Oleh: 𝙎𝙪𝙛 𝙆𝙖𝙨𝙢𝙖𝙣

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

HARI 𝗚𝘂𝗿𝘂 Nasional diperingati setiap 25 November.
Momen ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya peran 𝗚𝘂𝗿𝘂 dalam bidang pendidikan.

Terima kasih 𝗚𝘂𝗿𝘂-ku.
Untuk teladan yang telah Engkau berikan.
Kami muridmu berusaha memperaktekkan ajaran² muliamu.

𝗚𝘂𝗿𝘂nda-ku, berkat ideologimu, aku telah berkelana melihat negara² di belahan dunia ini.
Anugerah doktrinmu, aku telah mengetahui keragaman dan kompleksitas sifat dan karakter manusia.
Mulai tabiat manusia impulsif, humoris, watak ekspresif, manusia rakus, penjilat, Munafik, hingga orang super sibuk namun nihil perolehan.

Limpahan petuahmu, aku sudah memahami hiruk pikuk dunia.
Fadhilat² gagasanmu menjadi asbab aku diundang menjadi Maraji ke pelosok janabijana.

Syahdan, hikmah didikanmu wahai 𝗚𝘂𝗿𝘂nda-ku, aku sudah bisa membedakan antara hitam dan putih bagi kehidupan, halal dan haram, serta sunnah & bid’ah.

Aku sudah mafhum terhadap golongan kiri & golongan kanan. Termasuk golongan Muhammadiyah dan golongan Muhammadong.

Aku pun tahu penyebab gonjang-ganjing Nahdlatul Ulama dan hadirnya Nahdlatul Ula’ Wa’é.

Aku juga bisa membedakan setiap Dokumen Asli & Dokumen Palsu di Zamrud Khatulistiwa ini. Mengarifi siapa pemimpin sejati dan siapa pemimpin sakit hati.

Bahkan, Aku juga bisa menyeleksi ‘Janda² Rasa Gadis’ & ‘Gadis Rasa Janda’.

Ketajaman intuisi ini berkat edukasi dan bimbingan-mu wahai 𝗚𝘂𝗿𝘂nda-ku.

Masih teringat dalam benakku, setiap hari Engkau menelusuri jalanan berdebu.

Engkau tak menghiraukan deru kendaraan, dan lengkingan knalpot angkutan dari segala penjuru.
Semata-mata berpacu waktu ingin memberi makrifat nan sains.

𝗚𝘂𝗿𝘂ndaku Yang Tercinta,

Engkau betul² sosok 𝗚𝘂𝗿𝘂 yang berjuang tak kenal lelah.
Mendidik dan mengajarkan ilmu, akhlak, dan akidah.

Aneka aksara sebelumnya aku tak mafhumi lalu Engkau hadir membawa senter penerang qalbu, cahaya yang menyalakan dada.
*
Hari 𝗚𝘂𝗿𝘂 ini adalah momen spesial untuk merayakan dedikasi, kebijaksanaan, dan kegigihan para pendidik.

Tak ada salahnya aku mengisahkan secuil stori saat aku memulai sekolah di SD Negeri 5 di kampungku, puluhan tahun silam.

Salah seorang 𝗚𝘂𝗿𝘂-ku bernama Pak Asse’.
Pak Asse’ paling terkenal di sekolahku.
Beliau populer & tersohor karena “Cubitan Mautnya” sulit tertandingi sakit Mangngittu’-ngittu’ (nyeri) .

Mayoritas siswa-siswi di sekolahku pernah dicubit Pak Asse’, khususnya yang tidak mahir membaca kala itu.

Aku tidak tahu dimana Beliau sekarang!
Semoga 𝗚𝘂𝗿𝘂ku Pak Asse’ dan seluruh 𝗚𝘂𝗿𝘂 yang pernah mengajarkan ilmu pada kami, diberi berkah dan amal jariyah dunia & akhirat. Amiiin YRA.

Mengapa Pak Asse’ 𝗚𝘂𝗿𝘂 paling ditakuti oleh teman² kami di sekolah waktu itu?

Sekali lagi, “Cubitan Dahsyatnya sering meninggalkan luka lecet’.

𝗚𝘂𝗿𝘂 kami Pak Asse’ ketika menyuruh anak didiknya membaca, wajib naik ke depan dekat mejahnya duduk.

Sebelum kami membaca, kebiasaan tangan Pak Asse’ (ibu jari dan jari telunjuk) sudah mendarat di paha muridnya, persiapan menyetrap.

Mirip bucket excavator bergigi tajam saat memulai mengeruk tanah di area pertambangan.

“Ayo baca…”! Perintah Pak Asse’ dengan suara menakutkan.

Pelajar yang tidak bisa membaca langsung dicubit keras tanpa ampun.

Bukan hanya cubit yg disertai jepitan tok, tapi diiringi putaran ala bor menyerupai mesin bubut konvensional di Jl. Irian. Lalu, kulit paha ditarik ke atas-ke samping.

Pak Asse’ baru berhenti menghadiahi deraan, jika ybs mengeluarkan rintihan nan erangan.

Saking sakitnya, kaki yang disetrap Tattongkang-Tongkang!

Efek cubitan ekstrem Pak Asse’ menyebabkan paha siswanya memar, bengkak, dan hematoma (penumpukan darah di bawah kulit).

Belum ada seorang murid bisa tahan cubitan mautnya Pak Asse’.

Beberapa peserta didik yang sudah dicubit Képpang, berbekas Makudara’ Boccili’.
**

Detailnya hikayat-ku ini, mula² siswa bergantian disuruh naik ke depan untuk membaca, La Barodding.

La Barodding orangnya Madoko Makellé’, sedikit gondrong ala rambutnya artis Adi Bing Slamet.

La Barodding suka membawa suling bambu di kantong celana belakangnya. Padahal La Barodding tidak tahu memainkan seruling bambu.

Jika La Barodding meniup suling bambunya, Ai mirip Oni Bakéké’ Mappakéréng-kéréng.

Sekelas tahu jika La Barodding belum bisa membaca (Marekke’ Mabbaca), karena setiap Pak Asse’ masuk kelas, La Barodding selalu Makkacubbu di belakang.

Pelajaran yang disuruh baca adalah dongeng “Nenek dan Ikan Gabus”.

“Ayo Silahkan Baca..”!! Perintah Pak Asse’ sambil mendarat tangan kanannya di pahanya La Barodding.

La Barodding tidak mungkin konsentrasi membaca, karena tangan Pak Asse’ sudah mulai gonjlang-ganjling di atas pahanya.

La Barodding pasrah tidak bisa membaca, dan seketika itu pahanya Lésalénggéré’ Masina Paberré’ secara cuma-cuma.

La Barodding mengerang kesakitan, sambil jalan miring menuju kursinya usai dicubit ‘sakaratul maut’ oleh Pak Asse’.

La Temma yang terkenal jago main kelereng duduk di samping kananku Maosé’ (cemas) setelah menyaksikan La Barodding dismackdown pahanya cedera yang lebih serius.

Adapun La Raupe’ yg duduk di sebelah kiri-ku berbisik “Maténi’ Iyé, Nappatta Bellang Pori’!

Lalu

Gilirannya La Mamma’ disuruh naik membaca ulang, apa yang dibaca oleh pendahulunya (La Barodding) tentang dongeng “Nenek dan Ikan Gabus”.

Ternyata, La Mamma’ dan La Barodding sekimiawi, keduanya juga belum lancar membaca.

Malah, La Mamma’ lebih parah lagi tersendat-sendat membaca.
Untungnya ada gambar Nenek & Ikan Gabus di dalam lembar buku, sehingga La Mamma’ masih bisa mengeluarkan suara terbata-bata (seolah-olah bisa membaca padahal tidak) sambil berkata “Orang Tua dan Bale Bolong pak.

Padahal judul yang tertera di bacaan “Nenek & Ikan Gabus”.

Pak Asse’ mulai menggulung lengan kemejanya Sigariggi’ Isin Na, sambil menyuruh;
“Terusss…”.

Saking sulitnya La Mamma’ membaca, bagaikan mobil kijang tua-nya Sariwana melewati ‘Tanah Boro’ ‘Mangngerréng-Ngerréng’, bannya berputar-putar tanpa meninggalkan tempat.

Kumis Pak Asse’ Kirrang menunjukkan kemarahan melihat anak muridnya gagal membaca.

Pak Asse’ mencubit pahanya lagi, sehingga La Mamma’ mengeluarkan lelehan bening di mata-nya saking pedih dan perih-nya jepitan ujung jari Pak Asse’ berlabuh di paha La Mamma’.

Suasana ruangan semakin tegang!
Teman² grogi dan gelisah. Pekkoi Cara Na Salama’.

Andai ada akses keluar selain pintu di depan, pasti teman²ku Nabuccu Lari E Lao Bolana Indo’ Beddu Makkacobbu.

Usai La Mamma’ di tabok, kini Giliran La Hasse’ ditunjuk Pak Asse’ maju ke depan untuk ber-iqra’ berikutnya.

La Hasse’ sebelum maju ke depan, ia menoleh ke tempat kami sambil berkata “Manrasa Ki’ Iyé, Nappatta Lepupu’ Conda’.

Rupanya La Hasse’ lebih kronis lagi, hampir saja mengencingi Celana LombéngNa usai dicubit pahanya, karena ketidaktahuannya membaca sepata kata pun.

La Kare’, La Taming, La Raupe’, La Gisting semuanya panik di belakang ku.
Jantung mereka berdebar kencang, gemetar Naturungi Puse’ Renni’ (berkeringat).

Adapun Muliana, Hamid, Sukardi dan Tatang, mereka tenang sedikit karena sudah bisa mengenali huruf demi huruf sebelum masuk sekolah di SD Negeri 5.

Maklum, keluarganya rutin mengajarkan membaca bersama.

Malah, ada salah seorang melaporkan Pak Asse’ ke bapaknya, karena pahanya berbekas mirip ‘Pulau Kalimantan’ usai dicubit dahsyat Pak Asse’.

Murid yang melapor sama bapaknya, justeru bapaknya balik memarahi anaknya. Itu dulu!
Orang tua justeru berpihak kepada 𝗚𝘂𝗿𝘂.

Beda sekarang, mana ada orang tua berpihak sama 𝗚𝘂𝗿𝘂 jika betis anaknya dipukul mistar panjang oleh 𝗚𝘂𝗿𝘂nya?
Memang, lain dulu lain Cakalang.

Aku, Syarifah, Nurjanna, I Wiccang, La Salang, La Masseng Nakenna To Cubitan maut-nya Pak Asse’.

Kl. 2 hari bekas cubitannya memar. Untungnya ada Minyak Gosok beli di warungnya Nene’ Manang.

Usut punya usut, ternyata Pak Asse’ melakukan cubitan spektakuler itu, semata mata Beliau ingin melihat murid²nya jaya & berhasil di kemudian hari.

𝘑𝘢𝘻𝘢𝘬𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘩𝘢𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘵𝘴𝘪𝘳𝘢𝘯 𝗚𝘂𝗿𝘂-ku Pak Asse’, dan semua 𝗚𝘂𝗿𝘂-𝗚𝘂𝗿𝘂 kami yang pernah mengajarkan ilmu di sekolah.

Andai bukan Engkau wahai 𝗚𝘂𝗿𝘂nda, kami tidak akan berhasil seperti ini.

Selamat Hari 𝗚𝘂𝗿𝘂!

Terima Kasih Atas Semua Ilmu, Kesabaran, dan Cinta Yang Telah Engkau Berikan.

𝐒𝐞𝐥𝐚𝐬𝐚, 𝟐𝟓 𝐍𝐨𝐯𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐5🥪