Oleh: Baharuddin Solongi
(Konsultan Tata Kelola Pemerintahan & Dewan Pengawas Yayasan Tociung Luwu Universitas Andi Djemma)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin keras, perguruan tinggi swasta (PTS) sesungguhnya sedang menghadapi ujian sejarah yang tidak ringan. Mereka tidak hanya dituntut mencetak lulusan, tetapi juga dipaksa bertahan di tengah perubahan teknologi, tekanan ekonomi, penurunan angka kelahiran, dan pergeseran perilaku generasi muda.
Banyak orang masih memandang ukuran kemajuan kampus hanya dari megahnya gedung, banyaknya mahasiswa, atau ramai-spanduk promosi penerimaan mahasiswa baru. Padahal, ukuran utama kemajuan perguruan tinggi sesungguhnya terletak pada kualitas tata kelola, kekuatan budaya akademik, dan kemampuan institusi membaca masa depan.
Di sinilah persoalan besar banyak PTS di Indonesia muncul: tumbuh secara fisik, tetapi belum sepenuhnya berkembang sebagai organisasi modern.
Sebagian besar PTS lahir dari idealisme. Ada yang didirikan oleh tokoh pendidikan, organisasi sosial, yayasan keagamaan, maupun kelompok masyarakat yang memiliki kegelisahan terhadap minimnya akses pendidikan tinggi di daerah. Dalam fase awal ini, kampus biasanya bertumpu pada pengorbanan pendiri. Semangatnya besar, tetapi sistemnya masih sederhana.
Karena itu, pada tahap perintisan, kampus sering kali sangat bergantung pada figur sentral. Pendiri menjadi pemilik gagasan, penggerak utama, sekaligus pengambil keputusan. Situasi ini sebenarnya wajar pada tahap awal. Namun masalah muncul ketika organisasi tidak segera bertumbuh menjadi sistem yang sehat.
Tidak sedikit PTS yang akhirnya terjebak menjadi “kampus keluarga”, bukan institusi akademik modern. Pengelolaan berjalan berdasarkan kedekatan personal, bukan profesionalisme. Kritik dianggap ancaman. Regenerasi kepemimpinan macet. Akibatnya, organisasi sulit berkembang meskipun usia kampus sudah puluhan tahun.
Padahal, dalam teori perkembangan organisasi, setiap institusi memiliki siklus hidup: lahir, tumbuh, matang, lalu bertransformasi atau menurun. Kampus yang sehat adalah kampus yang mampu melewati setiap fase dengan perubahan tata kelola yang semakin baik.
Ketika jumlah mahasiswa mulai meningkat, sesungguhnya PTS memasuki fase paling rawan: fase pertumbuhan. Pada tahap ini, banyak kampus merasa dirinya sudah besar karena gedung mulai bertambah dan mahasiswa mulai ramai. Namun justru di fase inilah banyak organisasi mengalami krisis internal.
Pertumbuhan yang tidak diiringi penguatan sistem hanya akan melahirkan organisasi yang tampak besar dari luar, tetapi rapuh di dalam. Administrasi mulai kacau, konflik antarunit meningkat, kualitas pelayanan tidak stabil, dan orientasi akademik perlahan bergeser menjadi sekadar orientasi bisnis.
Fenomena “growth without system” inilah yang kini banyak dialami sebagian PTS. Mereka tumbuh cepat, tetapi tata kelolanya tertinggal.
Padahal dunia pendidikan tinggi saat ini telah berubah total. Kampus tidak lagi cukup hanya mengandalkan reputasi historis atau romantisme masa lalu. Generasi muda sekarang memilih kampus secara lebih rasional: apakah lulusannya mudah bekerja, apakah kampusnya adaptif terhadap teknologi, apakah pelayanan akademiknya cepat, dan apakah lingkungan belajarnya relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, fase terpenting dalam perkembangan PTS sebenarnya adalah transformasi kelembagaan. Kampus harus berani berubah dari organisasi berbasis figur menjadi organisasi berbasis sistem. Dari budaya “perintah” menuju budaya profesionalisme. Dari pola tertutup menuju tata kelola transparan dan kolaboratif.
Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji.
Pemimpin perguruan tinggi modern tidak cukup hanya pandai berbicara tentang visi besar. Ia harus mampu membangun budaya kerja, menciptakan regenerasi sehat, memperkuat mutu akademik, dan menghadirkan rasa percaya di dalam organisasi. Kampus yang sehat bukan kampus yang bebas konflik, tetapi kampus yang mampu mengelola perbedaan secara dewasa.
Selain itu, PTS juga harus memahami bahwa persaingan pendidikan tinggi ke depan tidak lagi bersifat lokal. Teknologi digital telah mengubah peta kompetisi. Mahasiswa sekarang bisa belajar dari mana saja, bahkan dari platform global. Artinya, kampus yang lambat berubah perlahan akan ditinggalkan.
Kita mulai melihat tanda-tanda itu. Banyak PTS mengalami penurunan mahasiswa, bukan semata karena faktor ekonomi masyarakat, tetapi karena mereka gagal membaca perubahan sosial. Mereka terlalu sibuk mempertahankan cara lama ketika dunia sudah bergerak ke arah baru.
Kampus masa depan bukan lagi kampus yang paling besar gedungnya, melainkan yang paling cepat beradaptasi. Kampus yang mampu mengintegrasikan teknologi, membangun jejaring industri, memperkuat riset terapan, dan menghadirkan pengalaman belajar yang relevan.
Karena itu, perguruan tinggi swasta harus berhenti merasa cukup hanya dengan bertahan hidup. Mereka harus mulai berpikir tentang keberlanjutan institusi jangka panjang. Sebab sejarah menunjukkan, organisasi yang tidak mau berubah sesungguhnya sedang berjalan menuju kemunduran.
Pada akhirnya, perguruan tinggi swasta tidak boleh sekadar menjadi tempat kuliah. Ia harus menjadi pusat peradaban kecil yang melahirkan manusia berpengetahuan, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
PTS lahir karena idealisme. Ia tumbuh karena manajemen. Tetapi ia hanya akan bertahan lama bila memiliki keberanian untuk terus bertransformasi. (*)
