Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ingin menyelami samudra ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท? Tanggalkan dulu ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ akal di laci meja. Masuklah ke dalam ๐ค๐ฐ๐ค๐ฌ๐ฑ๐ช๐ต iman membawa ketelanjangan jiwa seutuhnya!
Peristiwa ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท bukanlah sekadar rute domestik MakassarโJeddah, melainkan sebuah ๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ค๐ข๐ญ ๐๐ข๐ฌ๐ฆ-๐ฐ๐ง๐ง tunggal dalam sejarah kenabian.
Lepas landas ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท berlangsung sunyiโtanpa bunyi, tanpa saksi mataโnamun sanggup menghancurkan seluruh ๐ช๐ฏ๐ด๐ต๐ณ๐ถ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ญ nalar hingga berkeping-keping.
Sehebat apa pun intelektualitas manusia, ia akan seketika mengalami ๐๐ฐ๐ด๐ด ๐ฐ๐ง ๐๐ฐ๐ฏ๐ต๐ณ๐ฐ๐ญ (LOC); gagal membedah fenomena ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท melalui pisau analisis riset.
Hanya ‘komunitas’ Abu Bakar Ash-Shiddiq lulus dalam ujian frekuensi ini. Andai kita hadir saat itu, bisa dipastikan tergolong gagal juga; sebab terlalu mendewakan nalar sebagai satu-satunya mercusuar kebenaran dan hanya percaya jika telah melihat wujudnya.
๐๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ ๐ ๐ข๐ฌ๐ข๐ค๐ ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐จ๐ง๐๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ต๐ข๐ญ๐ญ
Israโ Mi’raj sering dianggap tidak logis lantaran akal mengalami ๐๐ต๐ข๐ญ๐ญโkehilangan daya angkatโsaat mencoba memahami perjalanan menembus tujuh petala langit hingga Sidratul Muntaha. Terus melambung ke puncak segala puncak; sebuah cakrawala transendental tak lagi terjangkau radar kata-kata maupun nalar manusia.
Mampukah jasad terikat gravitasi melakukan ๐๐บ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฐ๐ฏ๐ช๐ค ๐๐ฑ๐ฆ๐ฆ๐ฅ menembus atmosfer dalam sekejap mata? Terjadi paradoks fisik kala bantal masih menyisakan hangat tubuh, namun Sang Nabi SAW telah mendarat kembali di ๐ข๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฏ landasan pacu bilik sucinya.
Secara interdimensional, akal sulit menjangkau momen ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท kala Rasulullah SAW menjadi ๐๐ญ๐ช๐จ๐ฉ๐ต ๐๐ฆ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ณโmengimami ruh para Nabi dalam dimensi berbeda. Perjumpaan lintas alam ini berada jauh di luar jangkauan instrumen nalar manusia.
Di sinilah ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท membenturkan logika materialistik pada tembok kemustahilan secara keras. Instrumen nalar menggugat: mampukah jasad menembus langit tanpa terbakar gesekan udara.
Namun, semesta menjawab melalui otoritas mutlak Sang Pemilik Langit: hukum alam hanyalah ๐๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ฅ ๐๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐๐ณ๐ฐ๐ค๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ฆ (SOP) pemicu keteraturanโia dapat diubah kapan saja sesuai kehendak Sang Pilot Agung.
๐๐ญ๐ช๐ฏ๐ฅ ๐๐ญ๐บ๐ช๐ฏ๐จ: ๐๐๐ซ๐๐๐ง๐ ๐๐ข ๐๐ญ๐๐ฌ ๐๐๐ ๐๐ฅ๐๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ฅ๐๐ฆ
Mengapa misi luar angkasa dahsyat ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท justru diselimuti kegelapan malam pekat? Mengapa bukan siang benderang agar preman-preman Jahiliyah terperangah melihatnya?
Ingatlah sejarah. Tongkat Musa AS yang berubah wujud menjadi ular atau api Ibrahim AS yang mendingin adalah mukjizat visual. Begitu pun Nabi Isa AS yang menghidupkan mayat di depan mata kaumnya.
Sayangnya, meski dipapar bukti kasat mata, umat terdahulu belum sepenuhnya menaruh yakin. Mereka tetap terbelenggu keraguan meski keajaiban hadir tepat di depan hidung.
Namun, ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท adalah ๐๐ญ๐ช๐ฏ๐ฅ ๐๐ญ๐บ๐ช๐ฏ๐จ tanpa saksi seorang pun. Di sini iman diuji agar tetap ๐๐ฐ๐ค๐ฌ๐ฆ๐ฅ meski tanpa referensi visual atau rekaman video.
Iman adalah ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ hati penangkap sinyal kebenaran di tengah kebisingan keraguan. Umat Rasulullah SAW meyakini ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท tanpa harus menyaksikan petualangan Nabinya secara empiris.
Inilah kasta tertinggi dunia penerbangan spiritual: percaya sepenuhnya pada ๐๐ต๐ฐ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ด ๐๐ข๐ท๐ช๐จ๐ข๐ด๐ช Langit meski mata lahiriah tertutup kabut tebal.
๐๐ช๐ด๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ ๐๐ฐ๐ฏ๐ต๐ณ๐ฐ๐ญ ๐๐๐ง ๐๐ซ๐จ๐ค๐ฅ๐๐ฆ๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ก๐ฆ๐๐ญ
Ketidaklogisan ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท memuncak pada fragmen โnegosiasiโ jumlah shalat. Apakah ๐๐ช๐ด๐ด๐ช๐ฐ๐ฏ ๐๐ฐ๐ฏ๐ต๐ณ๐ฐ๐ญ Langit tidak tahu batas kemampuan hamba hingga harus terjadi ๐๐ฐ๐ญ๐ฅ ๐๐ฐ๐ด๐ช๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ?
Tentu tidak. Diskon ibadah dalam ๐๐๐ฟ๐ฎโ ๐ ๐ถโ๐ฟ๐ฎ๐ท tersebut adalah proklamasi rahmat mendahului sebuah beban. Bayangkan jika lima puluh frekuensi shalat sehari semalam dipatok sebagai flight plan wajibโ ๐๐ข๐ฏ๐ณ๐ข๐ด๐ข-๐ฏ๐ชโ, ๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ข๐ต๐ต๐ข ๐๐ฐ๐ฏ๐บ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ.
Kita pasti kehilangan napas hanya untuk shalat melulu. Jiwa akan mengalami ๐๐ช๐ญ๐ฐ๐ต ๐๐ข๐ต๐ช๐จ๐ถ๐ฆ (kelelahan hebat) dan raga tersungkur kepayahan akibat jadwal “terbang” spiritual yang terlalu padat.
Kontras sekali dengan Baginda Nabi SAW yang justru dengan sukarela shalat malam hingga bengkak kakinya karena lamanya berdiri, serta bengkak matanya akibat menangis dalam sujud. Sementara kita? Jika mata bengkak, itu bukan karena menangis dalam shalat, melainkan ๐๐ข๐ญ๐ฆ๐ซ๐ซ๐ถโ ๐๐ช๐ฏ๐ณ๐ฐ.
๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ 2
๐๐ ๐๐๐ง๐ฎ๐๐ซ๐ข ๐๐๐๐ (๐๐)
