Oleh: Abdul Hafid Paronda
(Teknik Elektro UNHAS 1982)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sabtu, 9 Agustus 2025, cuaca relatif cerah, jam 07.37 waktu Indonesia bagian tangan kanan saya. Ada sharing japri masuk di ponsel: Undangan zoom Meeting IKA UNHAS – dari adinda Salahuddin Alam. Address link-nya terkirim 37 menit kemudian. Dalam hati bergumam: “Alhamdulillah, ini anugerah Ilahi. Kesempatan untuk silaturrahim walau secara virtual”. Ikut serta dalam decak ritme komunikasi almamater tercinta: “UNHAS dan IKA Mendengar”. Topik menarik kawalan Direktur Alumni yang baru – jajaran Warek Bidang SUDAMASI (Sumberdaya Manusia, Alumni, dan Sistem Informasi) – Prof. Farida Patittingi, SH., MH.

Dari Bintaro sektor 9, saya bisa mengakses media interaksi virtual itu sesuai jadual – 12.30 ba’da shalat zhuhur. Pemanfaatan waktu yang tak ternilai, karena begitu berharganya persaudaraan almamater. Terlebih lagi sebuah momen yang menekankan pentingnya profesionalisme dan kontribusi yang terukur. Bapak Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa, MP. menyampaikan pengantar. Pesannya sangat jelas, bagaimana agar eksistensi dan peran UNHAS kian berdampak dalam realisasi pembangunan negeri. Terutama dengan mengoptimalkan Tata Kelola Tridarma Perguruan Tinggi untuk menyiapkan SDM unggul. Tentu dengan kolaborasi sinergis yang mengintegrasikan “endorsement” para alumni, baik yang berupa gagasan segar kreatif maupun praktek langsung sebagai realisasi profesional multisektoral.

Kampus Berdampak

Pada tataran internal, UNHAS ‘menjuarai’ Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2025, dengan mendapatkan pendanaan terbesar nasional. Universitas “Ayam Jantan dari Timur” ini mengungguli perguruan tinggi se-Indonesia. Namun, ada informasi urgen yang sangat saya nantikan belum terdengar dalam ‘sarasehan’ itu. Saya pikir, pasti karena rentang waktu yang sangat singkat, sehingga Bapak Rektor tidak sempat menyampaikannya. Yakni, peran eksternal – kontribusi kewilayahan UNHAS di Indonesia Bagian Timur atau paling tidak di wilayah Sulawesi Selatan.

Kontribusi kewilayahan sangat urgen dan dinantikan. Hal itu sangat proporsional karena Gubernur Sulsel dan beberapa Bupati terpilih untuk masa bakti 2024-2029 di Sulsel Adalah alumni UNHAS. Secara akademik teoretik, para peneliti UNHAS tentu sudah terbiasa dengan “road map” (peta jalan) penelitian, sementara pada tataran aplikasi dan kontribusi ditantang membangun jejaring (networking) dan mengaktivasi “Pemetaan Kemitraan” (Partnership Mapping) dengan segenap jajaran wilayah terdekat.

Program peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas dan produktivitas tata ruang planologis, penguatan daya lenting – geliat (leverage) produktivitas kawasan, serta kreasi baru Pembangunan Wilayah semestinya menjadi garapan strategis UNHAS yang kian membumi dan signifikan.

Sehubungan dengan itu, tentu dibutuhkan komunikasi dan koordinasi efektif dengan jajaran Pemda serta penguatan kompetensi terkait. Dalam terminologi Kearifan Lokal Bugis – perlu dimiliki “Rette” (kompetensi) dan terpenuhinya kualifikasi SDM Unggul – jangan sampai “Degaga ure’ napettu” (tidak ada skill – keterampilan, kemampuan khusus yang bisa diandalkan).

Hilirisasi Produk Pertanian

Hadir sebagai narasumber utama, Bapak Dr. H. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP. – selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat IKA UNHAS. Sesuai “tag line” kegiatan, Bapak AAS – Sang Menteri Pertanian RI itu betul – betul menyuguhkan “Kuliner Siang” yang sangat elegan “membuka telinga” para partisipan. Senarai informasi yang bekaliber “One Stop Service” dan sangat dibutuhkan oleh para alumni, bahkan seantero anak negeri. Apalagi kalau bukan ”Hilirisasi” Produk Pertanian – yang didukung anggara sekitar 370 T(?).

Selain padi, ada 4 komoditas unggulan yang mendapatkan penekanan Pak Menteri. Yakni, kakao, kelapa, lada, dan mente. Ada lokasi dan wilayah tertentu yang menjadi skala prioritas, tanpa mengabaikan daerah lain yang dipastikan memenuhi kualifikasi dan persyaratan ekosistem tentunya. Orientasi ini bisa dipahami sebagai ekspansi dan ekstensifikasi komoditas, setelah padi dipastikan mengamankan stabilitas pangan dan swa sembada nasional – dengan capaian monumental pertama kali sepanjang Sejarah Keberadaan Republik ini.

Bisa dipahami mengapa Pak Menteri harus menegaskan hal itu di depan para alumni UNHAS. Pertama, kunjungan Menteri Pertanian mancanegara telah datang bersusulan ke Indonesia karena ingin belajar dari pengalaman strategis yang dikembangkan oleh Pak Mentan RI. Ini sebuah indikator bahwa “Gebrakan Alumni UNHAS” di bidang pertanian itu telah menginduksi konstelasi Tata Kelola pangan dunia. Indonesia kini menjadi faktor penentu yang sangat signifikan dalam pertimbangan organisasi pangan dunia – Food and Agriculture Organization (FAO).

Kedua, Bapak AAS juga saat ini mengemban Amanah sebagai Ketua Presidium Himpunan Organisasi Almuni Perguruan Tinggi Negeri (HIMPUNI) – sehingga melekat pada dirinya tanggungjawab untuk meningkatkan kualitas dan porsi peran Alumni seluruh PTN dalam setiap program Pembangunan. Lebih khusus lagi, sektor pertanian tentunya.

Jika alumni UNHAS kurang responsif dan tidak kreatif memanfaatkan peluang strategis secara elegan, maka akan diambil alih alumni PTN lain sesama anak bangsa.

Tidak heran jika Pak Menteri selalu menghimbau agar ketangguhan, sikap ulet, optimisme dan keberanian mengukir mimpi besar menggelayut dalam diri setiap alumni. Sampai – sampai ada seorang peserta zoom berstatus ASN ditantang oleh beliau untuk segera berhenti saja sebagai ASN dan segera beralih ke pengelolaan salah satu komoditas pertanian unggulan yang disebutkan tadi.

Galau Menteri

Pada bagian akhir paparan Pak Menteri, beliau tak kuasa menutupi rasa galau dan ‘gemes’-nya. Betapa tidak, karena beliau sungguh mengharapkan kontribusi nyata anak – anak UNHAS di Republik ini, dengan gairah “Merah Putih” yang kian menyala. Saya pun akhirnya menerawang ke sisi lain strategi imajiner dengan label “mungkin saja” – sebagai pengaman baik sangka.
Mungkin saja ada peran lapangan beberapa alumni yang belum melakukan verifikasi “Standard Operational Procedure” (SOP) ketika penetrasi ke dalam “Bussines Proces”, belum serius melakukan penguatan jejaring, atau mengalami gangguan rantai pasok (supply chain) sarana – prasarana (sarpras) yang dibutuhkan. Bagaimana mungkin – Sang Menteri tidak merasa galau, ketika sedang seriusnya menata strategi global diversifikasi pangan dunia, beliau masih harus melirik “SMS – chat WA” rutin pada display gawai ???.

“Kapan selebrasi dan realisasi ekspor kita menggetarkan dunia”? – pungkas putra asli Bone itu dalam anasir komunikasinya. Siang itu, segenap Alumni UNHAS membuka telinga untuk mewujudkan kontribusi yang signifikan dan terukur bagi peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan bangsa. Salam Panglima Pangan Dunia. (*)

Harapan Jaya – Kota Bekasi, 12 Agustus 2025.
Pondok Gare’se’ – Rumah Diversifikasi Pangan
Abdul Hafid Paronda
Teknik Elektro UNHAS 1982 – 8209127.