Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pagi belum benar-benar terjaga ketika seorang petani telah lebih dahulu berdiri di pematang sawah. Embun masih menggantung di ujung daun padi. Kabut tipis masih meraba-raba jalan pulang. Sementara itu, sepasang tangan yang kasar oleh musim telah menancapkan harapan ke dalam lumpur.
Di sanalah saya sering menemukan makna baru bahwa sawah sesungguhnya adalah rumah ibadah yang paling tua dalam sejarah manusia.
Tidak ada kubah yang menjulang. Tidak ada menara yang memecah langit. Tidak ada pengeras suara yang memanggil manusia. Yang ada hanyalah lumpur, benih, air, matahari, dan seorang petani yang bekerja dalam diam. Namun justru dalam suasana itulah berlangsung sebuah ritual kehidupan yang agung.
Setiap ayunan cangkul adalah doa.
Setiap tetes keringat adalah tasbih.
Setiap benih yang ditanam adalah ikhtiar untuk menjaga kehidupan tetap menyala.
Sebelum manusia mengenal gedung-gedung pencakar langit, sebelum pasar saham menentukan arah ekonomi dunia, bahkan sebelum negara-negara modern lahir dengan segala institusinya, petani telah lebih dahulu menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Mereka adalah penjaga dapur peradaban. Mereka memastikan bahwa setiap anak dapat tumbuh, setiap keluarga dapat makan, dan setiap bangsa dapat bertahan.
Karena itu, menanam padi sesungguhnya bukan sekadar aktivitas ekonomi. Ia adalah bentuk ibadah paling purba yang pernah dikenal manusia. Ibadah untuk menyambung nyawa kehidupan.
Ketika seorang petani menanam sebutir benih, ia sedang mempercayakan masa depan kepada tanah. Ia menunggu dengan sabar sesuatu yang tidak dapat dipercepat oleh ambisi. Ia belajar bahwa kehidupan membutuhkan proses, sebagaimana hujan membutuhkan awan dan panen membutuhkan musim.
Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa, petani mengajarkan kebijaksanaan yang nyaris terlupakan: bahwa hasil besar selalu lahir dari kesabaran panjang.
Ironisnya, profesi yang paling dekat dengan sumber kehidupan justru sering menjadi profesi yang paling jauh dari kemakmuran. Mereka yang menghasilkan pangan sering kali kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Mereka yang memberi makan bangsa justru kerap berada dalam lingkaran kerentanan ekonomi.
Di banyak tempat, petani masih berhadapan dengan persoalan klasik: lahan yang semakin sempit, biaya produksi yang meningkat, perubahan iklim yang tidak menentu, akses pasar yang belum adil, serta regenerasi petani yang berjalan lambat. Anak-anak muda tumbuh dengan mimpi menjadi banyak hal, tetapi jarang yang bercita-cita menjadi petani.
Barangkali karena selama iniĀ pertanian masih dipandangĀ hanya sebagai pekerjaan, bukan sebagai kehormatan.
Padahal, jika pangan adalah fondasi kehidupan, maka petani adalah fondasi dari segala fondasi itu sendiri.
Kita mengagumi para insinyur karena membangun jembatan. Kita menghormati dokter karena menyelamatkan pasien. Kita mengapresiasi guru karena mencerdaskan generasi. Semua itu benar adanya. Namun ada satu profesi yang memungkinkan semua profesi tersebut tetap hidup dan bekerja setiap hari: petani.
Sebab tidak ada pembangunan tanpa pangan.
Tidak ada pendidikan tanpa makanan.
Tidak ada kesehatan tanpa kecukupan gizi.
Tidak ada peradaban tanpa pertanian.
Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Petani tidak boleh lagi diposisikan sebagai kelompok pinggiran yang hanya diingat saat harga pangan bergejolak atau ketika musim panen tiba. Mereka harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan bangsa. Kebijakan publik, inovasi teknologi, akses pembiayaan, jaminan harga yang adil, hingga penghormatan sosial harus berpihak kepada mereka yang selama ini menjaga denyut kehidupan dalam sunyi.
Sebab sesungguhnya bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghormati tangan-tangan yang menanam benih kehidupan.
Ketika seorang petani berdiri di tengah sawah, kakinya memang terbenam dalam lumpur. Namun pandangannya sesungguhnya sedang menatap masa depan. Ia sedang menulis kisah tentang keberlanjutan hidup yang kelak dinikmati oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
Mungkin karena itu lumpur di sawah tidak pernah sekadar lumpur. Ia adalah sajadah panjang tempat manusia bersujud melalui kerja. Tempat doa tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan ketekunan. Tempat tasbih tidak dirangkai oleh jemari, melainkan oleh ayunan cangkul yang menanam harapan bagi sesama.
Dan selama masih ada petani yang setia menanam di atas sajadah lumpur itu, selama itu pula nyawa peradaban akan terus tersambung dari musim ke musim, dari generasi ke generasi.
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.
