Oleh Muliadi Saleh, Anggota ST-88
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai teman kuliah, semasa di bangku akademik, di kalangan kampus di Fakultas Pertanian -Kehutanan Unhas, Andi Amran Sulaiman memiliki panggilan istimewa, panggilan khusus yang sederhana namun mengikat dan sarat makna: Jenderal 88.
“Jenderal” adalah simbol kepemimpinan—ketegasan dalam arah, keberanian dalam keputusan.
Sementara “88” adalah jejak waktu. Angkatan 1988 yang menempa kami dalam satu ruang, satu bangku kuliah, satu mimpi, satu persahabatan dan satu tekad bersama.
Dari persahabatan itu, kami berhimpun dalam sebuah komunitas yang solid: Sahabat Tani (ST-88)—bukan sekadar kumpulan alumni, tetapi ruang persahabatan yang tumbuh dari tanah, dari ilmu, dan dari cita-cita yang sama.
Maka, izinkan kami, di hari istimewa ini, Hari Ulang Tahun Beliau, kami mengucapkan kebanggaan, penghormatan, ketulusan dan rasa syukur disertai doa terbaik melalui tulisan terbuka ini. Ijinkan kami menyapa beliau dengan penuh hormat, pengakuan, dan kebanggaan: Sang Jenderal 88.
Sahabatku, Sang Jenderal 88,
Di antara deretan tanggal dalam kalender kehidupan, 27 April datang bukan sekadar sebagai penanda usia. Ia adalah pengingat tentang perjalanan, tentang tanah yang digarap dengan kesungguhan, dan tentang mimpi yang ditanam jauh sebelum ia menjelma menjadi kebijakan negara.
Sang Jenderal lahir dari rahim kebudayaan Bugis. Ditempah di kampus Merah Unhas, di tanah “,Ayam Jantan dari Timur” dengan nilai-nilai Sultan Hasanuddin yang menjadikan kerja keras sebagai nafas kehidupan. Dari tanah itu, Sang Jenderal 88 tumbuh bukan hanya sebagai ‘anak kampung’ yang akrab dengan lumpur sawah, tetapi juga sebagai ilmuwan yang menapaki jenjang pendidikan hingga doktoral di bidang pertanian. Seolah sejak awal, jalan hidupnya telah ditulis untuk kembali ke tanah—bukan hanya mengolahnya, tetapi menjaganya sebagai sumber kehidupan bangsa. Dan kini sebagai Menteri Pertanian RI.
Sebagai bagian dari ST-88, kami mengenal dan bersahabat dalam simpul semesta pertemanan, tempat idealisme tumbuh tanpa banyak suara. Di sana, kita belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang melawan, tetapi tentang bertahan dalam sunyi, menjaga arah ketika dunia sibuk berbelok.
Hari ini, Sang Jenderal 88 berdiri sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia. Sebagai fase pengabdian yang lebih matang, lebih teruji, dan lebih dalam maknanya. Dalam dunia yang menghadapi tantangan pangan global, peran itu bukan sekadar jabatan melainkan sebagai amanah peradaban.
Pertanian, kita tahu, bukan sekadar soal produksi. Ia adalah titik temu antara ilmu, kebijakan, dan harapan rakyat kecil. Di tangan Sang Jenderal 88, kita melihat ikhtiar yang sungguh-sungguh, menjaga cadangan, dan meneguhkan kembali swasembada, menjaga peradaban pangan Negeri Agraris ini. Namun lebih dari angka-angka itu, yang paling penting adalah keyakinan yang terus dijaga bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas pangannya sendiri.
Sahabatku, “Sang Jenderal 88”,
Ada satu hal yang selalu kami banggakan tentang Sang Jenderal. Beliau tidak pernah melupakan sahabat – sahabat dan asalnya. Bahkan ketika berdiri di pusat kekuasaan, jejak kampung tetap hidup dalam cara berpikir—tentang petani, tentang tanah, tentang musim yang tak selalu bisa ditebak.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sejatinya.
Di usia yang terus bertambah ini, semoga Sang Jenderal 88 tidak hanya semakin kokoh dalam jabatan, tetapi juga semakin jernih dalam memaknai perjalanan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa lama kita berada di puncak, tetapi seberapa dalam jejak itu memberi arti bagi kehidupan banyak orang.
Selamat ulang tahun, Sahabat yang kami banggakan, Sang Jenderal 88.
Semoga langkahnya tetap tegak di antara badai, tetap bijak di hadapan tanah, dan tetap setia pada panggilan dan tantangan. Tetap menjadi inspirasi untuk bangsa dan negeri ini. Dan satu hal yang pasti, KAMI ST-88 akan selalu bersama mendukung dan menjadi sahabat Sang Jenderal 88.
Kami percaya, bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar selesai—
ia hanya berpindah dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang, dan dari medan juang ke medan juang berikutnya. Kami yakin di pundak Sang Jenderal, kami semua dan negeri ini akan mampu melewatinya.
Sekali lagi, BARAKALLAH FII UMRIK, SELAMAT ULANG TAHUN SANG JENDERAL…!!! Sehat dan Semangat dan Bahagia Selalu. Amin.
Muliadi Saleh
Anggota ST-88
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
