Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi alumninya, Universitas Hasanuddin bukan sekadar tempat menimba ilmu. Ia adalah rahim peradaban, di mana cara berpikir dibentuk, nilai ditanamkan, dan arah hidup mulai dipahami. Titik awal yang diam-diam terus bekerja di dalam diri, dalam keputusan-keputusan kecil, dalam keberanian mengambil sikap, dalam cara memandang dunia. Bagi banyak alumni, Unhas adalah ingatan yang hidup lewat makna yang ditinggalkannya.
Jiika makna itu hanya sebagai kenangan, ia akan mengendap menjadi nostalgia. Ia hangat, tetapi tidak menggerakkan. Di sinilah arti Unhas bagi alumni perlu naik tingkat. Dari kebanggaan menjadi panggilan. Bahwa apa yang pernah diberikan kampus bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilanjutkan dalam kerja, dalam pengabdian, dalam keberanian menghadirkan solusi bagi persoalan nyata negeri.
Sebaliknya, arti alumni bagi Unhas bukan sekadar daftar nama lulusan atau angka dalam statistik. Alumni adalah wajah hidup kampus di luar temboknya. Mereka adalah bukti berjalan dari kualitas pendidikan, sekaligus jembatan antara dunia akademik dan realitas. Dalam diri alumni, Unhas menjelma menjadi tindakan. Menjadi kebijakan, inovasi, karya, dan keberpihakan.
Jika kampus adalah rahim, maka alumni adalah anak kebanggaan.
Jika kampus adalah api, maka alumni adalah cahaya yang menyebar.
Agar keduanya berkontribusi nyata bagi negeri, relasi ini tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni. Ia harus menjadi ekosistem yang hidup. Kampus perlu membuka diri. Menjadikan alumni sebagai mitra strategis dalam riset, inovasi, dan pengabdian. Sementara alumni perlu kembali dengan kesadaran membawa pengalaman, jejaring, dan kapasitas untuk memperkuat kampus sekaligus menjawab tantangan bangsa.
Kontribusi nyata lahir dari pertemuan dua kesadaran yakni kampus yang rendah hati untuk terus belajar dari realitas, dan alumni yang cukup jernih untuk tidak melupakan asalnya.
Dalam kedalaman makna, hubungan ini bukan sekadar institusional, tetapi eksistensial. Seperti kata sang Sufi Jalaluddin Rumi, “Mengapa engkau begitu sibuk dengan dunia luar, padahal sumbermu ada di dalam?” Mungkin, negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan keterhubungan antara ilmu dan amal, antara kampus dan kehidupan nyata.
Di situlah Unhas dan alumninya menemukan perannya sebagai jembatan.
Mengalirkan pengetahuan menjadi kebijakan, mengubah gagasan menjadi tindakan, dan menerjemahkan idealisme menjadi keberpihakan pada rakyat.
Karena pada akhirnya, arti Unhas bagi alumni adalah asal yang memberi arah.
Dan arti alumni bagi Unhas adalah masa depan yang memberi makna.
Jika keduanya saling menghidupi, maka kontribusi bagi negeri bukan lagi slogan,
melainkan kenyataan yang tumbuh—pelan, dalam, tetapi pasti.
____________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
