Penulis: Muliadi Saleh

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ya Allah,
malam ini Indonesia berdoa.
Kami mendoakan kepergian seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan, pemuda 21 tahun, pengemudi ojek online, yang berpulang dengan cara yang tak pernah kami bayangkan.

Kami doakan ia selamat meniti jalan menuju surga-Mu, dalam pelukan cahaya-Mu yang abadi.

Affan telah meninggalkan warisan yang bukan berupa harta, bukan pula tahta.
Ia meninggalkan pesan pahit tentang pengorbanan.
Bahwa perjuangan, betapa pun kecilnya, selalu menuntut harga yang mahal.

Bahwa bangsa ini sejak awal dibangun dari keringat para pekerja, dari darah para pejuang, dari air mata ibu-ibu yang menyalakan pelita harapan dalam kegelapan.
Dan pengorbanan itu, ya Allah, tak boleh sia-sia.

Namun betapa getir, pengorbanan yang suci itu kini kerap dipotong oleh tangan-tangan jahat.
Tangan yang tak peduli rakyat.
Tangan yang tak hijau oleh air mata.
Tangan yang keras, kaku, dingin, dan tak mengenal denyut hati manusia.

Kepergian Affan adalah kehilangan kita semua.
Ia bukan hanya milik keluarga, bukan hanya milik kawan-kawan seperjuangan, tetapi milik seluruh bangsa ini.
Sebab di tubuh mudanya yang kini terbujur, tergambar wajah rakyat kecil yang selalu menjadi korban.
Namun, meski kehilangan ini perih, bangsa ini harus tetap dirawat.

Masih ada kaki yang harus melangkah.
Masih ada mata yang harus menatap mentari esok pagi.
Masih ada tangan-tangan mungil yang harus merangkak menemui sang ibu pertiwi.
Maka, ya Allah, kami berdoa:
agar bangsa ini tidak tenggelam dalam ratap, agar kami tak larut dalam amarah buta.

Kami tahu, api bukanlah jawaban.
Api hanya meninggalkan abu.
Yang kami butuhkan adalah keteduhan.
Yang kami rindukan adalah kearifan pemimpin.
Kata-kata yang Agung, perilaku yang bermartabat—bukan yang penuh kepura-puraan, bukan yang terselubung kemunafikan.
Karena pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang hatinya ikut menangis saat rakyatnya berduka.

Ya Allah, ingatkan para pemimpin negeri ini,
bahwa empati harus didahulukan sebelum kuasa.
Bahwa pemerintah tidak boleh meninggalkan rakyat.
Sebab cinta rakyat akan berbalas hanya bila pemimpin meniti jalan kepedulian.
Jangan biarkan pemerintah terlalu jauh berjarak dengan rakyat,
karena rakyat yang ditinggalkan hanya akan semakin letih, lelah, dan putus asa.

Rakyat itu mungkin tak mampu melawan.
Mereka hanya bisa berdoa.
Mereka hanya bisa berharap.
Semoga api yang menyala tidak membakar dirinya,
tidak membakar rumah-rumah yang miskin atap,
tetapi membakar kerakusan, membakar korupsi, membakar kolusi dan nepotisme yang menggerogoti negeri.

Ya Allah, jangan biarkan hujan membanjiri kampung rakyat kecil,
biarkan hujan itu justru mengalir deras menghanyutkan keserakahan.
Biarkan ia membawa pergi segala tipu daya yang melukai bangsa.

Kami pun bertanya, ya Allah,
ketika rumah para pemimpin terlalu besar dan terlalu tinggi,
hingga sinar mentari tertutup dan tak sampai ke rumah rakyat yang bocor atapnya,

kemana lagi rakyat akan mencari hangatnya cahaya?
Ketika rumah para pemimpin terlalu jauh di seberang sana,
sedangkan rakyat tak mampu menjangkaunya,
apakah yang tersisa selain putus asa?

Ya Allah,
doa ini kami panjatkan untuk Affan,
tetapi sesungguhnya doa ini juga adalah doa untuk bangsa ini.
Agar para pemimpin sadar diri.
Agar semua pihak menahan diri.
Agar setiap jiwa mengobrol dengan hatinya sendiri,
bertanya: apa arti berkuasa, bila kuasa itu dibayar dengan darah rakyat kecil?

Ya Allah,
kami mohon agar pengorbanan Affan tak berhenti sebagai berita singkat,
tak dilupakan sebagai lalu lintas isu.
Kami mohon agar ia menjadi cermin,
cermin yang membuat pemerintah menatap wajah sendiri:
apakah wajah itu masih berwajah manusia, atau sudah berubah menjadi wajah besi tanpa nurani?

Affan sudah pergi,
tapi ia meninggalkan amanah:
bahwa bangsa ini harus terus dilanjutkan dengan cinta, dengan empati, dengan keberanian menjaga rakyat.

Ia pergi, tetapi tangis ibunya adalah tangis kita semua.
Ia gugur, tetapi semangat hidupnya harus menjelma dalam langkah kaki kita berikutnya.

Ya Allah,
kami titipkan Affan di sisi-Mu.
Dan kami titipkan doa ini kepada para pemimpin negeri,
agar mereka mengerti, bahwa kekuasaan tanpa cinta hanya akan menimbun kematian.
Bahwa demokrasi tanpa hati hanyalah roda besi yang melumat rakyat kecil.

Ya Allah,
biarlah air mata ini menjadi saksi.
Bahwa bangsa ini masih punya nurani,
dan kami berjanji: tidak akan membiarkan pengorbanan Affan dan perjuangan anak bangsa yang bernurani hanya lenyap dalam gelombang demonstrasi. Bangsa ini harus bangkit dan tegak berdiri demi kesejahteraan dan martabat rakyat. Tetap bersatu dalam keberagaman yang indah. Indonesia Raya.Doa untuk Affan, Doa untuk Bangsa: Ketika Air Mata Rakyat Menjadi Cermin Bagi Pemimpin

Penulis: Muliadi Saleh

Ya Allah,
malam ini Indonesia berdoa.
Kami mendoakan kepergian seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan, pemuda 21 tahun, pengemudi ojek online, yang berpulang dengan cara yang tak pernah kami bayangkan.

Kami doakan ia selamat meniti jalan menuju surga-Mu, dalam pelukan cahaya-Mu yang abadi.

Affan telah meninggalkan warisan yang bukan berupa harta, bukan pula tahta.
Ia meninggalkan pesan pahit tentang pengorbanan.
Bahwa perjuangan, betapa pun kecilnya, selalu menuntut harga yang mahal.

Bahwa bangsa ini sejak awal dibangun dari keringat para pekerja, dari darah para pejuang, dari air mata ibu-ibu yang menyalakan pelita harapan dalam kegelapan.
Dan pengorbanan itu, ya Allah, tak boleh sia-sia.

Namun betapa getir, pengorbanan yang suci itu kini kerap dipotong oleh tangan-tangan jahat.
Tangan yang tak peduli rakyat.
Tangan yang tak hijau oleh air mata.
Tangan yang keras, kaku, dingin, dan tak mengenal denyut hati manusia.

Kepergian Affan adalah kehilangan kita semua.
Ia bukan hanya milik keluarga, bukan hanya milik kawan-kawan seperjuangan, tetapi milik seluruh bangsa ini.
Sebab di tubuh mudanya yang kini terbujur, tergambar wajah rakyat kecil yang selalu menjadi korban.
Namun, meski kehilangan ini perih, bangsa ini harus tetap dirawat.

Masih ada kaki yang harus melangkah.
Masih ada mata yang harus menatap mentari esok pagi.
Masih ada tangan-tangan mungil yang harus merangkak menemui sang ibu pertiwi.
Maka, ya Allah, kami berdoa:
agar bangsa ini tidak tenggelam dalam ratap, agar kami tak larut dalam amarah buta.

Kami tahu, api bukanlah jawaban.
Api hanya meninggalkan abu.
Yang kami butuhkan adalah keteduhan.
Yang kami rindukan adalah kearifan pemimpin.
Kata-kata yang Agung, perilaku yang bermartabat—bukan yang penuh kepura-puraan, bukan yang terselubung kemunafikan.
Karena pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang hatinya ikut menangis saat rakyatnya berduka.

Ya Allah, ingatkan para pemimpin negeri ini,
bahwa empati harus didahulukan sebelum kuasa.
Bahwa pemerintah tidak boleh meninggalkan rakyat.
Sebab cinta rakyat akan berbalas hanya bila pemimpin meniti jalan kepedulian.
Jangan biarkan pemerintah terlalu jauh berjarak dengan rakyat,
karena rakyat yang ditinggalkan hanya akan semakin letih, lelah, dan putus asa.

Rakyat itu mungkin tak mampu melawan.
Mereka hanya bisa berdoa.
Mereka hanya bisa berharap.
Semoga api yang menyala tidak membakar dirinya,
tidak membakar rumah-rumah yang miskin atap,
tetapi membakar kerakusan, membakar korupsi, membakar kolusi dan nepotisme yang menggerogoti negeri.

Ya Allah, jangan biarkan hujan membanjiri kampung rakyat kecil,
biarkan hujan itu justru mengalir deras menghanyutkan keserakahan.
Biarkan ia membawa pergi segala tipu daya yang melukai bangsa.

Kami pun bertanya, ya Allah,
ketika rumah para pemimpin terlalu besar dan terlalu tinggi,
hingga sinar mentari tertutup dan tak sampai ke rumah rakyat yang bocor atapnya,

kemana lagi rakyat akan mencari hangatnya cahaya?
Ketika rumah para pemimpin terlalu jauh di seberang sana,
sedangkan rakyat tak mampu menjangkaunya,
apakah yang tersisa selain putus asa?

Ya Allah,
doa ini kami panjatkan untuk Affan,
tetapi sesungguhnya doa ini juga adalah doa untuk bangsa ini.
Agar para pemimpin sadar diri.
Agar semua pihak menahan diri.
Agar setiap jiwa mengobrol dengan hatinya sendiri,
bertanya: apa arti berkuasa, bila kuasa itu dibayar dengan darah rakyat kecil?

Ya Allah,
kami mohon agar pengorbanan Affan tak berhenti sebagai berita singkat,
tak dilupakan sebagai lalu lintas isu.
Kami mohon agar ia menjadi cermin,
cermin yang membuat pemerintah menatap wajah sendiri:
apakah wajah itu masih berwajah manusia, atau sudah berubah menjadi wajah besi tanpa nurani?

Affan sudah pergi,
tapi ia meninggalkan amanah:
bahwa bangsa ini harus terus dilanjutkan dengan cinta, dengan empati, dengan keberanian menjaga rakyat.

Ia pergi, tetapi tangis ibunya adalah tangis kita semua.
Ia gugur, tetapi semangat hidupnya harus menjelma dalam langkah kaki kita berikutnya.

Ya Allah,
kami titipkan Affan di sisi-Mu.
Dan kami titipkan doa ini kepada para pemimpin negeri,
agar mereka mengerti, bahwa kekuasaan tanpa cinta hanya akan menimbun kematian.
Bahwa demokrasi tanpa hati hanyalah roda besi yang melumat rakyat kecil.

Ya Allah,
biarlah air mata ini menjadi saksi.
Bahwa bangsa ini masih punya nurani,
dan kami berjanji: tidak akan membiarkan pengorbanan Affan dan perjuangan anak bangsa yang bernurani hanya lenyap dalam gelombang demonstrasi. Bangsa ini harus bangkit dan tegak berdiri demi kesejahteraan dan martabat rakyat. Tetap bersatu dalam keberagaman yang indah. Indonesia Raya. (*)