Oleh: Munawir Kamaluddin

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada satu jenis kebodohan yang lebih berbahaya daripada tidak sekolah. Lebih berbahaya daripada tidak bisa membaca. Bahkan lebih berbahaya daripada ketidaktahuan itu sendiri. Kebodohan itu adalah ketika seseorang merasa dirinya sudah mengetahui segala sesuatu.

Ia tidak mau mendengar. Tidak mau menerima nasihat. Tidak mau mengakui kesalahan. Setiap kritik dianggap serangan. Setiap masukan dianggap penghinaan. Setiap perbedaan dianggap ancaman terhadap harga dirinya.

Ironisnya, kebodohan seperti ini sering kali tidak tinggal di kepala orang yang tidak berilmu. Ia justru bisa bersemayam di balik gelar akademik, jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, bahkan di balik pakaian orang-orang yang tampak terhormat.

Karena itu, ketika Nabi Musa AS. berhadapan dengan kaumnya, beliau tidak sekadar menjawab pertanyaan mereka. Beliau terlebih dahulu memanjatkan sebuah doa yang sangat dalam maknanya:
قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِين
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”(QS. Al-Baqarah: 67)

Kalimat ini tampak sederhana. Namun semakin direnungi, semakin terasa kedalaman maknanya.

Nabi Musa tidak berlindung dari kemiskinan. Tidak pula dari kehilangan jabatan atau kekuasaan. Beliau justru berlindung dari kebodohan. Mengapa?. Karena kebodohan adalah awal dari banyak kehancuran. Kebodohan melahirkan kesombongan. Kesombongan melahirkan penolakan terhadap kebenaran. Dan penolakan terhadap kebenaran pada akhirnya melahirkan kerusakan dalam kehidupan.

Dalam pandangan Islam, jahil tidak selalu berarti tidak tahu. Jahil adalah keadaan ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk tunduk kepada kebenaran meskipun kebenaran itu telah berdiri jelas di hadapannya.

Seseorang bisa memiliki banyak gelar tetapi tetap jahil. Bisa menjadi pemimpin tetapi tetap jahil. Bisa menjadi tokoh masyarakat tetapi tetap jahil. Bahkan bisa menjadi orang yang setiap hari berbicara tentang agama tetapi tetap jahil apabila kesombongan menguasai hatinya. Karena kebodohan yang paling berbahaya bukanlah kebodohan akal, melainkan kebodohan hati.

Hari ini kita hidup di zaman yang unik. Informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan terasa langka. Teknologi semakin canggih, tetapi kedewasaan moral sering kali tertinggal jauh di belakang.

Kita dapat menemukan ribuan nasihat dalam hitungan detik, tetapi semakin sulit menemukan orang yang mau menerima nasihat. Kita dapat mengakses jutaan buku, tetapi semakin banyak manusia yang merasa tidak perlu belajar. Kita dapat berbicara dengan siapa saja di seluruh dunia, tetapi semakin banyak yang kehilangan kemampuan mendengar.

Seolah-olah dunia sedang mengalami paradoks besar, ilmu bertambah, tetapi hikmah berkurang.

Di tengah arus materialisme dan hedonisme yang begitu kuat, ukuran kemuliaan manusia perlahan berubah. Banyak orang tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” tetapi lebih tertarik bertanya, “Apakah ini menguntungkan?”

Yang dicari bukan lagi nilai, melainkan nilai tukar. Yang diprioritaskan bukan lagi integritas, melainkan popularitas. Yang dikejar bukan lagi keberkahan, melainkan keuntungan. Akibatnya, manusia semakin mudah tersinggung ketika dinasihati. Sebab nasihat dianggap mengganggu kenyamanan yang selama ini dibangun oleh ego.

Allah menggambarkan keadaan ini dalam firman-Nya:
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah,’ maka bangkitlah kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahannam, dan sungguh itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. Al-Baqarah: 206)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan modern.Ada orang yang marah bukan karena difitnah, tetapi karena diingatkan. Ada yang tersinggung bukan karena dihina, tetapi karena dikoreksi. Ada yang memutus persaudaraan bukan karena dizalimi, tetapi karena egonya terusik oleh kebenaran.

Padahal, orang yang paling rugi bukanlah mereka yang menerima kritik. Orang yang paling rugi adalah mereka yang kehilangan kesempatan memperbaiki diri karena terlalu sibuk mempertahankan gengsi.

Di sinilah letak keagungan para salafus saleh. Semakin tinggi kedudukan mereka, semakin besar kerendahan hati mereka. Umar bin Khattab r.a., seorang pemimpin besar yang ditakuti musuh-musuh Islam, justru berdoa:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan kepadaku kekurangan-kekuranganku.”

Betapa indah cara pandang ini. Apa yang oleh banyak orang dianggap serangan, justru oleh Umar dianggap hadiah. Apa yang oleh banyak orang dianggap penghinaan, justru beliau pandang sebagai bentuk kasih sayang.

Karena orang yang menunjukkan kesalahan kita sebenarnya sedang membantu kita melihat apa yang tidak mampu kita lihat sendiri. Luka di punggung tidak dapat dilihat oleh mata sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk menunjukkannya. Demikian pula cacat dalam karakter dan akhlak.

Sayangnya, manusia modern sering kali lebih sibuk memperbaiki foto profil daripada memperbaiki dirinya sendiri. Lebih takut kehilangan citra daripada kehilangan integritas. Lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan petunjuk Allah.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa hampir semua kehancuran besar berawal dari kesombongan kecil yang dibiarkan tumbuh.

Iblis terusir dari surga bukan karena kurang ilmu. Ia sangat mengenal Tuhannya. Ia bahkan hidup bersama para malaikat. Namun kesombongan membuatnya menolak kebenaran. Fir’aun bukan tidak mengetahui kebenaran. Ia mengetahuinya, tetapi kekuasaan membuatnya menolak tunduk.

Begitu pula banyak manusia sepanjang sejarah. Yang menghancurkan mereka bukan kekurangan pengetahuan, melainkan keengganan menerima kebenaran.

Karena itu, orang yang benar-benar berilmu tidak pernah merasa dirinya paling tahu. Imam Asy-Syafi’i berkata:
كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ عِلْمًا بِجَهْلِي
“Semakin bertambah ilmuku, semakin bertambah pula kesadaranku akan kebodohanku.”

Inilah tanda ilmu yang hidup. Ilmu yang sejati melahirkan ketawadhuan. Ilmu yang sejati menjadikan seseorang semakin lembut. Ilmu yang sejati membuat seseorang lebih banyak bercermin kepada dirinya daripada sibuk menghakimi orang lain.

Sebab semakin dekat seseorang kepada cahaya, semakin jelas ia melihat debu yang masih menempel pada dirinya. Maka sesungguhnya doa Nabi Musa adalah doa yang sangat relevan untuk zaman ini.

Doa bagi para pemimpin agar tidak mabuk kekuasaan. Doa bagi para akademisi agar tidak sombong dengan ilmunya. Doa bagi para pengusaha agar tidak diperbudak hartanya. Doa bagi para aktivis agar tidak terjebak merasa paling benar. Doa bagi seluruh manusia agar tidak kehilangan akal sehat, hati nurani, dan kemampuan menerima kebenaran.

Karena pada akhirnya, ukuran kemuliaan seseorang bukanlah seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi seberapa rendah hatinya di hadapan Allah.

Bukan seberapa banyak orang yang memujinya, tetapi seberapa lapang dadanya menerima nasihat. Bukan seberapa keras ia berbicara, tetapi seberapa jujur ia mendengar. Dan bukan seberapa luas ilmunya, melainkan seberapa besar ilmu itu mampu melahirkan kebijaksanaan dalam dirinya.

Maka di tengah dunia yang semakin bising oleh ego, semakin gaduh oleh pencitraan, dan semakin sibuk mengejar kemewahan yang fana, marilah kita terus menghidupkan doa Nabi Musa dalam hati kita:
أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Sebab bisa jadi, musuh terbesar manusia bukanlah orang lain yang berada di luar dirinya, melainkan kesombongan yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya. Dan ketika kesombongan itu telah menutup pintu hati, saat itulah ilmu kehilangan cahaya, nasihat kehilangan makna, dan kebodohan mulai menyamar sebagai kebenaran.

#Wallahu A’lam Bishawab🙏
SEMOGA BERMANFAAT
Al-Faqir. Munawir Kamaluddin