Penulis : Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada masa ketika angka tidak lagi sekadar hitungan, melainkan menjelma menjadi penanda zaman. Ia bukan hanya statistik dingin di lembar laporan, tetapi denyut yang menyimpan kerja, doa, dan harapan. Tahun 2026 memberi kita satu penanda itu: 23–4–5. Tanggal 23 bulan 4, ketika angka 5 juta ton stok beras dicapa. Sebuah capaian yang terasa nyaris mustahil pada masa-masa sebelumnya.
Mungkin benar, ini terdengar seperti “cocoklogi”. Namun bukankah manusia memang merawat ingatan melalui simbol? Kita mengikat peristiwa pada angka, pada tanggal, agar sejarah tidak mudah menguap. Dan 23–4–5, dengan kesederhanaannya, menjadi cara kita mengingat bahwa bangsa ini pernah berdiri tegak di hadapan tantangan pangan, lalu menjawabnya dengan kerja kolektif.
Tidak ada yang kebetulan dalam capaian sebesar ini. Ia adalah akumulasi dari waktu yang panjang—dari musim yang tak selalu ramah, dari tanah yang tak selalu subur, dari kebijakan yang terus diuji, dan dari ketekunan yang tidak pernah berhenti. Di balik angka 5 juta ton itu, ada perjalanan yang berlapis: perencanaan, distribusi, intervensi kebijakan, hingga keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian global.
Kita patut memberi apresiasi kepada kepemimpinan di sektor pertanian, khususnya kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan seluruh jajaran kementerian yang telah mengorkestrasi upaya ini. Negara hadir, bukan sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai penggerak. Program berjalan, koordinasi diperkuat, dan arah kebijakan dipertajam.
Sejarah juga mengingatkan dan selalu lebih jujur memotret hingga di paling ujung capaian ini. Dimana pada titik paling bawah sejarah ini ditopang oleh mereka yang jarang disebut panjang lebar yaitu para petani.
Sekitar 115 juta jiwa yang hidup dari, dengan, dan untuk tanah. Mereka yang bangun sebelum matahari menampakkan diri, yang membaca langit seperti buku yang tak pernah selesai ditulis, yang memahami tanah bukan sekadar lahan, tetapi ruang hidup yang diwariskan. Di tangan merekalah benih menjadi harapan, dan harapan menjadi kenyataan.
Di antara mereka, ada jugabl penyuluh yang setia menjembatani ilmu dan praktik. Ada kearifan lokal yang tidak tercatat dalam jurnal ilmiah, tetapi terbukti menjaga keseimbangan alam selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ada kesabaran yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun untuk menunggu panen, menerima gagal, lalu menanam kembali.
Maka 5 juta ton itu bukan sekadar angka stok. Ia adalah kristalisasi dari kerja yang sungguh-sungguh
,dari keringat yang jatuh tanpa tepuk tangan, dari keyakinan bahwa tanah Indonesia masih bisa memberi.
Namun sejarah tidak berhenti pada capaian. Ia justru memulai tanggung jawab baru.
Angka 23–4–5 seharusnya tidak hanya kita kenang, tetapi juga kita maknai.
Bahwa kecukupan pangan bukan alasan untuk abai. Bahwa beras yang melimpah bukan legitimasi untuk boros. Justru di sinilah ujian berikutnya yakni bagaimana kita menjaga, memanfaatkan, dan menghormati hasil ini.
Bijak dalam konsumsi menjadi bagian dari etika kebangsaan. Tidak menyia-nyiakan makanan bukan sekadar ajaran moral, tetapi bentuk penghormatan pada jutaan tangan yang bekerja di balik setiap butir nasi. Setiap nasi yang terbuang, sesungguhnya adalah potongan kecil dari kerja keras yang diabaikan.
Kita juga diingatkan untuk terus merawat sistem yang telah membawa kita ke titik ini. Ketahanan pangan bukan proyek sesaat, melainkan ekosistem yang harus dijaga. Mulai dari kebijakan yang adaptif, teknologi yang tepat guna, hingga regenerasi petani yang kian mendesak.
Pada akhirnya, 23–4–5 adalah lebih dari sekadar permainan angka. Ia adalah simpul ingatan kolektif bahwa pada suatu hari di bulan April 2026, bangsa ini pernah mencapai sesuatu yang besar bersama-sama.
Dan mungkin, di masa depan, ketika angka itu kembali disebut, kita tidak hanya mengingat berapa ton beras yang tersimpan. Kita akan mengingat siapa saja yang membuatnya sejarah itu. Petani yang tekun, penyuluh yang setia, negara yang bekerja, dan masyarakat yang belajar menghargai.
Karena sejarah terbaik bukan hanya yang dicapai, tetapi yang terus dijaga maknanya. Selamat !
Muliadi Saleh:
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”
