Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TAK TERASA, sisa tiga hari lagi tiba di gerbang tahun 2026โbukan sekadar pergantian angka, melainkan ujian iman nyata ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ kian keras.
Di sinilah keegoan ditimbang, dan nurani dipanggil menentukan arah.
Seharusnya, di detik-detik peralihan tahun ini, ada perayaan persatuan ridha Tuhan Semesta Alam: harapan memancar laksana mentari pagi, senyum lahir dari hati bersih, serta langkah bergerak dalam irama syukur.
Namun, kenyataan berbicara sebaliknya.
Bara kebencian sesama anak negeri masih menyala, saling serang-menyerang terus bergaung, ๐๐ช๐ฑ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ณ๐ชโ, ๐๐ช๐ฃ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ!
Mereka bertengkar mirip ๐๐ด๐ถ ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐๐ข ๐๐ฐ๐ฌ๐ช ๐๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จโsedikit-sedikit mau baku hantam, lupa bahwa di butala negeri ini bukan panggung pertarungan, melainkan ruang untuk saling meneduhkan dan menenteramkan.
Api itu pun semakin menyebar ke ruang sosial, merusak percakapan publik, mengeruhkan hubungan antarwarga, dan menipiskan rasa percaya selama ini menjadi penyangga kebersamaan saat bertahan ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ.
Anehnya, hampir semua orang mendadak jadi komentator kesianganโbahkan penjual pisang di pasar mengulas ‘kondisi bangsa’. Meski lidahnya terpeleset; niat hati menyebut istilah ‘termul-termul’, yang meluncur justru ‘termos-termos’.
Dari kegaduhan semacam inilah retakan menjadi nyata. Ia menjalar ke generasi sedang tumbuhโkebencian di antara ‘tunas bangsa’ bukan lagi sekadar isu, melainkan pemandangan harian konkret ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ.
Jalan menuju perpecahan semakin terbuka lebar ketika sebagian pihak masih betah memeluk kubu dan kepentingannya sendiri.
Banyak bisikan ketus terdengar, ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ข๐ฅ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ป๐ป๐ฆ๐ณ ๐ณ๐ข๐ฉ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ด๐ด๐ฆ๐ต๐ข๐ฏ.
Jika tak sanggup menertibkan pasukan ๐ฃ๐ถ๐ป๐ป๐ฆ๐ณ dan ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ญ ๐๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ช๐ฌ ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข pembuat bising itu, silakan minggirโberi kuasa kami selesaikan secara adat.
Kecuali, jika mereka menghadang dengan preman brewok bertato sangar usai cabut gigi, ๐๐ฐ๐ช ๐๐ฐ๐ฃ๐ถ๐ค๐ค๐ถ๐ช ๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ค๐ฐ๐ฃ๐ฃ๐ถโฆ!
Di titik ini, persatuan ‘Padamu Negeri’ koyakโbukan oleh lawan, melainkan oleh tangan-tangan sendiri menyulut api di lumbung rumahnya.
Saat kewarasan dikorbankan demi ambisi ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ, kekecewaan menjelma duri menghujam jantung Ibu Pertiwi.
Gotong royong dulu diagungkan, kini layu tergilas sinisme dan tatapan penuh curiga.
Negeri ini bagai panggung tanpa sutradara; arena gaduh kehilangan kendali.
Di rimba digital, debat kusir ramai suara namun hampa makna.
Kebenaran kian terpojok, sementara sang ๐ฎ๐ข๐ด๐ต๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ฅ kepalsuan bermanuver melepaskan jerat, disokong kuasa modal dan jejaring pengaruh di sekelilingnya.
Begitu lancang hukum dipermainkan, ditarik ke sana kemari demi memuaskan syahwat kekuasaan. Mereka bersuara kritis dibungkam dan dijebloskan ke jeruji besi, sementara sang penjilat justru diberi panggung terhormat.
Luka-luka sosial ini bukan sekadar kabar burung; ia nyata, mengendap menjadi nanah ketidakpercayaan melelahkan ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ.
Saudaraku sebangsa dan setanah air!
Sudahilah fragmen negatif ini.
Musuh nyata: kezaliman, politik adu domba, kerakusan oligarki, hingga serbuan Tenaga Kerja Asing China merampok hasil bumi Indonesiaโsemua itu perlahan mengikis kepercayaan publik ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ถ ๐ป๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ.
๐๐ญ๐ข ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ญ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ,
Saat fajar 2026 menyingsing, marilah bermuhasabahโmembersihkan hati dan kembali menjahit persatuan nyaris koyak, demi negeri lebih waras dan beradab.
๐๐ ๐๐๐ฌ๐๐ฆ๐๐๐ซ ๐๐๐๐
