Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, terdengar menantang sekaligus menggugah: “Kalau mau jadi konglomerat, masuklah ke sektor pertanian.”
Pernyataan itu menghadirkan  kenyataan tentang potensi sumberdaya ekonomi yang sering luput dari perhatian. Masih ada masyarakat memandang pertanian sebagai sektor tradisional yang tak menjanjikan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak kerajaan bisnis besar justru tumbuh dari tanah, pangan, dan hasil-hasil pertanian.
Sebelum manusia mengenal kecerdasan buatan, aplikasi digital, dan pasar modal modern, manusia lebih dahulu mengenal benih. Sebelum berdiri gedung-gedung pencakar langit, telah lebih dahulu berdiri ladang-ladang yang menopang kehidupan. Karena itu, mereka yang mampu mengelola pangan sesungguhnya sedang mengelola kebutuhan paling mendasar umat manusia.

Jika kita menelusuri jejak para konglomerat Indonesia, banyak di antaranya bertumbuh melalui perkebunan sawit, karet, kakao, tebu, kehutanan, perikanan, peternakan, hingga industri makanan dan minuman. Mereka tidak sekadar menjual hasil panen, tetapi membangun rantai bisnis dari hulu hingga hilir.
Pertanian memang bukan hanya soal menanam. Di dalamnya terdapat industri benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, pengolahan hasil, distribusi, ekspor, hingga industri pangan modern. Nilai tambah terbesar bahkan sering kali lahir setelah panen selesai.
Inilah yang membuat sektor pertanian memiliki daya ungkit ekonomi yang luar biasa.

Indonesia sesungguhnya memiliki hampir semua syarat untuk menjadi kekuatan pertanian dunia. Iklim tropis, sinar matahari sepanjang tahun, curah hujan yang relatif memadai, keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, serta pasar domestik yang besar merupakan modal yang tidak dimiliki banyak negara.
Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan ketidakpastian geopolitik, pangan menjadi komoditas strategis. Negara yang mampu menjaga produksi pangan akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat.
Karena manusia bisa menunda membeli mobil baru, tetapi tidak bisa menunda makan.

Saat peluang pertanian semakin besar, minat generasi muda justru belum tumbuh optimal. Banyak yang masih memandang pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan secara ekonomi.
Padahal data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan sekitar 19,37 juta petani milenial atau sekitar 25,61 persen dari total petani Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa satu dari empat petani Indonesia adalah generasi muda. Namun jumlah tersebut masih perlu diperkuat agar regenerasi petani berlangsung berkelanjutan.
Masalahnya mungkin bukan semata pada sektor pertanian, melainkan pada persepsi terhadap pertanian.
Selama bertahun-tahun, banyak anak muda dididik untuk meninggalkan sawah, bukan mengembangkannya. Akibatnya, pertanian sering kehilangan talenta-talenta terbaik yang justru dibutuhkan untuk melakukan transformasi.

Menariknya, banyak orang terkaya dunia juga menaruh perhatian besar pada sektor pertanian.
Pendiri Microsoft, Bill Gates, dikenal sebagai salah satu pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat. Ia berinvestasi pada ribuan hektare lahan produktif yang tersebar di berbagai negara bagian. Bagi Gates, pertanian bukan hanya soal pangan, tetapi juga tentang masa depan keberlanjutan dan ketahanan dunia.
Demikian pula keluarga Walton, pewaris Walmart, yang memiliki investasi luas pada lahan pertanian dan agribisnis. Di Amerika Latin, banyak kelompok usaha besar tumbuh dari bisnis perkebunan dan pangan. Di Asia, konglomerat Thailand melalui Charoen Pokphand Group membangun kerajaan bisnis dari pakan ternak, peternakan, pertanian, hingga industri makanan yang kini beroperasi di berbagai negara.

Hal yang sama terlihat pada banyak miliarder global yang mulai menempatkan investasi pada agritech, teknologi benih, pertanian presisi, hingga industri pangan berkelanjutan. Mereka memahami bahwa populasi dunia terus bertambah, sementara kebutuhan pangan tidak pernah berkurang.

Mereka melihat apa yang sering gagal dilihat banyak orang. Pertanian bukan sektor masa lalu. Pertanian adalah sektor masa depan.

Dakam ekosistem bisnis modern, para petani bukanlah pekerja produksi. Mereka sesungguhnya adalah entrepreneur. Mereka tidak
hanya berbicara tentang panen,  tetapi sedang berbicara tentang hilirisasi, teknologi digital, kecerdasan buatan, rantai pasok global, dan ekonomi hijau.
Oleh sebab itu, saatnya generasi menjadi eksportir pangan, pengembang teknologi pertanian, analis data pertanian, pengusaha pupuk , pendiri startup agritech, atau pengelola perkebunan modern berbasis teknologi. Menjemput dan membawa masa depan pertanian dengan inovasi dan teknologi.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang pertanian sebagai pilihan terakhir. Sebaliknya, pertanian harus ditempatkan sebagai sektor strategis yang mampu melahirkan wirausahawan, inovator, dan konglomerat baru Indonesia.
Karena pada akhirnya, kekayaan terbesar sering kali tidak lahir dari sesuatu yang rumit. Ia tumbuh perlahan dari benih yang ditanam dengan pengetahuan, dirawat dengan ketekunan, dan dipanen dengan kesabaran.
Di sanalah tersimpan rahasia yang sering dilupakan bahwa tanah yang subur tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga melahirkan kemakmuran, membangun bangsa, dan menumbuhkan peradaban.
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.