Oleh: Muslimin Mawi
Aktivis, dan Pemerhati Organisasi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan Saudagar Bugis–Makassar (PSBM) merupakan forum ekonomi berbasis kultural yang telah berlangsung sejak tahun 1993 dan berperan sebagai wadah konsolidasi pengusaha perantau asal Sulawesi Selatan. Dalam perjalanannya, PSBM tidak hanya berfungsi sebagai sarana silaturahmi pasca-lebaran (Idul-fitri), tetapi juga berkembang menjadi instrumen penguatan jejaring usaha, pertukaran pengalaman bisnis, serta ruang perumusan gagasan strategis terkait pembangunan ekonomi daerah. Dengan memandang PSBM sebagai sebuah ekosistem, tulisan ini bertujuan melakukan refleksi kritis atas capaian dan keterbatasan PSBM selama lebih dari tiga dekade, mengidentifikasi tantangan struktural dan kontekstual yang dihadapi, serta merumuskan arah baru pengembangannya agar lebih adaptif, inklusif dan berkelanjutan dalam merespons dinamika ekonomi global dan tuntutan regenerasi saudagar Bugis–Makassar.
Pendahuluan
PSBM lahir dari tradisi panjang perantauan masyarakat Sulawesi Selatan, sebuah tradisi yang menempatkan keberanian, kerja keras dan kecakapan membaca peluang sebagai modal utama kehidupan. Sejak pertama kali digelar pada tahun 1993, PSBM telah menjadi ruang temu strategis bagi para saudagar Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Massenrempulu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Selama lebih dari tiga dekade, PSBM menjelma sebagai simbol keberhasilan diaspora Sulawesi Selatan dalam membangun jaringan ekonomi lintas wilayah, lintas sektor dan lintas generasi.
Namun demikian, dunia yang melahirkan PSBM pada awal 1990-an bukanlah dunia yang sama dengan realitas ekonomi hari ini. Digitalisasi, disrupsi teknologi, perubahan pola bisnis, serta meningkatnya kompetisi global menuntut PSBM untuk melakukan refleksi mendalam atas peran dan orientasi strategisnya. Tanpa refleksi dan pembaruan, PSBM berisiko terjebak sebagai agenda rutin yang bersifat seremonial, besar dalam pertemuan, namun terbatas dalam dampak. Oleh karena itu, transformasi PSBM menjadi instrumen strategis pembangunan ekonomi kolektif menjadi sebuah keniscayaan.
PSBM sebagai Modal Sosial dan Ekonomi
Dalam perspektif teoritik, PSBM dapat dipahami sebagai bentuk social capital (modal sosial) yang menghubungkan aktor-aktor ekonomi melalui kesamaan identitas kultural dan ikatan emosional sebagai sesama perantau. Nilai-nilai siri’ na pacce, solidaritas dan etos kerja keras menjadi fondasi moral yang memperkuat kohesi di antara para saudagar Bugis–Makassar.
Secara empiris, PSBM telah memberikan kontribusi nyata, antara lain:
Memperluas jejaring bisnis antar pengusaha Bugis–Makassar;
Mendorong arus investasi ke Sulawesi Selatan;
Menggerakkan ekonomi lokal, khususnya sektor perhotelan, kuliner dan jasa;
Memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab perantau terhadap
pembangunan daerah asal.
Capaian tersebut menegaskan bahwa PSBM menempati posisi strategis sebagai simpul penghubung antara modal ekonomi, modal sosial dan modal budaya, yang jika dikelola secara tepat dapat menjadi kekuatan pembangunan yang berkelanjutan.
Tantangan dan Ruang Kritis PSBM
Meski memiliki sejarah panjang dan kontribusi yang tidak kecil, PSBM tidak luput dari tantangan struktural. Salah satu persoalan mendasar adalah belum optimalnya mekanisme tindak lanjut atas hasil-hasil diskusi PSBM. Rekomendasi yang dihasilkan kerap berhenti pada tataran wacana, tanpa diterjemahkan menjadi program kerja konkret yang terukur dan berkesinambungan di wilayah masing-masing.
Di samping itu, terdapat jarak generasional yang masih terasa kuat. PSBM relatif didominasi oleh pengusaha senior, sementara keterlibatan generasi muda, terutama pelaku startup dan bisnis berbasis teknologi, belum sepenuhnya terintegrasi secara sistematis. Padahal, lanskap ekonomi global saat ini menuntut penguasaan teknologi digital, inovasi, serta kemampuan adaptasi yang cepat.
Pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah:
Apakah PSBM telah berfungsi sebagai ruang regenerasi saudagar Bugis–Makassar, atau justru masih berkutat pada reproduksi jejaring lama tanpa strategi kaderisasi yang jelas?
PSBM dalam Perspektif Transformasi
Ke depan, PSBM dituntut untuk bergeser dari sekadar forum pertemuan tahunan menuju ekosistem pengembangan usaha. Transformasi ini mensyaratkan perubahan paradigma, dari event-oriented menuju outcome-oriented. PSBM perlu diposisikan sebagai laboratorium gagasan, inkubator kolaborasi dan katalis pertumbuhan ekonomi kolektif yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern.
Momentum penting dalam proses transformasi ini adalah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS). Dalam sejarah penyelenggaraan PSBM, kepemimpinan Andi Amran menandai pertama kalinya PSBM dilaksanakan di bawah kepemimpinan Ketua Umum BPP KKSS yang juga dikenal sebagai figur nasional dengan rekam jejak kuat di bidang kewirausahaan dan ketahanan pangan. Kondisi ini membuka peluang besar bagi PSBM untuk naik kelas, dari forum konsolidasi saudagar menjadi kekuatan strategis yang memiliki daya pengaruh kebijakan dan dampak ekonomi nyata.
Rekomendasi Strategis PSBM ke Depan
1. Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola
PSBM perlu ditopang oleh kelembagaan yang bekerja sepanjang tahun melalui pembentukan sekretariat permanen, tim monitoring dan evaluasi, serta basis data terpadu pengusaha Bugis–Makassar lintas sektor dan wilayah.
2. PSBM sebagai Ekosistem Pengembangan Pengusaha
PSBM harus berkembang menjadi platform pengembangan usaha melalui program business matching terstruktur, kemitraan antar skala usaha, serta kolaborasi investasi berbasis klaster sektor unggulan Sulawesi Selatan.
3. Kaderisasi dan Inkubasi Entrepreneur Muda
Regenerasi harus menjadi agenda strategis dengan pembentukan PSBM Muda, program mentoring lintas generasi, serta inkubator bisnis dan startup berbasis teknologi dan ekonomi kreatif.
4. Integrasi Teknologi dan Ekonomi Digital
PSBM perlu merespons era teknologi tinggi dengan pemanfaatan platform digital, diskursus serius tentang AI, fintech, blockchain dan industri 4.0, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pusat riset.
5. PSBM sebagai Mitra Strategis Pembangunan Daerah
PSBM harus diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah daerah melalui sinkronisasi rekomendasi dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), penyusunan policy brief, dan fokus pada investasi yang berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja.
6. Internasionalisasi Jejaring Saudagar Bugis–Makassar
PSBM perlu memperkuat jejaring global dengan mengintegrasikan diaspora luar negeri, mendorong ekspor produk unggulan Sulawesi Selatan dan membuka akses pasar internasional.
Penutup Reflektif
PSBM bukan sekadar pertemuan tahunan, melainkan amanah sejarah dan kebudayaan. Masa depannya ditentukan oleh keberanian untuk berbenah, bertransformasi dan melampaui nostalgia. Dengan kepemimpinan KKSS yang kuat, keterlibatan generasi muda, serta orientasi yang jelas pada hasil dan keberlanjutan, PSBM memiliki peluang besar untuk menjelma sebagai ekosistem ekonomi kolektif yang berakar pada nilai budaya Bugis–Makassar, namun berpijak teguh pada masa depan.
Eramas 2000, 02 Februari 2026
Penulis, Aktivis dan Pemerhati Organisasi
