Oleh Muliadi Saleh
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
KABARIKA.ID–Pelan tapi pasti. Satu demi satu penggilingan kecil berhenti beroperasi, tak kuat menanggung beban zaman. Mereka kalah dalam perlombaan tak seimbang melawan penggilingan besar yang berteknologi mutakhir, bermodal besar, dan berjejaring luas.
Yang kecil bertahan dengan alat tua, tenaga seadanya, dan modal pas-pasan. Tetapi justru dari merekalah lahir kejujuran pangan, lahir semangat gotong royong yang menyambung hidup jutaan petani di pelosok.
Menurut riset doktoral Ahmad Rizal Ramdhani yang diuji langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Universitas Indonesia, lebih dari 95 persen penggilingan padi di Indonesia adalah penggilingan kecil.
Angka yang besar, namun nasibnya rapuh.
Mereka bekerja dengan infrastruktur terbatas, teknologi tertinggal, dan akses modal yang nyaris tertutup. Akibatnya, mutu beras tak seragam, rendemen rendah, dan harga sering bergejolak.
Tapi di balik semua itu, mereka menyimpan ketulusan. Mereka membeli gabah dari petani sekitar, memberi kehidupan bagi pekerja desa, dan menjaga perputaran ekonomi rakyat yang sederhana tapi bermakna.
Ahmad Rizal meneliti mereka bukan sekadar lewat data, melainkan lewat jiwa. Ia menyusuri ruang-ruang penggilingan, berdialog dengan petani, mendengar kegelisahan pemilik mesin yang sudah berkarat. Ia mengajak semua pihak berpikir dengan hati, bukan hanya hitungan.
Dari sana lahir model transformasi yang berakar pada tiga pilar: peta tematik dryer untuk menyeimbangkan fasilitas pengeringan, sistem klasifikasi kemitraan yang lebih adil antara BULOG dan penggilingan rakyat, serta kerja sama investasi yang memungkinkan revitalisasi penggilingan kecil melalui kolaborasi negara, swasta, dan masyarakat.
Fakta menarik muncul dari riset itu: penggilingan kecil justru yang paling setia dan paling berdaya guna.
Rata-rata pemenuhan pesanan mereka kepada BULOG mencapai 64 persen, jauh lebih tinggi dibanding penggilingan besar.
Yang kecil ternyata bukan yang lemah—mereka hanya belum cukup diberi tempat.
Di ruang sidang itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tak sekadar hadir sebagai penguji, tetapi sebagai penjaga semangat kebangsaan.
Pertanyaannya menembus jantung masalah: “Bagaimana memastikan agar ratusan ribu penggilingan kecil tidak mati oleh persaingan harga gabah yang tidak adil?”
Bukan pertanyaan biasa, melainkan seruan nurani seorang anak negeri yang tumbuh dari keluarga petani, yang tahu betapa berat menjemur gabah di bawah terik matahari, yang mengerti bahwa butir beras adalah butir kehidupan.
Amran bukan birokrat yang berdiri jauh dari lumpur sawah. Ia datang dari bumi yang sama dengan para petani—dari tanah yang menumbuhkan padi dan kejujuran.
Keberpihakannya pada petani bukan sekadar kebijakan, tetapi panggilan hati. Ia berulang kali menegaskan, pertanian adalah kehormatan bangsa. Karena itu, penggilingan kecil harus dilindungi, diperkuat, dan diberi tempat dalam kebijakan pangan nasional.
Ia memahami benar makna Pasal 33 UUD 1945: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Jika pangan adalah hajat hidup banyak orang, maka negara wajib hadir, bukan menyerahkan nasibnya kepada logika pasar yang hanya berpihak pada yang kuat.
Karena pangan bukan sekadar barang dagangan — ia adalah amanah suci kehidupan.
Revitalisasi penggilingan kecil bukan hanya urusan ekonomi, tapi juga urusan martabat.
Ia menyangkut hak rakyat kecil untuk tetap hidup dari tanahnya sendiri. Ia menyangkut nilai-nilai gotong royong yang menjadi inti dari peradaban agraris Nusantara.
Maka negara tak boleh berpangku tangan. BULOG, BUMN pangan, dan lembaga keuangan semestinya turun tangan menghidupkan kembali mesin-mesin kecil itu — dengan modal, teknologi, dan kemitraan yang adil.
Mungkin, di suatu pagi nanti, suara mesin penggilingan tua itu akan kembali berputar di bawah cahaya matahari yang lembut.
Suara yang menandakan bahwa negeri ini masih punya hati; bahwa negara belum lupa pada akar; bahwa pembangunan bukan untuk menyingkirkan yang kecil, tetapi untuk menguatkan mereka agar mampu berdiri sejajar.
Selama masih ada tangan petani yang menanam dengan doa, selama masih ada keluarga yang menanak nasi dengan rasa syukur, maka penggilingan kecil tak boleh dibiarkan mati.
Mereka adalah penyangga yang rapuh, namun justru di situlah kekuatan bangsa ini berpijak — di atas kerja hampir tak terpotret, kesetiaan, dan cinta tanah air yang tak pernah menua.
Dan selama ada pemimpin seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang bukan hanya mendengar, tapi juga merasakan denyut nadi desa, mencintai petani, dan menjaga butir beras sebagai simbol kehidupan.
Bangsa ini masih memiliki harapan yang tumbuh dari ladang, sawah, petani, dan penggilingan padi.
__________
Muliadi Saleh
Penulis | Pengurus PERHEPI Makassar | Esais Reflektif.
