisa ditakar atau ditimbang dengan banyaknya pola pembangunan serta laju yang cepat dalam geliat ekonomi. Ada angka tersendiri yang secara kualitatif kurang disadari yakni tekanan jiwa masyarakat akibat ekonomi yang “dipaksa” maju dengan gempuran riba atau secara sederhana saya sebut “kapitalisasi ekonomi”.

Kata kapital berarti modal, kapitalisasi ekonomi secara substantif memberikan gambaran bahwa ekonomi akan didongkrak sedemikian kuat untuk memperlihatkan wajah kemajuan yang sesungguhnya bisa saja palsu. Kapitalisasi ekonomi mempunyai ciri yang beragam dan salah satu diantaranya adalah konsepsi ekonomi berbasis ribawi. Seiring dengan itu maka kapitalisasi ekonomi juga tengah menghidangkan potret pengeksploitasian sumber sumber daya alam yang serakah.

Ekonomi berbasis ribawi adalah ekonomi yang bertumbuh dengan cara berpikir ribawi, konsep pinjaman dan dagang dengan varian riba, serta penanganan masalah yang juga selaras dengan cara-cara ribawi yang terkesan sangat kejam bagi adab-adab kemanusiaan yang luhur. Inilah yang membuat mengapa pada satu sisi kemajuan semakin luar biasa dengan segala teknologi yang menyertainya, namun pada sisi lainnya masyarakat semakin tertekan dan hidup nestapa ditingkahi berbagai penghiatan dari beberapa elit bangsa yang memang serakah untuk menguasai pos-pos ekonomi suatu bangsa.

Riba, yang dalam pemaknaannya berarti tambahan beban pada substansinya tidaklah akan membawa kedamaian dan kebahagiaan. Kemajuan akibat ribawi adalah kemajuan semu dan akan membawa petaka pada beberapa waktu setelahnya. Bukti telah terhidang dimana-mana dengan cakupan peradaban yang sangat banyak dari masa lalu hingga kini. Hampir semua riba yang kita kenal itu telah memporak-porandakan ekonomi masyarakat. Mengapa? Karena cara berpikir ribawi itu adalah keserakahan yang menjajah jiwa demi penambahan beban utang kepada masyarakat banyak.

Kini maraknya masyarakat yang berhadapan dengan situasi kesulitan eknomi tidaklah berdiri sendiri dari fenomena ribawi itu. Justru dengan ekonomi berbasis riba maka masyarakat banyak menjadi “alat perdagangan” dengan segala perjuangannya yang nyaris tiada hentinya. Akad dagang, pinjam-meminjam, serta semua variannya ditujukan untuk akad yang selalu bertambah (coba telusuri dunia perbankan dan sejenisnya termasuk pinjaman online), padahal pada sisi berbeda dikenal varian bekerjasama dengan laba dan rugi yang sejatinya ditanggung bersama, apakah itu dipraktikkan murni sesuai dengan nilai-nilai agama yang beradab? Lebih banyak yang meninggalkannya dan senantiasa kembali dengan berpikir ribawi. Inilah yang membuat mengapa beragam entitas dagang baru bermunculan secara kilat dan terkesan mengupayakan membantu masyarakat namun secara substantif itu sangat memberatkan.

Pinjaman online yang merebak dimana-mana bagaikan digitalisasi eknomi yang bisa kita temukan dalam berbagai hal. Sesungguhnya kehidupan yang cepat dengan layanan yang kian padat itu membuat gaya kehidupan manusia serba instan. Inilah yang memperlihatkan kepada kita berjamurnya pinjaman online dimana-mana disebabkan karena takaran kue ekonomi yang besar hanya bisa didapatkan oleh mereka yang serba raksasa, baik dalam modal (kapital) maupun dalam jejaring. Lalu mereka yang kecil? Masyarakat marjinal? Hampir pasti akan mengakses pinjaman online yang seakan memudahkan itu.

Pinjaman online memiliki tingkat bunga yang relatif besar, kata relatif tentunya tergantung cara kita memandangnya. Mari saya mengajak pembaca untuk mengelaborasi ketidakadilan sistem ekonomi yang dikapitalisasi ini. Lihatlah perbankan, sekian besar pendaaan yang ada di sana. Keuntungannya pun berlimpah ruah, lalu apakah perbankan mampu menopang banyaknya masyarakat kecil itu? Tentu tidak, lalu ke mana pendanaannnya ditujukan? Coba buka pembukuan dan digitalisasi akad mereka, hampir sebagian besar ditujukan hanya untuk mereka yang secara meyakinkan mampu memberinya keuntungan berlipat, baik entitas pribadi maupun perusahaan besar. Kita paham karena dunia perbankan memang dunia entitas bisnis yang selalu begitu, namun bagaimana melihat cara perbankan untuk menangani masalah yang timbul di tengah kekayaan yang berada di pundi-pundi mereka? Sebagian tidaklah manusiawi karena basis pikirannya terpola pada aspek ribawi yakni kapitalisasi ekonomi (tidak semua perbankan begini, namun jumlah yang melakukannya cukup banyak).

Pada sisi berbeda, entitas baru muncul yakni pinjaman online, apa saja fungsinya? Mereka menerapkan gaya ekonomi yang nyaris sama persis dengan perbankan, namun secara online. Kesibukan dan penderitaan dimana-mana menyebabkan dibukanya gaya baru meminjam secara online itu. Sekarang saya hendak memperlihatkan kepada pembaca betapa tidak adilnya sistem ekonomi yang hadir di tubuh bangsa ini. Perbankan memiliki kapital yang sangat besar, berbasis bunga (riba), lalu diakses oleh mereka yang berada pada tataran ekonomi yang mampu secara umum dengan jumlah yang besar. Sekarang mari memotret pinjaman online, mereka memiliki modal yang tidak sebesar perbankan, lalu tingkat bunganya relatif tinggi, dan diakses oleh mereka yang berada pada golongan ekonomi lemah. Adilkah itu? Mengapa ihwal tersebut terjadi? Karena pinjaman online itu “tangan kedua” yang juga melihat ceruk pasar besar dan mengkapitalisasi keuntungannya pula yang menyebabkan energi dan daya hidup masyarakat kian tak mendapat kesempatan “bernafas secara sehat”.
Apa dampak dari sistem yang berbahaya itu? Akan terjadi pola dan kehidupan individualistik yang tekanannya kian mengeras. Karena masyarakat makin dipaksa membayar bunga tinggi yang senyatanya sudah tidak punya kemampuan lagi. Tidak mengherankan bilamana tersiar kabar dimana-mana bahwa akibat pinjaman-pinjaman tersebut maka begitu banyaknya pribadi yang bunuh diri, stress akibat tekanan yang tiada henti, dan cara menanganinya yang kehilangan dasar-dasar marwah kemanusiaan.

Pada potret yang lainnya, maka dengan dibiarkannya sistem dalam ribawi itu yang menekan masyarakat melalui kapitalisasi ekonomi yang hemat saya memang tidaklah wajar maka hampir semua daya ekonomi dan sumber-sumber akan mengalami “dongkratan” ke atas dan menyebabkan situasi semakin mahal, masyarakat kekurangan uang cash, hitungan riba bertambah-tambah, dan kriminalitas tidak heran akan mencoreng wajah peradaban.

Pada timbangan lain lagi adalah masyarakat akan semakin sulit dalam berusaha, timpangnya tingkat bunga dengan skema pinjaman yang seperti dijelaskan di atas membuat ketidakadilan akan menyertai hampir semua hal. Inilah pertanda usaha (bisnis) apapun yang hendak dijalankan akan menemui kebuntuan selain dengan cara lagi-lagi kapitalisasi ekonomi (basis ribawi) yang jauh dari nilai wajar.

Manakala situasi itu telah menyebar ke segenap masyarakat maka hitungan mundur menuju kehancuran ekonomi pastilah akan terjadi. Siapa yang jadi korban? Hampir semua akan terlibas dan yang tidak tahan dengan kehidupan ini akan menyelesaikannya dengan tindakan kriminal, sungguh sungguh tidak ada pilihan karena tekanan riba memuncak merusak semua pranata psiko-sosial ekonomi masyarakat bangsa.

Zahir Juana Ridwan
Pustakawan spesialis geografi,
Sastrawan dan pemerhati psiko-sosial.
Gawai 0819-9129-7799

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *